Orang-orangan Sawah di Senayan yang Sudah di Luar Kendali
Orang-orangan Sawah di Senayan yang Sudah di Luar Kendali

Orang-orangan Sawah di Senayan yang Sudah di Luar Kendali

MOJOK.COMasa “paceklik” begini, orang-orangan sawah itu tidak hanya di sawah, tapi juga ada di Senayan. Bergerak di luar kendali, menentang petani.

Sudah lah, wis ta, sejatinya kita memang hanya butuh pelampiasan saja kok. Semangkel apapun, toh nantinya kita akan selalu memaafkan. Pada setiap momen jahil Pemerintah dan DPR, sungut-sungut kejengkelan rakyat selalu papasan dengan jawaban: “Salah siapa dulu milih?”

Di obrolan warung kopi sama temen gowes, di medsos dengan akun-akun robot, atau bahkan diingetin sendiri oleh Wakil Ketua DPR RI, Aziz Syamsuddin, “Ya kalau tidak percaya lagi, nanti pada saat pemilu jangan dipilih.”

Terdengar enteng banget, terkesan pernyataan cerdas, dan sekilas simpel. Tiba-tiba semua jadi salah dan begonya rakyat.


Baiklah, kita sama-sama tahu. Dari dulu proses elektoral sudah seperti itu adanya. Tidak ada yang berubah.

Variabel kepercayaan publik tidak pernah rumit. Biar bagaimana buntunya kita mencoba memahami dan mempercayai politik dan politikus, pada akhirnya TPS akan tetap didatangi pemilih.

Kampanye parpol dangdutan pemaparan visi misi tetap ramai, simpatisan bertebaran di tiap pelosok pengkolan, dan kita pun tetap akan membukakan pintu menyambut siapapun yang bertamu. Dengan atau tanpa amplop, kita akhirnya bisa luluh untuk kembali memberi hak suara.

Keahlian rakyat Indonesia dalam memaklumi, memaafkan, dan melupakan ini sudah bagian dari susuk pusaka yang ditanamkan di pangkal dengkul kita oleh para leluhur terdahulu. Kecenderungan untuk mencari kompromi, titik temu, dan persamaan dalam setiap hal baru yang datang dan mencoba masuk sudah menjadi watak dasar bangsa ini.

Baca juga:  Ngeri Sekali Jadi Korban Kekerasan Seksual di Negeri Ini, Minta Keadilan Malah Mentok di Jalur ‘Kekeluargaan’

Kita bisa lihat usai rakyat di-prank habis-habisan saat dua kali pilpres kemarin kok, sampai rela menyebong dan mengkampretkan diri, nafas perjuangan masih tetap panjang untuk bertarung melawan UU KPK, KUHP, dan sekarang Omnibus Law.

Meskipun ujungnya dikacangin juga, tapi yang penting hasrat perjuangan tetap tersalurkan. Jengkel iya, tapi putus asa jelas bukan kita banget. Ada momentum, demo lagi. Meskipun yang didemo (m)budeg akut.

Pokoknya berisik dulu deh, minta didengar dulu. Meskipun tahu, corong-corong mulut kita tidak berarti apa-apa dibanding moncong paku lima tahunan.

Habis bagaimana? Harapan adalah satu-satunya kemewahan yang masih gratis sampai sekarang ini. Jadi ya risikonya, kekecewaan bakalan terus jadi konco kenthel yang harus tetep diakrabi bagi rakyat.

Perilhal pelampiasan ini, saat dirasa mentok menghadapi objek kritik yang tetap lempeng biasa aja, seseorang biasanya akan mencari atau menciptakan orang-orangan sawahnya sendiri. Strawman, manusia jerami, orang-orangan sawah—ah, apapun namanya.

Bayangkan kalian sedang sebel akut sama seseorang. Suatu hari, kalian membuat sebuah orang-orangan sawah ini. Lalian beri nama seperti nama musuh kalian itu, lalu boneka itu kalian pukuli sampai hancur.

Biasanya saat musim panen, orang-orangan sawah akan dibikin sekalian bareng rumah-rumahannya. Puas main sampai gatal, selepas itu bakar. Hati senang. Pikiran pun tenang.

Dan sekarang, di masa “paceklik” begini, orang-orangan sawah itu tidak hanya di sawah, tapi sudah ada dalam acara-acara televisi dan media-media nasional. Memberi kekesalan, pelampiasan, sekaligus hiburan.

Mereka menjadi “hiburan” karena posisi mereka yang sebenarnya justru tidak perlu penting, tapi punya gaji dan tunjangan paling penting dibanding 250 juta rakyat Indonesia lainnya.

Baca juga:  Untuk Prabowo dan Peserta Aksi 22 Mei, Ini Kiblat Belajar Mereka yang Kalah Pemilu

Demi menghabiskan APBN dan duit pajak rakyat mereka diciptakan. Orang-orangan sawah ini hanya medium agar uang negara bisa masuk ke kantong parpol-parpol yang kepengin berkuasa seperti zaman dulu, atau lebih berkuasa dari zaman dulu.

Seperti lewat Omnibus Law kemarin ini, yang digembar-gemborkan sebagai jalan untuk memperlancar investasi dan bisa meningkatkan ekonomi. Pada kenyataannya justru dikritik oleh investor asing karena berisiko tinggi, terutama soal isu lingkungan.

Bahkan kantor berita Rueters mengungkapkan ada 35 investor asing yang kecewa terhadap Omnibus Law ini. Kekecewaan yang menggambarkan dasar kuat, karena tidak cuma satu atau dua, tapi sampai 35 perusahaan asing.


Dari sana saja kita bisa berkesimpulan, klaim UU jadi cara mengundang investasi asing masuk ke Indonesia itu benar-benar rayuan gombal penuh tipu-tipu.

Investor asing saja ogah punya deal dengan Omnibus Law ini, apalagi rakyat yang cuma bakal jadi buruhnya. Lucunya, orang-orangan sawah ini suka bawa-bawa “investasi asing” sebagai bahan kampanye untuk menunjukkan betapa pentingnya undang-undang ini.

Dari kekecewaan ke-35 investor asing itu, pantas saja kecurigaan bermunculan untuk orang-orangan sawah ini. Bahwa jangan-jangan UU ini bukan untuk memudahkan investasi dari luar masuk ke Indonesia, tapi menguntungkan aturan bisnis “teman-teman” orang-orangan sawah itu sendiri yang diputar dari luar Indonesia.

Wajar kemudian kalau akumulasi kemangkelan rakyat hanya punya satu ceruk untuk mengalir pada akhirnya: turun ke jalan! Karena medsos sudah terlalu tandus dan serius. Becanda di sini bisa jadi perkara. Berdebat apalagi.

Baca juga:  Yang Tak Disadari dari Satire 'Besanan Kaum Miskin' ala Muhadjir Effendy

Kebanyakan buruh yang protes mungkin memang tidak baca utuh isi UU ini, tapi mereka paham konsekuensinya. Memperhatikan poin-poin dan pasal khusus yang menganggu hidup mereka. Lebih daripada itu, iktikad buruk seorang manusia itu gampang sekali dilihat. Bagaimana menerima sesuatu sebagai barang etis kalau dikemasnya saja aneh dan penuh tindakan wagu.

Keserakahan itulah yang bikin orang-orangan sawah ini sudah bukan milik kita lagi. Meski yang bikin mereka bisa nongol di televisi dan media itu juga kita sendiri.

Ketika tahun pertama mereka coba-coba mencalonkan diri, boleh jadi mereka adalah orang-orangan sawah milik rakyat, milik kita. Yang menjaga sawah-sawah kita dari ancaman penggusuran penjahat-penjahat oligarki.

Namun begitu sudah periode kedua, mereka sudah bukan lagi orang-orangan sawah publik. Pelan-pelan tapi pasti, mereka berbalik menjadi orang-orangan sawah oligarki.

Dan kita, yang dulu bertaruh dengan menaruh mereka di Senayan itulah yang kini dianggap sebagai hama yang perlu dibasmi. Dan kita—sekali lagi—hanya bisa tertawa di depan televisi, sambil menyesali kenapa kita punya sekelompok orang-orangan sawah yang tak pernah peduli lagi selain soal investasi…

…pada saat kita semua dibiarkan menderita sendirian menghadapi pandemi.

Benar-benar sekelompok orang-orangan sawah yang sudah mulai di luar kendali.

BACA JUGA A-Z Omnibus Law: Panduan Memahami Omnibus Law Secara Sederhana.