MOJOK.COFadjroel Rachman keliru menuduh Giant Takeshi, anak yang sering bantuin jaga toko ibunya dan kakak yang baik, sebagai orang nggak bisa kerja.

Twitter Mister Jubir Presiden, Fadjroel Rachman, mendadak ramai gara-gara tweet pakai gambar Giant Takeshi. Lihat aja di bawah ini kalau nggak percaya.

Sebentar, apa Bung Fadjroel wibu? Jelas bukan.

Penggemar kartun jepang tempo dulu seperti Doraemon, P-Man, Ninja Hatori, Crayon Shinchan, dan Sailor Moon ternyata tidak lolos dalam klasifikasi wibu lho. Saya pernah mencoba self-proclaim sebagai wibu dengan membeberkan deretan kartun tersebut sebagai dokumen pendukung ke salah seorang murid saya. Hasilnya, saya ditolak.

Lagian, tidak perlu jadi penggemar untuk tahu tokoh-tokoh di kartun legend yang setia menemani Minggu pagi anak-anak 90-an ini.

Apalagi Bung Fadjroel Rachman merupakan aktivis ’98, sastrawan, bergelar insinyur sekaligus doktor ilmu politik, dan pegiat demokrasi terkemuka, tidak mungkin tidak tahu informasi mainstream tentang kepopuleran Giant dan kawan-kawannya.

Toh, jika perhatikan lagi gambar Giant yang diposting tersebut bukan berasal dari hasil screenshot video serial Doraemon di YouTube yang mungkin saja sedang beliau tonton untuk bernostalgia sebagai penggemar setia.

Tweet Fadjroel Rachman yang biasanya direspons puluhan komen, retweet, ataupun like saja, tidak sampai ratusan, kali ini dengan gambar Giant dan kepsyen “memang susah sih ini orang, enggak bisa kerja, maunya ribut aja...,” direspons oleh ribuan akun.

Sayang, kebanyakan membawa ke arah politik. Tidak ada satu pun yang membela pencatutan dan potensi pencemaran karakter Giant berdasarkan kepsyen yang ditulis Bung Fadjroel Rachman dalam tweet tersebut. Padahal Giant ini masih di bawah umur. Miris.

Berhubung Kakek Fujiko F. Fujio sudah tiada, saya sebagai wibu yang tertolak, mencoba untuk berdiri membela Giant berdasarkan analisis tepercaya. Analisis ini saya himpun dari semesta Doraemon Cinematic Universe yang pernah saya tonton dulu dan sekarang bersama anak saya.

Tokoh yang menyusahkan bukan hanya Giant

Klausa pertama, Bung Fadjroel Rachman menyebut “memang susah sih ini orang“, sebuah penegasan yang mendukung gambar Giant dengan ekspresi marah dan kesannya ingin menunjukkan bahwa Giant merupakan antagonis utama.

Tokoh bernama asli Takeshi Gouda ini seakan dipojokkan dengan labeling anak nakal. Kata “memang” sering kali difungsikan untuk menegaskan apa yang sebenarnya khalayak sudah tahu sendiri.

Komunitas ghibah pasti paham betul betapa berharganya kata ini. Tapi, menggunakan kata tersebut untuk seorang anak di bawah umur rasanya terlalu kejam. Sebab, pada dasarnya setiap anak memang ada dalam fase “menyusahkan” di mata orang dewasa.

Dunia anak memang nampak melelahkan bagi kita. Ego mereka sedang tinggi-tingginya. Apalagi, dalam serial Doraemon ini, tidak ada sama sekali antagonis utamanya. Semua karakter dibangun dengan berimbang dan natural.

Giant mungkin memang menyebalkan karena sering merampas komik temannya, memaksa Nobita ikut baseball, atau mewajibkan teman sekolahnya untuk datang di konser musiknya, tetapi, dia adalah kakak yang manis di mata adiknya, Jaiko.

Justru kalau dipikir-pikir, Nobita jauh lebih merepotkan. Malas belajar dan selalu merengek minta bantuan Doraemon. Untuk apa saja.

Biar tidak terlambat terus bukannya mencoba bangun pagi malah minta rumahnya dipindahkan pakai peta ajaib pindah rumah yang akhirnya dipakai untuk mengubah kotanya sesuka hati sampai-sampai ibunya tersesat.

Gara-gara tidak tahan panas minta alat kalender sesuka hati yang selanjutnya benar-benar dipakai sesuka hati untuk mengubah musim yang akibatnya poros Bumi jadi kacau sehingga kiamat terjadi lebih cepat. Tarafnya Nobita sudah sampai menyusahkan umat manusia.

Doraemon juga, meskipun robot canggih dari masa depan, sifatnya kekanak-kanakannya masih sering menyusahkan apalagi ketika sedang ngambek-ngambekan sama Michan.

Suneo? Jangan ditanya lagi. Anak tajir yang manja. Pernah menjebak Nobita dan Doraemon untuk jadi bodyguard-nya gara-gara parno nonton film tentang penculikan.

Shizuka? Dia pun bukan protagonis sempurna lho. Dalam episode “Isi Hati si Ubi Bakar”, Shizuka yang diam-diam sangat menyukai ubi bakar ini justru memberikan ubi bakar hangat yang baru dibelinya dari penjual keliling karena malu ke-gep sama teman-temannya. Dia malu mengakui.

Namun dengan tongkat pemanggil jiwa, salah satu ubi bakar yang baperan karena dibakar terlalu lama ini menceritakan yang sebenarnya dan tentang bagaimana berbinarnya mata Shizuka ketika memilihnya. Alhasil, Nobita and the gank harus bersusah payah membujuk Shizuka untuk mau memakan ubi bakar tersebut.

Episode ini bikin gregetan tapi mengharukan. Tapi poinnya, setiap karakter dalam serial Doraemon punya sisi menyusahkannya masing-masing. Semua kebagian porsi ceritanya.

Tentunya tidak elok ketika labeling tersebut terus-menerus dilekatkan pada salah satu tokoh saja, apalagi di media sosial, oleh sosok sekelas Fadjroel Rachman si juru bicara kepresidenan pula.

Uuuh sedi….

Giant itu pekerja keras! 

Penolakan terkeras saya ada di bagian ini. Ketika Bung Fadjroel Rachman mengatakan, eh, ngetwit tentang Giant, “enggak bisa kerja,” saya jelas nggak terima. Anak saya tentu akan mendukung saya dengan sekuat tangisan.

Giant itu pekerja keras!

Penggemar Chibi Maruko Chan garis keras pun pasti bakalan mengamini hal ini, meskipun sempat berseteru karena jam tayangnya bareng. Siapapun tahu, Giant sangat rajin membantu di toko ibunya. Pesanan ke mana pun diantar, bahkan pada hari libur.

Meski tidak sededikatif Mail bin Mail “dua-seringgit” dalam berniaga, namun kekuatan dan etos kerja Giant sangat meringankan kerjaan ibunya dan adiknya.

Giant tidak akan membiarkan adiknya bersusah payah melakukan pekerjaan berat yang bisa membuat fokusnya sebagai komikus sampai buyar. Bahkan sering kali alat ajaib Doraemon yang dia rampas justru dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan ibu atau adiknya.

Seperti ketika Giant merampas merica pelontar yang bisa mengantarkan ke mana saja dengan memanfaatkan bersin orang lain, Giant pakai untuk mencari foto jerapah yang dibutuhkan Jaiko sebagai inspirasi tokoh dalam komiknya, yang sayangnya justru membuat Giant terlontar ke Afrika.

Atau ketika Doraemon memberinya seekor umatake, kuda masa depan yang wujudnya seperti egrang, untuk dilatih agar bisa mengalahkan kuda balap milik Suneo. Giant sengaja memilih umatake yang bertubuh besar agar ia bisa memanfaatkannya sebagai pedati untuk mengantar barang dagangan ibunya.

So sweet sekali, bukan?

Lagian, Pak Jubir, jika bukan karena kekuatan dan kerja kerasnya, tidak mungkin Giant bakalan ditunjuk jadi menteri pembangunan di episode Doraemon the Movie: Asal Usul Negeri Jepang.

Hasilnya? Sebuah istana goa yang megah dengan ruangan-ruangan multifungsi berhasil ia bangun dalam tempo singkat. Kayak gini kok dibilang nggak bisa kerja.

Giant mungkin suka marah, tapi tukang ribut bukan dia

Bagian twit Fadjroel Rachman ini salah sasarannya kebangetan. Mengatakan bahwa Giant seseorang yang “…maunya ribut aja…” adalah tuduhan tak berdasar. Kalau maunya berkelahi saja, mungkin lebih mendekati kebenaran.

Giant ini tipenya ngomong lalu langsung bertindak. Tidak suka berlama-lama. Cenderung tidak sabaran dan gegabah. Kadang tindakannya bener, tapi salah juga sering.

Sesekali jadi pelindung yang bisa diandalkan teman-temannya, tapi lain waktu justru dia trouble-maker-nya. Tapi kalau dibilang maunya ribut saja, jelas ini salah orang.

Yang lebih tepat untuk istilah itu ya tentu saja: Suneo.

Suneo ini cerdas, berbakat seni, tapi pintar mekanik juga. Dan yang terutama, dia pintar sekali bersilat lidah. Dengan kemampuannya, dia bisa nyaman berlindung di balik kepemimpinan Giant yang ambisius. Dan Suneo bisa memainkan peran yang baik di depan semua orang.

Saat bersama Nobita, dia menjelek-jelekkan Giant, tapi dengan lihai dia berbalik menjadi pengikut setia Giant saat terdesak atau merasa lebih menguntungkan. Beberapa pernyataannya sering dianulir sendiri, seperti di episode “Pesta Halloween”.

Saat teman-temannya sudah terpojok oleh pasukan hantu milik Giant, Suneo yang seharusnya menyusup untuk mematikan lampu labu pemanggil hantu justru memutuskan untuk membelot saat kepergok Giant.

Akhlak Suneo Honekawa ini sama sekali tidak mencerminkan seorang aktivis sejati yang konsisten di medan juangnya. Dia dengan sadar menganulir pernyataannya sebelumnya yang mengatakan akan membalas kejahatan Giant yang merampas seluruh permennya dan meneror penjuru kota dengan trick or threat-nya.

Saat ternyata Giant menguasai situasi, Suneo dengan mudahnya mengatakan bahwa dia berpihak pada Giant. Suneo sangat pandai untuk memancing keributan atau sekadar memanaskan situasi dengan retorikanya yang ciamik. Giant justru sering kali dikendalikan oleh hasutan dan kata-kata Suneo yang mindblowing banget.

Dengan halus Suneo bisa membuat orang mengikuti pemikiran dan kehendaknya. Meskipun Suneo sadar, dia harus nebeng di ketiak Giant agar tetap terlindung. Jadi terlihat seperti dia adalah tangan kanannya Giant, padahal aslinya justru dia yang mengendalikan situasi.

Tipe-tipe orang seperti Suneo Honekawa ini justru lebih mengerikan. Apalagi didukung privilese yang dimilikinya sebagai anak konglomerat. Jelas, potensi damage Suneo lebih besar dari Giant dalam hal membuat keributan dan kekacauan.

Merasa familier dengan karakter seperti itu di Indonesia? Tenang, orang kayak gitu biasanya justru bisa kerja kok. Cuma ya itu, kerjanya untuk diri sendiri dan keluarganya.

Bukan begitu, Pak Fadjroel?

BACA JUGA Menghitung Kekayaan Suneo, Anak SD Terkaya dalam Doraemon Universe atau tulisan Slasi Widasmara lainnya.

Baca juga:  #MojokBersama Mangafest 2018: Menjadi Wibu Sehari