MOJOK.CO Bagi kita-kita yang jadi budak korporat, kata “bos” bisa berarti banyak hal. Tapi yang jelas, pasti ada kelakuan bos yang tidak masuk akal yang membekas di ingatan.

Stereotip tentang bos biasanya seperti ini: galak, suka nyuruh-nyuruh (ya iyalah), dan juga menyeramkan. Stereotip itu bisa benar, bisa tidak. Singkatnya, bagi para karyawan biasa, gap jabatan yang jauh antara bos dan karyawan menciptakan banyak anggapan terhadap atasan.

Jabatan yang biasanya menjadikan seseorang jadi bos itu tidak terikat pada satu jenis jabatan saja. Bisa jadi yang dianggap bos itu CEO, bisa manajer, bisa juga leader tim. Namun yang jelas, mereka biasanya punya kuasa atas karyawan di bawahnya. Manusia bisa diuji lewat banyak hal, salah satunya jabatan. Ada bos yang nggatheli setengah mati dan baiknya dikubur saja, ada juga bos yang baiknya setengah mati hingga dicintai banyak orang.

Saya bertanya kepada sejumlah orang tentang pengalaman mereka berhadapan dengan bos yang punya kelakuan buruk tak masuk akal. Kenapa yang negatif doang? Karena saya tahu bahwa semangat orang Indonesia yang narimo ing pandum ini bisa di-recharge lewat keributan dan rasan-rasan. Anggap aja ini setoran bahan julid buat kalian.

Di-SP karena nggak ikut ibadah pagi

Seorang kawan bercerita dia pernah selama dua minggu tidak ikut ibadah pagi di kantornya karena harus mengejar deadline. Catatan: si teman beragama Katolik. Gara-gara absen sembahyang, dia dapat SP-1 dari bosnya yang dengan amazing bilang, LeBiH bAik tElAt dEaDLine daRipAda nGgak iBaDah.

Ini dilematis memang karena sebenarnya niatnya baik. Tapi mestinya ibadah jadi urusan personal kan? Memberi SP untuk hal yang bisa dibicarakan baik-baik mah jelas berlebihan.

Sengaja bikin jarak sama tim yang dipimpin

Bos yang pernah dialami satu teman lain ini memutuskan menjauhkan diri dari tim yang dia pegang karena dia merasa timnya manipulatif. Karena takut terlalu dekat akan membuat mereka leda-lede kerjanya, dia pikir menjauh dan menciptakan jarak bisa jadi solusi. Tapi masalahnya, dia jadi sering bikin postingan media sosial tentang kejelekan timnya karena para anak buah tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Kalau sudah bawa-bawa aib kantor apalagi aib rekan satu tim, menurut saya sih kelewatan. Apalagi ini kelasnya leader atau bos. Kepemimpinannya jadi dipertanyakan dong. Kalau dikit-dikit unggah aib mending ditata lagi pikirannya, mau jadi leader apa jadi admin Lambe Turah.

Tidak profesional

Tidak profesional di sini bisa diartikan dengan tidak bisa memilah kepentingan pribadi dengan kerjaan. Contohnya, pilih kasih, sinis sama karyawan, nggak naikin gaji karena masalah pribadi, dan bawa-bawa masalah rumah ke kerjaan.

Itulah kenapa beberapa kantor melarang hubungan asmara antarpegawai dalam satu kantor. Takut terjadi konflik yang bisa memengaruhi kinerja karyawan. Tapi menurut saya sih, orang udah gede harusnya paham mana kantor, mana rumah. Masak harus dikasih tahu kalau tindakan gitu nggak bijak.

Contoh kelakuan yang mirip.

Melakukan pelecehan seksual

Seorang kawan saya saat training diminta bosnya berhubungan badan di kantor. Untuk meyakinkan teman saya, si bos bilang itu hal biasa kok di kota besar. Soalnya rata-rata karyawan di kantor setempat cantik-cantik.

Kata nggak masuk akal udah nggak cocok buat bos kayak gini.

Nyalahin bawahan atas perbuatannya sendiri

Kelakuan bos macam ini sering banget ditemui. Karena dia takut kena sanksi, dia mengorbankan karyawannya untuk jadi tameng diri. Biasanya kesalahan yang dilakukan bos itu berkutat di bagian manipulasi data, korupsi, atau salah menandatangani dokumen.

Kok kayak pejabat di mana gitu.

BACA JUGA 5 Petunjuk untuk Mendeteksi Cowok Bucin dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.