MOJOK.COHidup itu memang penuh urutan-urutan kesialan. Salah satunya putus cinta, kandas, karena kelas sosial. Tenang, kalian nggak sendirian.

Ketika kalian sudah menjalani hubungan pacaran dalam waktu lama, pertanyaan tentang menikah sering tak terelakkan. Pertanyaan itu wajar muncul, dan kalian nggak boleh marah kalau ditanya ini. Setidaknya, orang yang bertanya menginginkan kalian bersatu selamanya.

Tapi ketika berbicara pernikahan, cinta saja nggak cukup. Kalian tiba-tiba dihadapkan kepada banyak permasalahan yang mungkin tidak pernah kalian pikirkan. Salah satu hal yang akan kalian hadapi adalah perbedaan kelas sosial.

Hidup nyatanya pahit. Idealnya, saya ingin cerita kisah cinta seperti FTV. Misalnya laki-laki dari “kelas rakyat jelata” jatuh cinta dengan perempuan dari kasta sugih mblegendhu. Asmara sempat ditolak, tapi akhirnya bersatu karena cinta sanggup melelehkan meteor sekalipun.

Tapi nyatanya, perbedaan kelas menjadi penyumbang terbesar bagi kisah putus cinta. Sebuah kisah tentang asmara yang kandas.

Tak perlu mengambil contoh muluk-muluk, saya sendiri adalah korban putus cinta karena kelas sosial. Suatu hari di bulan Ramadan 2016, saya harus menenangkan Bapak yang meminta maaf karena saya lahir dari keluarga berekonomi menengah ke bawah.

Penyebabnya adalah, pasangan saya saat itu berkata akan meninggalkan saya begitu mendapat laki-laki dari kelas ekonomi yang jauh lebih mendingan. Pedih.

Apakah pasangan saya saat itu salah? Oh tidak, tentu tidak. Saat itu saya baru sadar, saya nggak akan bisa memenuhi basic needs dengan keadaan seperti ini. Saya memang kuliah saat itu, tapi faktanya, gelar sarjana tidak lagi seksi di depan perusahaan.

Baca juga:  Lulus S2 Jurusan Filsafat Harus Siap Nganggur karena Dianggap Cuma Bisa Mikir

Agustus 2019 saja, ada 737.000 sarjana pengangguran dari rentang pendidikan S1 sampai S3. Mengandalkan orang tua untuk menghidupi kekasih? Tolol sekali pemikiran seperti itu.

Orang yang terlahir dari keluarga biasa saja, ketika sudah bekerja, akan menemui berbagai masalah. Banyak dari mereka yang bekerja bukan hanya untuk menghidupi diri sendiri, tapi juga keluarga. Di saat yang sama, mereka juga harus pandai mengatur keuangan demi kehidupan sehari-hari, masih harus menabung untuk biaya pernikahan, atau membeli rumah. Apakah cukup gajinya? Tentu saja tidak.

Dalam diskusi di “Discord-discord Darurat”, persoalan putus cinta karena kelas sosial itu tidak sederhana. Kesadaran akan kelas sosial yang kita serap sehari-hari turut membentuk pandangan kita tentang cinta.

Bagi kelas atas, standar hidup yang ada dipatok pada standar yang juga tinggi. Maka mereka bisa dengan mudah menabung, berinvestasi, dan perintilan-perintilan lain. Basic needs sudah tercukupi, ada uang sisa. Mereka punya yang namanya pilihan.  Mereka bisa memandan cinta dengan warna yang cerah.

Tapi bagi orang yang terlahir di kelas bawah, standar jadi kabur. Asal bisa makan dan bayar tagihan tepat waktu sudah bersyukur. Boro-boro mikir perintilan keuangan, tidak khawatir akan hari esok saja itu sudah prestasi. Warna cinta menjadi begitu hitam.

Perbedaan kelas sering jadi bumbu perdebatan. Satu ingin hidup layak, satu ingin mengusahakan hidup layak tapi kudu bersabar. Masing-masing keras, masing-masing tidak mengerti. Pada akhirnya, cinta kandas menjadi hal yang tak terelakkan, seperti hidup saya.

Baca juga:  Sudah Patah Hati, Masih Kepo dan Dengerin Lagu Galau Pula

Putus cinta karena kelas sosial, pada akhirnya, tidak semata hanya karena perbedaan nilai harta yang dimiliki. Perbedaan cara memandang kehidupan dan rencana masa depan yang berbeda menjadi katalis.

Apakah kita tidak boleh mencintai orang yang kelas sosialnya lebih tinggi? Sah-sah saja. Tapi pada saatnya nanti, kalian harus memikirkan kenyataan-kenyataan yang ada. Jika kebetulan kalian mendapat pasangan yang mau dan bisa mendobrak batasan, pertahankan.

Tapi kalau berakhir mengenaskan, terima saja. Hidup itu memang penuh dengan urutan-urutan kesialan, tak ada cara mengobati rasa sakit selain menerimanya. Setidaknya, kalian tidak menangis sendirian ketika putus cinta karena perbedaan kelas sosial. Surem, ya.

BACA JUGA Logika Kartu Prakerja: Kalau Bisa Bayar, Kenapa Harus Gratis? dan tulisan menarik lainnya dari Rizky Prasetya.