MOJOK.CO Kita bisa menebak asal seseorang lewat logat dan bahasa yang digunakan, bahkan hingga sifat dan kebiasaannya. Stereotip bahasa membuat orang punya penilaian tersendiri terhadap penutur bahasa tersebut.

Ketika pertama kali kuliah 9 tahun yang lalu, saya merasa dunia ternyata begitu luas, padahal saya cuma berinteraksi dengan teman-teman kampus. Bagaimana tidak, 12 tahun sekolah di Wonogiri, interaksi saya hanya terbatas pada teman-teman berdomisili setempat, tapi begitu kuliah, tiba-tiba berhadapan dengan banyak orang dari seantero Indonesia.

Kuliah di melting pot kayak Jogja sempat bikin saya gegar budaya sejenak. Ketika baru tiba di kota ini saya pernah diingatkan untuk tidak tertawa kalau dengar orang plat R ngomong. Saya bingung kenapa, tapi ketika ospek saya tahu maksudnya.

Saya pikir bahasa mereka aneh.

Tapi ketika saya ngobrol dengan orang Jakarta, mereka juga bilang kalau bicara saya terdengar aneh dan medok banget. Di kesempatan lain, ketika saya tanya ke pacar kenapa bapaknya marah-marah tanpa juntrungan, pacar saya justru bingung kenapa saya nanya seperti itu sebab katanya cara ngomong orang Batak tulen memang demikian.

Saya kuliah di jurusan sastra sehingga jadi paham logat dan bahasa dipengaruhi banyak faktor, salah satunya geografi dan demografi. Kelanjutannya, produk-produk budaya juga bikin sejumlah bahasa punya stereotipnya sendiri. Contohnya gini:

Stereotip bahasa Betawi

Semua salah Si Doel. Gara-gara sinetron ini, setiap mendengar bahasa Betawi, saya selalu merasa bahwa sedang mendengarkan percakapan Babe dan Mandra. Kenapa Babe dan Mandra? Ya masak teringat busa cucian yang nempel di rambut Atun. Acara Si Doel memang mengenalkan bahasa Betawi dan membuat stereotip bahwa kehidupan orang Betawi dan cara hidupnya pasti kayak keluarga Si Doel.

Baca juga:  Soto Tauco buat Situ yang Menganggap Soto Bening Bukan Soto

Alhasil, pas nemu doa Katolik dalam bahasa Betawi begini, rasanya campur aduk.

Stereotip bahasa Jawa

Gara-gara FTV, orang berpikir kalau mendengar orang ngomong dengan bahasa Jawa jadi terlihat rendah. Stereotip bahasa jawa yang lekat dengan bahasa pembantu membuat penutur bahsa Jawa minder kalau berhadapan dengan penutur bahasa lain di Jakarta.

Stereotip bahasa Inggris

Sering ditemui ketika debat di medsos, orang akan menggunakan bahasa Inggris ketika debatnya mulai serius. Kondisi lain yang bikin orang pakai bahasa Inggris ialah ketika seseorang pengin protes, ngritik, atau nyentil pihak lain.

Karena penggalakan pembelajaran bahasa Inggris itungannya masih baru di Indonesia, juga sebenarnya nggak banyak-banyak banget orang yang bisa bahasa Inggris di sini, kalau tiba-tiba ngomong pakai bahasa ini tuh kesannya sok pintar.

Padahal, ada kalanya interaksi dengan bahasa Inggris dipilih hanya karena orang tersebut merasa lebih nyaman berargumen dengan bahasa Inggris dan kesulitan mencari padanan katanya di bahasa Indonesia.

Stereotip bahasa Ngapak

Dari Indro Warkop ke Cici Tegal hingga Vicky Shu. Dari siaran radio Curanmor sampai series #CINGIRE di YouTube. Semua punya kontribusi dalam membentuk bahasa Ngapak sebagai bahasa yang lucu di kepala penutur bahasa dari daerah lain.

Kayak saya bilang tadi, dulu saya sempat menganggap bahasa Ngapak aneh. Namun, setelah mempelajari segala sesuatu tentang ngapak lewat cerita Karto Tuying dan beberapa kali berpacaran dengan cewek Ngapak, saya tak lagi menganggap aneh bahasa ini.

Baca juga:  Memang Mungkin ya Menceraikan Suporter Sepak Bola Indonesia dengan Kekerasan?

BACA JUGA Kisah Horor dan Hukuman Tak Peduli Istri Sendiri dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.