MOJOK.COKarto tidak menyangka tindakan nekatnya justru membuat dia harus dilihat seluruh isi negara karena mau menuruti kata polisi untuk mengaku sebagai anarko.

Karto termenung di sudut kamar. Dia baru saja diberhentikan dari pabrik gara-gara pabriknya memilih berhenti beroperasi. Semua gara-gara wabah corona yang menyerang seluruh negara di dunia.

Uang habis, pekerjaan tidak ada. Tidak menyangka dia akan merasakan gelombang PHK di usia yang masih muda. Mencari pekerjaan di masa-masa ini juga tidak mudah, karena dia tahu bahwa ada 1.5 juta orang yang kehilangan pekerjaan karena wabah. Uang makin menipis, Karto makin pesimis.

Karto sebenarnya bisa saja pulang kampung, masalahnya adalah gaji kecil yang dia terima tidak cukup jadi ongkos pulang. Dia terkena PHK tengah bulan, yang otomatis gajinya sudah terpotong banyak untuk kehidupan. Biaya hidup di kota tinggi, gaji besar pun hanya mimpi.

Andai dia bisa pulang pun, dia tidak punya muka bertemu orang tuanya. Merantau ke kota dengan penuh impian mengangkat derajat orang tua, pulang ke kampung sebagai korban PHK. Dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa, meskipun dia sudah kecewa pada dirinya sendiri.

Pusing karena berhari-hari mengurung diri, Karto keluar kamar. Peduli setan sama corona, nek ketemu tak antemi, batin dia. Dia jalan-jalan tanpa tujuan. Sambil jalan-jalan, dia memikirkan andai dia kerja jadi PNS, pasti tidak merasakan PHK. Kalau dia PNS, pasti akan jadi menantu idaman.

Baca juga:  Tito Karnavian Benar, KPK Aja Bisa Melemah Sendiri Apalagi Virus Covid-19

Karto melewati kantor polisi yang lumayan sepi. Dia melihat banyak helm ditinggalkan begitu saja tanpa ditali ke jok motor. Terbersit niat jahat di pikirannya. Lebih tepatnya, keputusasaan yang menggerogoti akal sehatnya.

Karto berjalan sembari melihat situasi. Dalam hatinya dia tidak yakin, tapi perasaan amarah dan putus asa menang. Andai dia tidak merasakan PHK dan pemerintah peduli nasib orang-orang tertindas, dia tidak akan jatuh ke lubang hitam ini. Karto berusaha mengambil 1 helm yang terlihat mahal di kantor polisi tersebut.

Namanya saja pemula, Karto tertangkap saat sedang melakukan aksi. Polisi heran kok ya ada yang nekat maling di kantor polisi. Karto saat itu langsung diinterogasi.

Karto langsung menangis menceritakan kalau dia korban PHK dan nggak tahu lagi cara bertahan hidup. Pulang malu, tak pulang hidup penuh pilu. Polisi jadi iba, mungkin mereka sering melihat orang seperti Karto. Terpikir di benak polisi itu, bebaskan saja dan beri sedikit uang untuk makan.

Tapi tiba-tiba ada seseorang masuk dan membisikkan sesuatu. Polisi itu terkejut, tapi akhirnya hanya menganggukan kepala. Polisi itu bilang ke Karto untuk mengikuti seseorang itu. Karto yang masih berlinang air mata menuruti arahan Polisi tersebut.

Orang itu membawa Karto ke sisi lain kantor polisi. Orang bertanya ke Karto, “kamu tahu anarko?” Karto menggeleng, dia baru dengar kata itu barusan. Orang itu lalu bilang ke Karto, dia akan dibebaskan asal mengikuti arahannya. Putus asa, Karto mengiyakan saja saat diberi kertas yang berisi kalimat yang harus ia ucapkan nanti.

Baca juga:  Lebaran dan Ingatan tentang Orang Terkasih yang Sudah Berpulang Mendahului Kita

“Nama saya Madara, saya adalah ketua sindikat anarko Indonesia. Saya adalah A1. Di daerah lain, ada A2 yang akan mengeksekusi rencana kegiatan anarko kami. Kami akan menjarah Jawa pada tanggal 18 April 2020”.

(ini adalah cerita fiksi diilhami dari berita Tirto berjudul “Pria yang Mengklaim Ketua Anarko Ternyata Pencuri Helm Polantas)

BACA JUGA Inilah Skenario Para Anarko yang Sebenarnya dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.