MOJOK.CO – “Lang, bapak lo nonton, Lang. Nggak gue sensor, Laaang” sempat berseliweran di lini masa medsos Desember kemarin. Dialog tersebut adalah celetukan dari Keanuagl yang sedang ngehits karena celetukannya yang dianggap lucu. Lumrahnya hukum alam, ketika ada yang menganggap lucu suatu hal, pasti ada yang berpikir itu tidak lucu.

Saya masih ingat kata-kata dosen penguji saya ketika membaca data skripsi waktu ujian. Skripsi saya membahas tentang humor verbal pada subtitel film Guardians of the Galaxy vol 2. Karena membahas humor, tentu harapan para dosen bisa mendapat data berupa dialog berisi humor yang (((komprehensif))). Tapi kata-kata dosen penguji itu seakan menghancurkan kerja keras beberapa bulan.

“Rizky, menurut saya data kamu ini tidak lucu. Saya bingung menentukan mana yang pantas disebut humor.”

Modyar aku. Mau jelasin humornya di mana kok ya lama, nggak dijelasin nanti kesempatan menang giveaway kelulusan hilang. Akhirnya dengan bantuan dosen pembimbing, saya menjelaskan bahwa humor di dialog ini segmented, dan memang tidak untuk dinikmati dengan pendekatan linguistik. Tapi di momen itu juga saya menemukan pencerahan bahwa humor terkadang harus dinikmati dengan lepas.

Sekarang kita lihat Keanuagl, selebgram yang sedang naik daun karena video sesi tanya jawab yang dia lakukan di story Instagram. Cara menjawab pertanyaan yang semaunya dan sak kecekele itu lucu bagi sebagian orang. Tapi nggak sedikit juga yang bilang kalau Keanu itu nggak lucu, kasar, dan dianggap homofobik.

Baca juga:  Jika Ada Sulam Alis, Mengapa Tidak Ada Sulam Kumis?

Pertanyaannya, sebenarnya Keanu itu guyonannya lucu apa nggak sih?

Menurut saya, iya. Terlepas dari guyonan dia yang dianggep gojek kere saja belum.

“Humor itu harus cerdas, mendidik, menggelitik, mengajak otak berpikir.”

Kata siapa? Nggak ada ceritanya harus kayak gitu. Oke, humor seperti itu emang bagus, tapi nggak ada ceritanya harus seperti itu. Humor itu masalah bagaimana mengubah hal rumit yang ada dan mengkonversinya menjadi humor, jadi kalau kalian nggak ketawa sama guyonannya Ricky Gervais, ya nggak apa-apa.

Yang orang sering luput, humor itu jalannya dua arah. Kalau si pelawak gagal membuat orang ketawa, faktornya ada pada penerima dan pelawaknya. Pelawaknya gagal mengirimkan humor yang bisa diterima, dan penerimanya tidak bisa mengonversi humor. Mau itu guyon seksis, homofobik, receh, atau cerdas, itu tetaplah humor.

“Lho, itu kan tidak pantas, kok masih dianggap humor?”

Humor itu juga tidak lepas dari latar belakang sosial dan pendidikan, dan juga harus tahu kapan itu dilontarkan. Guyonan Pandji Pragiwaksono kamu bawa ke pos ronda kampungmu ya bakal bikin orang bingung, tapi guyonan masalah janda kamu bawa ke kantin kampus ya bisa membuatmu dimaki. Dalam forum pendidikan, bawain jokes Lucinta Luna membuatmu terlihat bodoh, dan juga sebaliknya.

Guyonan yang dilontarkan Keanuagl itu lucu, tapi bakal tidak lucu ketika kamu punya latar belakang sosial yang berbeda dengan pasar yang dia tuju. Terkadang masalah lucu nggaknya suatu humor itu bisa disikapi dengan sederhana: kalau kamu nggak tertawa ya itu berarti bukan buat kamu, simpel. Wong humor itu mau diapain juga bakal segmented kok.

Baca juga:  13 Pertanyaan untuk BP Tapera dan Pemerintah

Bahkan guyonan d a r k j o k e s ala Coki itu sebenarnya lucu. Aku tenanan iki, jane dia itu lucu, bukan karena saya ngefans (aku we sengit jane) tapi karena emang itu masuk humor. Tapi karena humor itu dua arah, ya orang berhak juga ngata-ngatain jokes Coki. Masalahnya ya dia goblok ngeluarin jokes kayak gitu di masa-masa genting.

“Lha itu kan nggak mendidik?”

Ha ya siapa bilang harus mendidik? Nggak ada keharusan suatu humor itu harus mendidik. Ha kok kabeh-kabeh mau dipinteri. Kamu nggak bisa berharap pos ronda itu guyonannya level Ricky Gervais, dan kamu juga jangan ngelontarin guyonan seksis di ruang kelas. Sebagai manusia, kamu harus ngerti empan papan, ngono wae angel.

Humor itu bisa dibilang nggak punya batasan, manusia yang menciptakan batasan berdasar konsensus yang ada. Kalau banyak orang tertawa karena humornya Keanuagl, ya biarin aja. Bukan berarti karena kamu anggep itu nggak lucu, semua orang harus setuju juga. Setidaknya kalau orang terhibur karena guyonan Keanu dan bahagia, itu lebih baik daripada terus-terusan bermuram durja.

Kalau masih mau mendebat kenapa bisa Keanu dianggap lucu, ssssh, let people enjoy things.

BACA JUGA Banyak Bualan di Jalan Kaliurang Atas dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.