jubir psi sarkas satire arti cara memahami @mouldie_sep twitter partai solidaritas indonesia mojok.co
jubir psi sarkas satire arti cara memahami @mouldie_sep twitter partai solidaritas indonesia mojok.co

Kader PSI Sebaiknya Mulai Belajar Satire daripada Bikin Malu Kayak Jubirnya Ini

MOJOK.COSatire dan humor sarkas sering digunakan untuk mengkritik terutama di media sosial. Kalau main Twitter tapi nggak paham satire kayak jubir PSI ini, siap-siap aja diketawain orang.

Melemparkan candaan atau guyonan itu sebenarnya hal yang rumit. Orang bisa menerimanya sebagai guyonan atau justru malah ajakan berantem. Apalagi guyonan tersebut adalah tipe humor berjenis satire, bisa jadi orang salah tanggap akan maksud guyonan tersebut. Salah siapa? Ya salah orang yang nggak paham tapi ngegas.

Ada kejadian menarik di lini masa medsos yang merepresentasikan masalah tersebut. Aksi balas-berbalas twit antara akun @mouldie_sep dan Juru Bicara PSI Sigit Widodo lewat akun @sigitwid mestinya jadi debat yang menarik, tapi keburu lucu karena Sigit salah paham sama postingan lama @mouldie_sep. Niatnya nyerang, malah PSI jadi tertawaan.

Jadi awalnya Sigit memposting komik sindiran ke orang-orang yang pas pemilu nggak milih PSI, tapi setelah pemilu malah menuntut PSI vokal di semua isu. Ya jenis orang kayak gini mah di semua sektor isu selalu ada, ngapain dibaperin. Komik itu kemudian disamber @mouldie_sep begini:


Mungkin kalimat “Gini amat partai baru” bikin Sigit jengkel. Dia membalas dengan keluar dari topik. Caranya, menuduh @mouldie_sep pemilih Prabowo. Lah apa hubungannya, Bro?

Yang mana tuduhan pemilih 02 itu disangkal oleh @mouldie_sep si pemilih PSI.

Tapi Sigit ngeyel dan ngasih skrinsut twit lama @mouldie_sep yang niatnya buat bukti bahwa doi memang pemilih 02.

Masalahnya adalah, Sigit Widodo tidak bisa menangkap twit yang berisi command prompt (fitur baris perintah untuk sistem operasi Microsoft) itu sebagai candaan. Dia mengira Mouldie beneran nganggep command prompt sebagai bukti serangan kepada KPU–argumen yang banyak dipakai pemilih 02 di pemilu lalu. Lewat skrinsut itu, Sigit menganggap semua argumen Mouldie (bahwa dia nggak milih 02) tidak valid.

Baca juga:  Fenomena Askmenfess: Apakah Kita Se-desperate Itu Cari Lawan Bicara?

Memang ontran-ontran pemilu kemarin membuat pemetaan orang goblok di Indonesia makin jelas. Tapi masalahnya, walau banyak orang percaya beneran ada serangan siber ke situs KPU, bukan berarti semua orang bakal percaya. Kebodohan yang muncul dalam masa pilpres memang sangat patut dihujat, dan tak aneh jika banyak orang membuat ujaran satire tentang peristiwa tersebut.

PSI, yang mengaku partai anak muda, harusnya paham fenomena shitposting yang marak di kalangan anak muda. Shitposts yang beredar banyak yang berisi ungkapan sarkas dan satire. Tapi kalau kader PSI justru tidak bisa membedakan mana sarkas dan mana ungkapan serius, ya terus yang diwakili anak muda era apa? Era Beckenbauer?

Satire memang punya maksud menghina dengan cara pura-pura mengiyakan orang/topik yang ia hina. Contohnya, ngece Gibran yang maju wali kota tapi muternya ke AHY. Pembaca Mojok bisa didaulat sebagai warga paling paham satire lah. Yang jadi masalah, Sigit kayaknya nggak baca Mojok dan kemudian: Menerima sarkas itu mentah-mentah, seharfiah-harfiahnya, sehingga malah jadi tertawaan.

(Skenario kedua: Orang yang nggak paham satire kadang bikin emosi sih, karena kalau salah pahamnya berujung fatal, pembuat satire harus capek-capek ngejelasin maksud satirenya. Lah, satire kok dijelasin.)

Sigit Widodo yang gagal paham dalam menangkap sarkas bisa jadi preseden buruk untuk PSI. Lah ini levelnya jubir, kalau ada apa-apa ya pasti disangkutkan dengan partainya. Jika jubir, orang yang menjembatani komunikasi partai dengan konsituen maupun calon konstituen tidak bisa menerima kritik dalam bentuk apa pun, kredibilitas PSI sebagai partai anak muda yang membawa perubahan menjadi hancur.


Baca juga:  3 Alasan Tidak Ingin Punya Anak Bukanlah Sikap Egois

Sebaiknya memang para kader parpol harus banyak-banyak bercanda dan mendengarkan gojek kere yang beredar di masyarakat. Ketika menjadi wakil rakyat nanti, mereka bisa merasakan pahitnya kehidupan yang saking parahnya, mereka memilih untuk pasrah dan menertawakan nasibnya.

Kalau tiap ungkapan sarkas dan satire dimaknai harfiah, literal, saklek, baku oleh para politisi, kelak penjara akan penuh dengan anak muda dan para pegiat shitpost. Masak penjara yang citranya seram itu malah kayak kamp stand-up comedian?

BACA JUGA Resep Makanan Bakar-bakaran Low Budget buat Tahun Baruan di Kosan atau artikel menarik lainnya di POJOKAN.