MOJOK.CO Kekalahannya di Derby of Manchester membuat para fans MU tidak bisa berkelit lagi. Kelakar bahwa MU kuat jika melawan tim besar ternyata cuma pleidoi.

Ketika highlights pertandingan Derby of Manchester muncul di lini masa medsos, kita akan melihat kumpulan lelucon dari Phil Jones dan barisan pemain MU yang kocar-kacir. Kepercayaan bahwa MU akan bermain hebat saat melawan tim besar tidak lagi terbukti. Sepertinya, MU harus mulai membuat daftar pengakuan dosa.

Ole terpojok, skuat tidak lagi punya hal yang dibanggakan, fans makin geram. Kekalahan memalukan di Old Trafford harusnya cukup untuk Ole berbenah, namun sejak kapan kita mendengar rencana berbenah MU?

Dari jaman Fergie pergi hingga 7 tahun kemudian ketika tidak ada tanda-tanda perbaikan.

Manchester United memang pantas diejek. Pemain yang didatangkan bukan pemain yang pelatih inginkan, dan tidak memberi efek berarti. Pemain yang dipuja-puja justru pemain medioker bergaji besar tanpa kontribusi berarti. Dari segi skuat, Manchester United berisikan pemain yang tidak punya rencana pasti dalam hidupnya.

Skala prioritas manajemen MU juga perlu dipertanyakan. Ander Herrera pergi setelah permintaan untuk naik gajinya ditolak, tapi pemain macam Phil Jones malah punya gaji lebih besar. Membeli Pogba namun tidak membeli pemain yang setara dengan Pogba menjadikan dia terlihat seperti badut. Sehebat apa pun Pogba, kalau di sekelilingnya badut-badut bergaji besar, hanya menjadikan dirinya terlihat bodoh.

Baca juga:  Bukayo Saka dan Resonansi Awal Karier Bellerin di Arsenal

Ole pun ikut dalam sirkus yang Manchester United tunjukkan. Ole yang reaktif menanggapi kritik Van Persie menunjukkan bahwa dia tidak lagi punya sesuatu untuk ditunjukkan selain beban mental yang menggerogoti kewarasannya. Miris melihat tim dengan sejarah yang menakutkan justru menjadi komedian yang selalu memperbarui lawakannya tiap minggu.

Melawan Norwich nanti, Manchester United tidak lagi bisa berlindung di balik kalimat mereka kuat melawan tim besar. Siapa pun bisa terpeleset melawan tim semenjana, namun berlindung di balik alasan bahwa mereka hanya kuat pada saat tertentu itu tidak bijak. Tim besar tahu bagaimana bertanding, bukan bersilat lidah.

Norwich memang tim penghuni dasar klasemen, tapi Manchester United tidak boleh memandang remeh lawannya. Kekalahan melawan Burnley dan Watford cukup sebagai pengingat bahwa mereka bukanlah unggulan. Anda bahkan punya peluang menang taruhan jika memegang Norwich daripada MU jika tren konyol mereka tetap berlanjut.

Siapa pun akan pesimistis dengan peluang Manchester United melawan Norwich nanti. Meski masih nangkring di peringkat 5, bukan berarti MU jauh lebih baik dari Norwich. Andai nanti Norwich menang melawan MU, itu bukanlah kejutan. Andaikan MU menang, itu sudah seharusnya dan mereka tidak perlu lagi membuat itu sebagai senjata untuk bersilat lidah.

Manchester United sebaiknya tidak lagi berpegang pada klaim-klaim dan sudah saatnya menerima kenyataan bahwa mereka medioker. Selanjutnya terserah mereka, seharusnya mereka tahu harus berbuat apa. Mereka bisa menghabiskan musim ini sembari membenahi semua segi dari skuat hingga manajemen, atau mereka bisa tetap merasa ini baik-baik saja, bebas. Yang bisa menolong Manchester United hanyalah mereka sendiri, dan Tuhan selalu bersama orang yang berusaha.

Baca juga:  Kebohongan Unai Emery Seperti Tipikal Cowok Menghindari Konflik dengan Pacarnya

Kalau ngomong “next season will be ours!”, itu punya Liverpool.

BACA JUGA Sadio Mane, Kisah Sepatu Koyak dan Celana Pendek dan artikel menarik lainnya di BALBALAN.