Rubrik: Balbalan

Saing-saingan Real Madrid VS Barcelona Satu Dekade Terakhir

MOJOK.CO Rivalitas Real Madrid dan Barcelona adalah perseteruan yang “diinginkan” oleh dunia. Dekade ini mereka menorehkan magi mereka pada sejarah dunia.

Menuliskan panasnya rivalitas Real Madrid dan Barcelona akan selalu menarik. Dari segi politis, sejarah, taktik, hingga deretan pemain tidak akan membuatmu kehabisan bahan. Selalu ada hal baru yang akan terjadi dalam rivalitas kedua tim tersebut. Bahkan cara dua tim tersebut menutup dekade ini pun unik.

El Clasico antara Real Madrid vs Barcelona pada tanggal Rabu, 18 Desember yang berakhir imbang menunjukkan dua anomali. Pertama, ini satu-satunya El Clasico yang berakhir 0-0 dalam dekade ini. Kedua, kali ini Real Madrid menguasai Barcelona. Ini bukan lagi pertandingan yang mana Real Madrid berlarian tanpa tahu mereka mau ngapain. Ini adalah pertandingan dengan Barcelonalah yang tidak tahu mau ngapain; perilaku yang sudah terjadi selama separuh musim.

Sebagai fans yang punya pegangan pejah gesang nderek Madrid kaliyan Perez, saya terheran-heran dengan performa Barcelona di musim ini. Performa apik Madrid yang tidak kalah di 13 pertandingan terakhir dan hanya kebobolan 6 gol memang tidak istimewa dibandingkan dengan Barcelona. Tapi siapa pun pasti punya perasaan aneh saat memandang bagaimana Barcelona bermain di El Clasico kemarin.

Meskipun performa Madrid dan Barca musim ini aneh, dan itu memengaruhi jalannya El Clasico, namun menghakimi kedua tim tersebut hanya lewat satu pertandingan itu jahat. Sejarah dan rekor yang mereka torehkan bukanlah sesuatu yang mudah diduplikasi oleh tim lain.

Barca mendominasi Madrid pada dekade terakhir ini. Sebutkan skor El Clasico yang Anda ingat. Real Madrid dihajar 5 gol oleh Barcelona lebih dari sekali. Hal terburuk yang diterima Barcelona hanyalah kalah 3-1 melawan Madrid, itu pun cuma sekali. Mungkin jika ada hal buruk lainnya, itu adalah fakta selama Zidane menukangi Madrid, Barcelona tak pernah menang.

Tapi kalau ada pertanyaan, pada dekade ini siapa yang lebih baik, kita bingung menjawabnya. Kedua tim menunjukkan dominasi mereka tersendiri dan rekor mereka sendiri.

Berbicara tentang Barcelona, kita akan mengingat sihir Messi juga dominasi pertandingan yang ditunjukkan dengan permainan sistemik. Bagaimana mereka bisa membalikkan keadaan setelah dibantai PSG adalah contoh bahwa magi Barcelona tidak tertandingi. Kekuasaan mereka di La Liga hanya sanggup diganggu oleh Atletico Madrid dan Real Madrid, tapi masih bisa dianggap kerikil tak begitu berarti.

Dalam dekade terakhir, Barcelona juara Liga Champions 2 kali pada musim 2010/2011 dan 2014/2015. Tetapi, mereka juga sering gagal di semifinal dan membuang peluang yang sudah di depan mata. Contoh paling sahih ya ketika melawan Liverpool di musim 2018/2019.

Sekarang beralih ke Real Madrid.

Real Madrid dan La Liga seperti kurang berjodoh dekade ini. Sering secara ajaib Madrid kalah dari tim semenjana. Ia juga kerap membuang peluang sehingga jaraknya dengan Barcelona tambah lebar. Di musim ini Madrid bisa imbang cuma ketika Barcelona sedang terpeleset.

Tapi di Eropa, lain soal.

Di Twitter, ada fans Liverpool bilang jika Liverpool juara Premier League dan mempertahankan Liga Champions, Liverpool akan menjadi tim terhebat di dunia sepanjang masa. Tapi namanya fans, kadang emang sering nggak ngaca.

Real Madrid meraih The Big Ears tiga kali dalam tiga tahun berturut-turut. Dan lebih brengseknya lagi, Madrid meraih 4 kali juara dalam 5 kali gelaran liga Champions dekade ini. Fans Liverpool tersebut juga nggak ngaca kalau Madrid menjuarai Liga Champions di 2015/2016, lalu juara lagi di musim 2016/2017 serta menggondol pulang piala La Liga.

Kedigdayaan Real Madrid di dekade ini memang berada di Liga Champions. Dalam dekade ini, semenjak ditangani Maurinho kemudian Zidane, Real Madrid hanya satu kali gagal lolos di semifinal. Ada 9 kali gelaran, 4 piala digondol Real Madrid. Pada gelaran Liga Champions tahun ini, Zidane kembali ke Real Madrid dan bukanlah hal yang mengejutkan kalau akhirnya Zidane kembali pulang membawa piala.

Dekade yang akan berakhir ini juga memberikan napas persaingan yang baru untuk Real Madrid dan Barcelona. Tak ada Ronaldo vs Messi, saat ini adalah masa Rodrygo vs Ansu Fati. Madrid tidak lagi bergantung pada magi Ronaldo. Hazard, Rodrygo, Vinicius, dan Valverde adalah harapan baru Madrid. Di sisi lain, Barcelona terlihat terlalu mengandalkan Messi. Namun, dengan datangnya Griezmann dan moncernya Ansu Fati, rivalitas dua tim ini akan tetap panas.

Di dekade ketiga milenium ini, kita akan melihat banyak hal menarik dari kedua tim ini. Berdoalah diberi umur panjang untuk sanggup melihat rivalitas ini berdekade ke depan.

BACA JUGA Trent Alexander-Arnold, Si Belati di Balik Zirah Liverpool atau artikel menarik lainnya yang-bisa-dibaca-saat-jeda-transfer di rubrik BALBALAN.

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Leave a Comment