MOJOK.CODidukung pemain yang hebat di Real Madrid, Kaka seakan datang ke surga lebih cepat. Dia tidak menduga bahwa kepindahannya ke Madrid justru menjadi awal petaka kariernya.

Setelah turun dari kursi presiden Real Madrid pada 2006, Florentino Perez kembali memegang kekuasaan di pertengahan 2009. Perez kembali meluncurkan proyek ambisiusnya yang diberi nama Galacticos. Singkatnya, proyek Galacticos adalah usaha mengumpulkan pemain terbaik di bumi untuk bermain di bawah panji El Merengues.

Florentino Perez menjanjikan satu hal untuk Real Madrid, yaitu mendatangkan Kaka. Kita tahu satu hal. Jika Perez sudah menginginkan seorang pemain, yang tersisa hanya sebuah pertanyaan, yaitu “kapan”.

Dia ingin Zinedine Zidane, Zidane berlabuh. Bahkan dia berhasil mendatangkan Luis Figo dari tim rival abadi, Barcelona. Dan benar saja, Kaka menjadi pemain Real Madrid. Perez wants, Perez gets.

Perez tak hanya membeli Kaka. Xabi Alonso, Alvaro Arbeloa, Raul Albiol, dan Karim Benzema ikut didatangkan. Seakan tidak cukup, Perez mendatangkan satu pemain yang tingkat kebintangannya saat itu menyamai Kaka. Kita tahu siapa yang dimaksud, tak lain tak bukan, Cristiano Ronaldo.

Didukung pemain yang hebat, Kaka seakan datang ke surga lebih cepat. AC Milan, klub yang membesarkan namanya memang bukan tim sembarangan, tapi Real Madrid adalah kasus berbeda.

Real Madrid adalah tim dengan catatan sejarah bertabur emas. Bermain bagus tidak cukup, kau harus juara. Tanpa piala, namamu hilang dalam sejarah.

Namun, Kaka tidak akan menduga bahwa kepindahannya ke Real Madrid justru menjadi awal petaka kariernya.

Baca juga:  El Clasico Bisa Antiklimaks kalau Real Madrid dan Barcelona Gini Terus

Performa di musim pertama lumayan apik. Hanya saja, bukan itu yang diminta orang-orang di Santiago Bernabeu. Mereka “menuntut” Kaka dan Ronaldo untuk membawa kejayaan. Ronaldo memang gagal membawa Real Madrid juara. Tapi, dia sukses menciptakan banyak rekor. Sayangnya, Kaka tak bisa mencetak hal yang sama di Madrid.

Kaka tak mampu mereplikasi sihir yang ia tunjukkan di AC Milan. Tidak ada dribel yang mind blowing, tidak ada pergerakan luar biasa seperti saat membuat Patrice Evra dan Gabriel Heinze terlihat bodoh. Singkatnya, tak ada yang spesial dari pemain termahal kedua di dunia saat itu.

Belum cukup tekanan yang diterima karena performa yang tak istimewa, Kaka harus mengalami cedera demi cedera. Di musim pertama bermain untuk Real Madrid, dia merasakan pinggulnya sakit. Setelah bermain untuk Brasil di Piala Dunia, dia harus menepi sekitar delapan bulan karena cedera lutut parah. Lututnya tak pernah benar-benar sembuh selama bermain untuk Real Madrid.

Pada musim 2010/2011, Real Madrid membeli Mesut Ozil. Proyeksi awalnya, Ozil dibeli untuk menjadi pelapis Kaka. Namun yang terjadi sebaliknya. Ozil langsung nyetel dengan taktik Jose Mourinho, pelatih Madrid saat itu. Ketika Kaka sembuh dari cedera, dia mendapati bahwa tempatnya sudah hilang.

Kaka merasa bahwa dirinya pantas untuk kembali ke skuat utama. Kaka dan Mourinho sempat berbicara empat mata tentang apa yang harus dilakukan agar bisa kembali menjadi pemain inti.

Baca juga:  Bagaimana Mino Raiola Mengencingi Cinta Milanisti kepada Gianluigi Donnarumma

Mourinho hanya menjawab bahwa kenyataannya, tim lebih butuh Ozil dibanding dirinya. Dia berpikir bahwa Mourinho salah, tapi kenyataannya berbeda. Real Madrid juara La Liga musim itu dengan Ozil sebagai jenderal lapangan tengah dan mencetak rekor-rekor lain.

Kaka butuh menit bermain agar dirinya bisa bermain di Piala Dunia 2014. Meninggalkan Real Madrid adalah langkah paling masuk akal. Dengan catatan bermain hanya 120 kali, mencetak 29 gol dan 39 asis dalam empat musim, Kaka harus menerima fakta bahwa dirinya akan dikenang sebagai pembelian mahal yang gagal.

Kaka memutuskan kembali ke AC Milan, klub yang membesarkan namanya. Namun, dia hanya bertahan satu musim. Setelah itu dia bermain di MLS dan sempat dipinjamkan ke Sao Paulo sebelum akhirnya pensiun di Orlando City SC.

Perjalanan karier Kaka bagaikan lagu “Viva la Vida” dari Coldplay. Dia sempat berdiri di puncak dunia, dipuja banyak orang, dan dielu-elukan sebagai pahlawan.

Di akhir cerita, dia harus melihat kerajaan dan takhta yang ia raih hancur. Segala yang telah ia bangun dan raih harus hilang di depan mata.

“I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning, I sleep alone
Sweep the streets I used to own”

BACA JUGA 11 Pemain yang Kariernya Terkubur di Real Madrid dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.