Melalui tulisan ini saya hendak mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali keinginan untuk menonton konser musik. Sejak awal tulisan, saya perlu menyampaikan bahwa saya nanti akan beragumen bahwa apa yang disebut sebagai konser musik dan sebagainya saat ini seharusnya bisa ditinjau kembali mengingat kepentingan masyarakat luas.

Bagi Anda yang merasa bahwa menonton konser musik adalah urusan personal dan Anda merasa terusik karena ada orang yang berusaha mengutak-atiknya, sebaiknya Anda terlebih dulu berlatih bernyanyi di kamar mandi. Saya ingin Anda menjadi penyanyi. Penyanyi di kamar mandi, bukan penggembira yang meloncat-loncat di depan panggung konser musik sembari menghabiskan uang jutaan rupiah.

Saya menulis untuk orang yang masih percaya bahwa konser atau pertunjukan musik adalah tidak kaku, tidak absolut, dan dapat ditafsirkan ulang. Saya tidak ingin mengatakan bahwa segala sesuatu itu relatif. Tapi saya percaya bahwa konser musik bisa saja dipertimbangkan kembali sesuai konteks keadaan. Sesuatu yang tampak personal di masa lalu di tempat tertentu bisa saja menjadi tampak umum di masa kemudian di tempat berbeda.

Saya percaya bahwa konser musik adalah panduan untuk mengukur popularitas penyanyi dan kesetiaan para penggemar. Saya tentu saja bukan pengamat musik, bukan promotor pertunjukan, apalagi penyanyi. Namun saya percaya, kalau konser musik memang menjadi panduan popularitas dan kesuksesan penyanyi, maka konser musikjuga seharusnya membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas. Bila konser musik justru berkonsentrasi hanya pada kepentingan individu dan justru merugikan masyarakat, kita harus ragukan apakah konser musik itu memang penting diadakan.

Ini yang sekarang tampaknya terjadi dengan konser Bon Jovi, Ariana Grande, Taylor Swift dan sebagainya yang tiketnya mencapai 3 juta rupiah. Dalam pandangan saya, yang bisa saja salah, konser musik mereka di Indonesia tidak sejalan dengan upaya membangun kesejahteraan masyarakat miskin Indonesia.

Saya tahu bahwa tidak ada undang-undang atau peraturan pemerintah yang melarang diadakannya konser musik. Tapi itu tentu saja tak sendirinya berarti konser musik harus diadakan di Indonesia, dan ditonton oleh ribuan orang, dengan mengabaikan konteks tempat dan waktu. Negara karena itu bisa membuat aturan-aturan yang membatasi konser musik. Misalnya, syarat “kalau cukup umur” dan “kalau mampu”.

Seseorang yang akan menonton konser musik tapi dianggap tidak cukup umur dan belum bekerja, bisa dilarang untuk menonton konser musik. Atau kalaupun sudah cukup umur tapi tak punya pekerjaan, juga bisa dilarang karena golongan penonton semacam itu bukan termasuk golongan “kalau mampu.”

Dengan kata lain, menonton pertunjukan musik seharusnya adalah keinginan bersyarat. Syarat umur dan pendapatan.

Namun sebenarnya penafsiran tentang “kalau mampu” bisa menjadi sangat luas. Sebagai contoh, pertanyaan yang sering diajukan adalah: “Kalau seseorang memiliki uang cukup untuk menonton konser musik, tapi dia masih memiliki cicilan utang ke bank untuk membayar rumah atau masih memiliki anak yang biaya sekolahnya tinggi, apakah dia tetap boleh menonton konser musik?”

Yang ingin saya tunjukkan dengan contoh-contoh itu adalah memang sangat terbuka kesempatan kita untuk memikirkan kembali alokasi dana konser. Dalam kasus Indonesia saat ini, menonton konser musik terkesan menghabiskan dana yang sangat besar yang sebenarnya bisa digunakan untuk kepentingan membangun kesejahteraan masyarakat. Kita gunakan saja kalkulasi minimalis.

Untuk menonton konser musik, uang minimal yang harus dikeluarkan seorang calon penonton adalah sekitar Rp 500 ribu. Ini dengan perhitungan harga tiket termurah konser One Direction yang dijual tahun lalu. Jumlah penonton konser grup musik itu mencapi 50 ribu orang. Dengan demikian, dana total yang dikeluarkan untuk menonton konser One Directon adalah adalah Rp 25 miliar. Itu belum memperhitungkan tiket VIP yang seharga Rp 1,75 juta.

Jadi, dengan perhitungan minimalis saja, uang yang terserap untuk kegiatan menonton konser musik adalah sekitar Rp 25 miliar. Kalau setahun ada sepuluh konser, angka itu mencapai Rp 250 miliar. Belum lagi termasuk belanja penonton sebelum, selama, dan sesudah konser. Mulai dari membeli bensin untuk mobil mereka, membeli kaus bergambar penyanyi yang konser, membeli makanan dan minuman dan sebagainya. Kalau rata-rata setiap penonton membelanjakan 100 ribu rupiah, maka ada tambahan Rp 5 miliar sehingga dana yang dikeluarkan penonton untuk satu konser musik menjadi Rp 30 miliar.

Pertanyaannya: kalau Rp 30 miliar itu digunakan membeli gorengan, berapa banyak tahu, tempe, pisang yang harus digoreng penjual gorengan? Berapa banyak petani singkong dan pisang yang diuntungkan?

Ini semua memang sekadar simulasi. Namun yang ingin saya katakan: dana untuk menonton konser musik itu bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang jelas membawa efek berkelanjutan yang akan menyehatkan ekonomi Indonesia dan membantu kesejahteraan rakyat Indonesia.

Kita harus ingat bahwa Indonesia bukan negara sejahtera. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada September 2014 mencapai 27,73 juta orang atau 10,96 persen dari penduduk Indonesia. Tapi tolong catat, itu yang hidup di bawah garis kemiskinan, alias harus hidup dengan pengeluaran Rp 312 ribu per-bulan (atau sekitar Rp 10 ribu per hari).

Adapun yang miskin jauh lebih besar dari itu. Menurut Bank Dunia, kalau perhitungannya kelompok miskin adalah mereka yang di bawah atau sedikit di atas garis kemiskinan, itu bisa mencapai 50 persen penduduk Indonesia.

Jadi kalau dana untuk menonton konser musik itu sedemikian besar sementara kaum miskin kita juga sedemikian besar, tidakkah logis kalau kita merelokasikan dana menonton konser itu untuk membantu orang miskin?

Dan sikap ini adalah pilihan yang juga sesuai dengan seruan pemerintah untuk hidup sederhana dan mendukung gerakan “Ayo Kerja.” Menonton konser musik adalah pemborosan, dan tentu saja kegiatan itu bukan untuk bekerja.

Karena itu kampanye yang harus dilakukan adalah bukan iklan agar orang-orang menonton konser musik, tapi dorongan agar orang Indonesia menyumbangkan dana untuk membantu kaum miskin di lingkungan perumahan mereka, membantu pembangunan sarana publik, membantu kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang pro orang miskin, ikut mendanai pembangunan sekolah orang miskin, memberi beasiswa, membantu pembiayaan pelayanan kesehatan kaum miskin, menyumbang bagi LSM-LSM yang jelas-jelas membela kaum miskin, mendanai LSM atau gerakan anti-korupsi, mendanai gerakan pelayanan hukum bagi kaum papa,  membantu koperasi tani agar mereka tidak terjerat lintah darat, dan sebagainya, dan sebagainya.

Apalagi dalam kondisi ekonomi nasional yang sulit sekarang ini, menjadi terlihat semakin tidak pantas bila sebagian orang menghabiskan dana ratusan miliar untuk kepentingan kesenangan personal. Orang Indonesia harus berhemat dan pandai-pandai memanfaatkan uang yang ada untuk kepentingan bersama. Membantu orang miskin itu bukan urusan negara, melainkan urusan kita semua.

Dalam konteks itulah, saya menganggap mungkin sebaiknya orang Indonesia saat ini tidak perlu menonton konser musik apalagi disertai dengan niat ingin jadi penyanyi. Bila orang Indonesia mau, Indonesia bisa sejahtera. Ini kalau mau. Saya sih tidak mau.

 

(dijiplak dari tulisan Ade Armando berjudul: Meninjau Kembali Hukum Wajib Haji Saat Ini.)

  • Thomas S

    Nonton konser itu pakai uang pribadi. Bagaimana dengan Dewan yg jalan2 ke USA naik pesawat kelas bisnis & tinggal di hotel mewah yg seharusnya cukup beberapa hari diperpanjang untuk plesir yg dibayar pakai uang dari pajak yg dibayar oleh rakyat ? Apakah ini tidak lebih parah & perlu ditinjau ulang ? Jawab pertanyaan ini dulu, baru kita bahas uang yg kami krluarkan dari kantong kita sendiri !

    • Kuncarsono Prasetyo

      Guyon kok ditanggepi serius. Silahkan baca catatan Ade Armando dulu. Sebelum nulis komentar ini 🙂

    • nasruddin

      udahlah mas.. yg jln-jln keluar negeri terus selfie dengan orang bulie itu gak usah dipikirin.. orang2 yg buta tuli dan bisu hati nuraninya percuma kalau di urusin. menghabiskan energi waktu dan tenaga. aku gak mau dibandingkan dengan mereka. situ juga mestinya gak mau to?… kecuali kalo sekedar cari pembenaran dan pembelaan diri.. yo pasti sampean lebih baek lah,.. hehehe.

  • Kahfi
  • Lib Flow

    Aneh cara berpikir campur aduknya yang mencomot kepercayaan pribadi dengan “kemaslahatan” masyarakat dan tujuan membangun kesejahteraan rakyat miskin di Indo. Untung sampeyan bukan presiden, jalan pikirannya terlalu kecil.
    Then again, namanya opini, ya wis. “Saya menulis karena saya bisa mengetik dan mengirim tulisan saya ke media yg mau menerbitkannya seperti mojok.co,” sepertinya itu kesimpulan utama si penulis.

    PS: guyon ya mas.

  • preeeeet

    ZzzzzzzzzzZzz

  • mahardika

    konser musik untuk mengumpulkan massa partai, gratisan dan nggombloki

  • Konser musik dengan artis luar negeri itu termasuk pemborosan devisa. Mending undang New Pallapa saja sudah bisa joged sealun2.

  • Eko Setiawan

    Lek rak kuwat tuku tiket konser Bon Jovi….tuku Bon Cabe wae… gae konco indomie telor..

  • rozan

    Kapitalis kok didikte. Bukan kapitalis namanya kalau uang kita jadi urusan banyak orang. Seharusnya yang diperbaiki itu daya saing dan daya jual pedagang gorengan. Itulah kenapa taylor swift memilih jadi penyanyi yang lebih laris daripada jual gorengan. Seharusnya penjual gorengan banting setir jadi penyanyi saja biar bisa makmur. Gitu aja kok repot. *sambil mengunyah gorengan & memahami paradoks*

  • Lucu ya orang Indonesia.. Beli tiket konser bukannya termasuk pajak? Kenapa ga mikirin pajaknya aja? Kok mikirin duit orang? ?

    • nggakmikir

      yang bener itu duit sang pencipta, orangnya dititipin doank sama penciptanya mas, biasakan mengajak orang untuk berpikir besok bakalan meninggal, jadi berbuatlah yang terbaik, tapi terserah mas, saya juga nggak mikir, ikutan jokowi nggak mikir, copras capres, surpa surpe, pokoknya fokus jakarta 5 tahun, kalo masih banjir tunggu saya jadi presiden dulu #eh

      • rozan

        Kapitalis itu gak butuh Tuhan. Karena kapitalis itulah Tuhannya.
        Namun saya bukan kapitalis, karena masih butuh gorengan. Lebih murah untuk menahan lapar perut kecil ini. Dimana kuota internet lebih penting daripada jeritan perut.

  • Wisnu Made

    Halaah ribet amat jd org mas! Mau nonton ya nonton ajaa! Urusan org mampu apa ngga itu masalah pribadi.. ga ada yg berhak ngatur. Band2 artis luar kesini bukan buat mensejahterakan rakyat.. tp buat cari duit.. Kalo org mau nonton atau usaha biarlah dia yg gerak ga ush dikomenin lagi.. malah org yg gak gerak tp ngomong doang itu yg ga bakalan maju. Kebiasaan org Indonesia mmg apa2 yg ga penting dikomenin. Pdhl yg komen belom tentu bisa apa2..

  • Faris Marino

    yang perlu diprotes adalah, pihak-pihak yang udah bayar tiket konser, tapi pas konser malah sibuk ngerekam pake handphone/tablet mereka. sehingga mengganggu orang lain yang juga menonton konser. WTF. itu perlu upaya hukum agar secara seksama bisa dihilangkan dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

    • ayatayatadit

      Ini Bon Jovi, bukan bedil ro kembang mas. Kalo yang itu udah dilabrak langsung Axl Rose.

  • berniemohammad

    agak gak setuju sama tulisan ini
    karena biar bagaimanapun konsumsi masyarakat bakal mempengaruhi perekonomian nasional 🙂

    Tapi saya hargai pendapatnya 🙂

  • ayatayatadit

    Dan tulisan ini menjadi cermin terhadap tulisan yang menyebut pelaksanaan ibadah haji tidak lain hanyalah pemborosan…

  • yohan arie

    Ini pada baca tulisannya sampe selesai ngga sih?

    Susah kalo sarkas n satir harus dijelasin.

    • Satrio Ganteng

      Tadinya sy jg mikir tumben tulisan mojok kok ndak mutu, tp begitu liat nama ade armando sy barubaru ngeh

  • Pur Nawan Syah

    hehehee,,,intinya kan ada di akhir catatan,,(dijiplak dari tulisan Ade Armando berjudul: Meninjau Kembali Hukum Wajib Haji Saat Ini.) jelas sudah..

  • trolololo

    Melihat banyak orang yang kelihatannya pintar tapi gagal paham juga, entah kenapa saya menyimpulkan kalo satir gaya kayak gini masih ketinggian untuk sebagian masyarakat Endonesa :3

    • Ruls Yudha Aprillio

      haha… bener om.. kebanyakan pada kurang piknik, :v

      • rozan

        Terserah lah, orang mau ngomong apa.
        Kebenaran dan ketidakbenaran bukan monopoli siapapun.
        Namanya juga komen.
        Kalo komennya yang satiris bagaimana?

  • jaka permana

    rindu sama cerpen cak dhalom nya cak…

  • Setsuna F Seiei

    haha…baru “ngeh” ternyata terinspirasi dari tulisan bang ade :v

No more articles