Sambil tidur-tiduran di lincak, Cak Dlahom mendengarkan suara penceramah di masjid yang disiarkan lewat loudspeaker yang disetel sangat keras. Tarawih belum selesai. Tinggal menunggu witir.

Suara penceramah itu menggebu-gebu. Mengajak para jamaah, agar di bulan Ramadan memperbanyak ibadah karena Ramadan adalah bulan penuh berkah dan sebentar lagi akan berakhir. Iblis pun dipenjara, agar tidak menggoda manusia.

“Iblis makhluk terkutuk. Dilaknat oleh Allah. Ia sudah layak dibelenggu, karena memang tak berguna.”

Pas mendengar kalimat itu, Cak Dlahom bangun. Dia merapikan sarungnya. Mengenakan peci lalu setengah berlari menuju masjid. Tiba di masjid, dia melihat si penceramah masih terus berkhutbah. Sebagian jamaah serius mendengarkan tapi lebih banyak yang sudah mengantuk. Sebagian menguap berkali-kali.

Cak Dlahom masuk ke masjid. Dia berdiri di dekat pintu masuk dan mengacungkan tangan. “Mas…” katanya.

Semua jamaah yang masih melek menoleh ke arah pintu. Si penceramah menghentikan ceramahnya.

“Ya, Cak Dlahom?”

“Boleh saya bertanya?”

“Silakan, Cak. Saya malah senang. Ini namanya interaktif. Apa yang sampeyan mau tanyakan?”

“Kok sampeyan tahu, Iblis makhluk itu tak berguna?”

“Silakan duduk dulu, Cak…”

“Saya mau berdiri saja.”

“Karena Iblis pembangkang pada Allah dan pengggoda manusia, Cak.”

“Sampeyan tahu tah, Iblis itu siapa?”

“Dia makhluk laknat, Cak. Makhluk terkutuk. Penyebab manusia malas berbakti kepada Allah.”

“Sampeyan mengulang-ulang terus. Saya tanya: sampeyan tahu siapa Iblis?”

“Ya tidak tahu, Cak. Tak mungking orang tahu.”

“Kalau tidak tahu, saya kasih tahu. Iblis itu dulunya penghulunya orang alim. Doanya dikabulkan oleh Allah. Dan dia, masih berbakti kepada Allah meskipun telah dikutuk jadi Iblis.  Lah sampeyan, kita semua, ini siapa?”

Suara Cak Dlahom terdengar keras. Suasana di masjid mulai gaduh. Jamaah yang mengantuk dan sempat tertidur langsung terbangun. Mereka, sebagian besar termasuk si penceramah tahu, atau setidaknya menganggap diri mereka tahu: Cak Dlahom orang yang kurang waras tapi tahu ilmu agama. Dan Cak Dlahom yang merasa mulai jadi pusat perhatian, malah maju ke depan. Dia duduk di barisan depan jamaah.

BACA JUGA:  Bersedekah Kok Minimalis dan Biasa-Biasa Saja

“Maksudnya, Cak?”

“sampeyan itu loh siapa, kok bisa bilang Iblis tak berguna?”

“Saya Fulan, Cak. Penceramah.”

“Saya tahu. Sampeyan itu tergesa-gesa menilai makhluk Allah. Tak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia, termasuk Iblis.”

Suara Cak Dlahom, sekali lagi terdengar keras. Seperti membentak.

“Nah gitu, Cak, sampeyan duduk. Kan jadi enak…”

“Saya ke sini bukan hendak mendengarkan ceramah sampeyan. Saya hanya mau tanya.”

“Sudah saya jawab, Cak.”

“Bagaimana sampeyan bilang Iblis, makhluk tak berguna, sementara sampeyan sendiri tidak tahu siapa sampeyan?”

“Tadi kan sudah saya bilang, Cak, saya penceramah di kampung ini.”

“Sampeyan ini baru jadi penceramah saja, sudah seperti paling tahu siapa Iblis.”

“Jadi menurut sampeyan, apa gunanya Iblis, Cak?”

Ditantang seperti itu, Cak Dlahom malah seperti kesurupan. Dia meminta mikrofon masjid dimatikan dan segera bercerita tentang kisah Nabi Sulaimana A.S.

Nabi Sulaiman pernah berdoa pada Allah pada suatu hari agar diizinkan menangkap Iblis dan mengurungnya. “Ya Allah, Engkau telah menundukkan untukku bangsa manusia, jin, binatang, burung-burung dan para malaikat. Kini izinkan aku untuk menangkap Iblis dan memenjarakannya agar manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.”

Doanya dikabulkan Allah karena Sulaiman adalah salah satu kekasih Allah tapi sebelum dikabulkan, Allah telah bertanya kepada Sulaiman. “Wahai Sulaiman, untuk apa dirimu menangkap Iblis? Ketahuilah, menangkap dan memenjarakan Iblis sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebaikan bagimu dan manusia.”

Sulaiman ngotot.

“Ya Allah makhluk terkutuk itu tidak ada kebaikan padanya.”
“Jika Iblis tidak ada, maka manusia tidak akan bergairah beribadah.”
“Ya Allah, izinkan aku menangkap Iblis hanya untuk beberapa hari saja.”
“Baiklah, atas namaku, dengan rahmatku dan izinku, engkau bisa menangkap Iblis.”

Sulaiman pun menangkap Iblis dan mengurungnya di bawah tanah yang gelap. Beberapa hari kemudian, seseorang yang diutus Sulaiman  untuk menjual aneka kerajinan ke pasar, pulang dengan tangan hampa. Kejadian seperti itu berlangsung sekian hari. Orang itu tak berhasil menjual sebuah pun kerajinan buatan Sulaiman karena tak seorang pun yang dijumpainya di pasar.

BACA JUGA:  Bukan Nasihat Khaidir kepada Gus Mut

Sulaiman keheranan hingga dia kemudian bertanya kepada Allah, apa yang sebetulnya terjadi. “Wahai Sulaiman, menangkap dan memenjarakan Iblis tidak akan mendatangkan kebaikan pada manusia karena manusia menjadi tidak bergairah dalam beribadah dan mencari nafkah.”

Sulaiman tertunduk. Dia teringat pada Iblis yang sudah beberapa hari dikurungnya di bawah tanah. Demi mendengar penjelasan Allah bahwa menangkap Iblis tidak mendatangkan kebaikan pada manusia, Sulaiman melepaskan Iblis. Pasar pun kembali ramai, juga tempat ibadah.

“Sekarang, apa sampeyan masih mau mengatakan, Iblis makhluk tak berguna?”

Suasana di masjid mendadak senyap. Seolah Iblis menutup mulut para jamaah. Semua jamaah hanya melongo. Si penceramah juga terperangah mendengarkan Cak Dlahom, berusaha menjawab pertanyaan.

“Tidak, Cak. Saya keliru. Saya minta maaf…”

“Sampeyan tidak keliru, Mas. Kita semua ada di masjid ini, termasuk sampeyan yang menjadi imam salat dan berceramah memberi nasehat, justru karena Iblis yang berfungsi sesuai kehendak Allah: menggoda kita, mempengaruhi kita. Seandainya Allah tidak menghendaki Iblis untuk menggoda sampeyan semua, sampeyan  tak akan ada di sini untuk meramaikan malam Ramadan dan berbakti kepada Allah.”

“Tapi, Cak, bukankah Iblis dirantai selama bulan Puasa?” Seorang jamaah memberanikan bertanya.

“Iya, betul, tapi Iblis yang menari-nari di hati dan pikiran sampeyan tetap menggoda. Maka beruntunglah sampeyan karena dengan kehendak Allah, Iblis ikut menyebabkan sampeyan datang ke masjid ini untuk bertarawih dan menderes Al Quran.”

Selesai menjawab pertanyaan itu Cak Dlahom berdiri dan keluar masjid, tapi dia tidak cekikikan seperti biasanya. Mulutnya malah berseru, “Iblis… Iblis… Kasihan betul kamu.”

Jamaah masih melongo. Si penceramah memberi isyarat supaya salat witir segera dimulai.

 

(diinspirasi dari cerita-cerita yang disampaikan Syeikh Maulana Hizboel Wathany)

 

No more articles