Seorang kawan meminta agar saya tidak menulis soal dibolehkannya warung-warung tetap buka selama bulan puasa oleh Menteri Agama. Alasan dia, akan menambah ruwet dan membuat perdebatan menjadi tak karuan. Kalau pun mau menulis, saya diminta untuk tidak memanas-manasi. Kalau saya tetap menulis, dia memberikan jalan keluar, agar saya menulis yang intinya adalah warung-warung makan boleh-boleh saja buka di bulan Puasa tapi tak usah vulgar. Ditutup tirai atau kelambu, seperti pada bulan-bulan Puasa yang sudah-sudah.

Saya tak menjawab permintaan kawan itu yang disampaikan lewat Whatsapp. Selain saya tidak kenal dengan dia, saya juga ogah disuruh-suruh menulis atau tidak menulis sesuatu. Tapi karena dia, saya kemudian memilih untuk menulis soal dibolehkannya warung-warung makan buka selama bulan Puasa, juga tempat-tempat hiburan malam di malam harinya. Bagi saya, pernyataan Menteri Agama patut didukung karena beberapa sebab.

Pertama, negara kita bukan negara yang berlandaskan hukum Islam. Ini negara Pancasila, meski sebagian besar rakyatnya belum tentu hafal bunyi lima sila, apalagi jumlah bulu di ketek burung Garuda, lambang negara. Karena negara Pancasila, semua orang dengan kepercayaan masing-masing dilindungi kebebasannya menjalankan ajaran kepercayaan masing-masing dan saling hormat-menghormati. Bertoleransi. Tenggang rasa. Persis seperti ajaran Islam “Lakum diinukum wa liyadiin” itu.

Bahwa dalam prakteknya masih banyak orang  justru dikucilkan hanya karena menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing, marilah dibahas di media sosial. Diperdebatkan dengan ejekan-ejekan, dengan memamerkan kepintaran masing-masing dan kalau perlu sambil menyerang kepercayaan dan keyakinan yang berbeda lewat pengetahuan masing-masing yang juga diyakini masing-masing. Publik akan tercerahkan, perdebatan itu dikutip media online. Sampai beberapa jam kemudian atau besoknya, segera dilupakan kembali. Masing-masing balik lagi ke kehidupan nyata: mencari utangan untuk bayar cicilan kredit, atau meniduri anak gadis temannya.

Kedua, karena menyangkut kepentingan ekonomi para pemilik warung makan semacam warteg. Cobalah pejamkan mata. Ambil napas dalam-dalam lalu bayangkan, wajah-wajah mbak-mbak dan bapake pemilik warteg yang nelangsa jika warung-warung mereka tidak boleh buka. Di luar bulan Ramadan saja, penghasilan warung mereka sudah mulai banyak yang turun karena, antara lain, harga jengkol mulai sulit dihitung angka ekonomisnya agar bisa dimasak dan dijual kepada pelanggan.

Lagipula bulan Puasa bagi sebagian orang adalah masa untuk mengais rezeki, untuk bekal merayakan Lebaran. Bagi mereka yang mendapat jatah THR mungkin tidak ada persoalan, tapi bagi pemilik warung-warung makan kecil, mereka butuh mencari dan mendapatkan THR untuk dibawa pulang merayakan Lebaran, dan mereka bisa mendapatkannya kalau makanan di warung mereka ada yang beli. Berbeda masalahnya bila nanti pemerintah berbaik hati. Misalnya, dengan mengeluarkan Kartu Indonesia Lebaran yang dibagikan ke orang-orang kere sebagai syarat mendapatkan THR gratis di kantor-kantor kelurahan.

Ketiga, menyangkut ajaran agama itu sendiri. Bulan Puasa adalah bulan baik. Dianjurkan bersedekah sebanyak mungkin. Berlatih untuk selalu berprasangka baik dan membuang prasangka buruk. Karena itu, orang-orang yang membeli dan makan di warung makan di bulan Puasa harus disangka baik sebagai orang yang hendak bersedekah. Mengalap pahala. Soal tidak puasanya, biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhannya.

Pernyataan Menteri Agama sekaligus adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berpuasa, agar kualitas puasanya meningkat. Puasa bukan soal menahan lapar dan dahaga saja, apalagi hanya ngiler melihat orang menyantap sengsu di siang hari. Puasa adalah menahan diri, termasuk untuk tidak marah melihat orang lain makan di depan kita. Lagipula, sejak kapan ada ajaran bahwa orang berpuasa harus dihormati? Puasa itu kesadaran, dan hanya Allah yang tahu kadar puasa orang yang berpuasa.

Kelima, pernyataan Menteri Agama itu juga bisa dijadikan tolok ukur konsistensi pemerintah melindungi kelompok minoritas. Orang-orang yang ditepikan. Misalnya perlindungan kepada kelompok perokok.

Sudah sekian tahun, kantor-kantor dan banyak tempat membuat larangan merokok tapi tidak menyediakan tempat untuk orang merokok seperti yang telah diatur oleh undang-undang. Para perokok dianggap tidak layak diberi tempat. Terutama bagi mereka yang berkampanye anti-rokok, perokok dianggap sebagai kelompok sesat yang perlu diajak kembali ke jalan yang benar: tidak merokok, atau tidak diakui di mana-mana.

Dengan kalimat lain, kalau di bulan Puasa warung-warung makan dipersilakan buka untuk menghormati hak-hak orang-orang yang tidak berpuasa dan orang-orang yang berpuasa tidak perlu meributkannya, maka hormati pula hak-hak para perokok dan orang-orang yang tidak merokok tidak perlu meributkannya. Apalagi sampai membuat kampanye anti-antian.

Kantor-kantor, pusat belanja dan lain-lain, karena itu mestinya juga segera mencabut larangan merokok.  Minimal, kalau tidak mampu menyediakan tempat untuk merokok, para perokok diperbolehkan merokok di tempat terbuka. Bukan dilarang-larang, apalagi sampai disidang oleh hakim seperti kejadian beberapa waktu lalu di Jakarta, ketika sepasang anak muda disidang dan didenda hanya karena ketahuan merokok di pelataran sebuah pusat belanja.

Ini negara Pancasila, tapi kenapa tidak ada toleransi dan tenggang rasa kepada para perokok?

Karena itu saya mendukung ide Menteri Agama bahwa warung-warung makan boleh buka selama bulan Puasa. Puasa kok manja. Tak merokok, kok melarang-larang.

  • Bonitha Merlina

    Jangan lupa ada perempuan manis” yang juga butuh warung dan restoran tetap buka 😀

    Teman yang sedang hamil namun ga kuat berpuasa, teman yang sedang menyusui sehingga butuh banyak asupan gizi serta kami” yang menstruasi.

    Ahhh pokoknya mendukung sikap Pemerintah RI melalui bapak Menteri yg tampan itu lah 😉

  • lala

    penulisnya mungkin jamaah nahdhotul udud?

    • Who Am I

      Ini maksudnya opo?
      Malah rasis gini

      • lala

        rasis dari mana ya? adakah ras yang saya jelek-jelekan di situ? realitanya ada aliran keagamaan yang pengikutnya sebagian besar pecinta udud, lantas ada yang menjuluki mereka nahdhatul udud, kalau tidak terima ya buktikan jika tuduhan itu salah, bukannya malah saya yang dicap rasis, hehehe….. maaf lho kalau terlalu jujur

  • Mas Bengbeng

    ancuur..

  • Igo Edogawa

    Tulisannya adem. Paling suka kalimat ini: sejak kapan ada ajaran bahwa orang berpuasa harus dihormati? Puasa itu
    kesadaran, dan hanya Allah yang tahu kadar puasa orang yang berpuasa. Ya esensi puasa ya itu. Dalam menanggapi soal perselisihan toleransi ini teman saya pernah bilang,” Ingat, anjuran berpuasa bagi hanya bagi mereka yang beriman, jadi kalo memang gak mau puasa ya silakan. Iya gak?”

  • Mamad Vodkabilly

    poin ketiga keren (y) . tapi pas pindah ke poin lima baru sadar ternyata poin empat gak ada :v

    • kabut mimpi

      wahahaha…baru nyadar saya, poin empatnya ilang…..mungkin poin ke empat tereliminasi… 🙂

    • penjaga kantin

      cerdas nih… :))

  • Fransiscus Aditya

    Makan di warung makan = Merokok di tempat umum?
    Logical Fallacy mas. 🙂

    • Mizuhashi Ritsu

      Yup. Bener bgt.

  • Chatarinaa

    Tapi…tapi..asap rokok bikin saya (dan beberapa orang dekat saya) gak nyaman (bau, mata perih, pusing)… :((
    Gak bisa disamakan dg deketan sama orang makan :((

  • Iwan Yahya

    Trus…. apa hubungannya negara Pancasila dengan toleransi dan tenggang rasa kepada para perokok? *mikir keras*

    Maaf atas pertanyaan Oon dr saya 😀

  • Gurfa

    Oh. Tulisan inlander. Maklum. Bungkus yang sebenarnya gak bener seolah-olah bener banget.
    Kata-kata emang paling bisa buat jadi sihir.

  • Nurlita Noviana

    Terus hak buat yang gak merokok bagaimana mas? harus legowo gitu ya hirup asep rokok dari perokok?

  • aan

    lebih baik berpuasa dan tidak merokok bila kita orang beriman

  • Kawan WhatsApp yang tidak Anda kenal itu berhasil menyuruh Anda nulis hal ini dengan meminta Anda tidak menulis, Mas. Hehehehe

  • Indra Pratama

    Pendapat yang buruk adalah memperbandingkan dua hal yang tidak apple to apple. Penulis nampaknya tidak meninggalkan adiksinya akan rokok ketika menulis tulisan ini.

    Orang yang tidak berpuasa, atau warung yang berjualan di waktu puasa, tidak akan merugikan apa-apa bagi orang yang berpuasa, baik secara moril, materil, atau fisik. Orang-orang bodoh yang merokok di tempat umum, merugikan orang lain, karena pada kenyataannya, asap rokok mustahil untuk 100% dihisap oleh perokok. Fakta bahwa ada orang lain dirugikan secara moril, materil, dan tentunya, fisik, oleh asap rokok, membuat para perokok wajib dilarang, oleh negara maupun swasta, merokok di tempat umum. Ketika tidak ada tempat khusus untuk merokok, para perokok wajib untuk menahan diri untuk tidak merokok.

    • no body

      itu namanya tehnik numpang. numpang kejadian himbauan menteri buat jadi pembenaran teori pribadi yang ngga nyambung. huehue.

  • Mbah Darmo™

    Silakan merokok, asalkan asapnya Anda telan sendiri !

  • pramagista

    wokelah kalo kita yang tidak merokok harus menghormati ahli HISAB (baca : perokok), toh kami tidak pernah melarang kaum yg satu ini untuk klepas-klepus, tapi tolong, sekali lagi tolong, kalo lagi merokok, asapnya dihisap untuk sendiri saja, gak usah dikeluarin lagi, mubadzir…

  • Lyra Yolantinova Caturnanda

    Mungkin bandara di Bali tidak usah di tutup waktu Hari raya Nyepi. Hormati orang yang tidak merayakan Nyepi juga 🙂

    • no body

      “…Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan)….” (https://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi)

      Trus karyawan bandara yang jelas mayoritas umat Hindu mau disuruh kerja? Sama aja ngelarang mereka menjalankan ibadah Nyepi.
      Kalo bikin perbandingan tuh apple to apple, jangan apple to gayung.
      Kalo petugas bandara cengkareng dilarang puasa baru pantes komentar kaya di atas.

  • Hijrah Store

    ini sih artikel untuk membela diri, bukan menyampaikan kebenaran. Semoga anda bisa belajar melihat sesuatu dari sudut pandang kebenaran, bukan kenyamanan pribadi anda.

  • Yusuf

    Karena kebenaran, dan juga ketidakbenaran, bukanlah monopoli siapapun. Sila merokok, asal tidak merugikan. Sila berpuasa, asal tidak kafir-kafiran.

  • Ariezzoella

    namanya juga tempat umum vrohh..
    masalah 1 orang bisa jadi masalah semua orang :V
    ada 1 orang bawa bom trus meledak?
    ya yang di deketnya ikut meledak
    inget itu namanya “TEMPAT UMUM”
    bila anda tidak ingin terkena masalah “jangan pernah ketempat UMUM”
    waspadalah waspadalah :v

  • Aryo Heksono

    merokok itu baik, tidak merokok itu lebih baik…gitu aja, nggak usah “kafir-kafirkan” perokok, yang perlu di promosikan adalah bagaimana menjadi perokok yang “berakhlak” alias perokok yang baik…propaganda anti rokok tidak akan bisa melenyapkan asap rokok dari muka bumi…mending di jadikan propaganda tentang sosialisasi cara merokok yang baik….ganti slogan-slogan ” merokok membunuhmu”, “merokok sebabkan kanker mulut” dll, dengan slogan “merokoklah ditempat yang disediakan”, “hematlah rokok, nyalakan disaat yang tepat”, “buang puntung segera ditempat sampah”, …yang jelas perokok bukan pelaku kriminal yang harus dikucilkan atau dipinggirkan…..hanya ada satu harapan untuk melenyapkan asap rokok dari muka bumi yakni hijrah ramai-ramai ke akhirat! (itu aja belom tentu jangan-jangan di akhirat disediakan juga tembakau…hehe…wallahu a’lam)

    • slogan “merokoklah ditempat yang disediakan”, “hematlah rokok, nyalakan disaat yang tepat”, “buang puntung segera ditempat sampah”

      Setuju….:)

      • Aryo Heksono

        yup…we are “green smokers” sis….

  • Edoardus Agni Damar Prehapsaka

    Kok bawa-bawa rokok?
    Dari awal masalah warung tutup / buka pas puasa tiba-tiba saja ke rokok.

    Materi sudah bagus, pembawaan udah menarik.
    Next time diperbaiki biar gak salah bikin perbandingan.

  • Kau Lihat Tak Kau Rasa

    ini orang – orang pada ga ngerti maksud sebenarnya wakakakaka…

    • sirotobi

      maklum , mereka butuh refreshing.

      • Fabulinus

        Maklum, si penulis kayakny kecanduan rokok tapi lagi puasa

    • Fabulinus

      soalnya analogi yang dipakai memang terlalu dipaksain. wkwk..
      masak “makan” dibandingin sama “ngerokok”?? terus “orang puasa” dibandingin sama “orang ga ngerokok”??

      padahal “orang puasa” itu berbeda dengan “orang ga makan”. Pengemis yang ga makan kan juga banyak & itu bukan berarti mereka ga makan karena puasa.

      “orang puasa” liat “orang makan” itu malah nambah pahala (bagi yg merasa meyakini)
      Lah kalo “orang yg ga ngerokok” ngisep asep rokok dr “org yg ngerokok”, ini mah dapet pahala KAGAK, dapet kanker paru2 IYA.

  • Dodi

    merokok kan bukan makanan pokok bahkan tubuh akan lebih baik tanpa rokok. nah mas ini tinggal berusaha berhenti merokok saja yang sudah jelas dampaknya negatif ga usah manja deh!

    • kitri waris

      UPS SORRY BRO… emang ada obat,nya buat berhenti gag merokok ???????? !!!!!!!!

      • Agung Pambudi

        Ada.. harus ada keinginan kuat untuk berhenti.. kalo cuma niat tapi ga ikhtiar mah sama aja..

      • Puput

        Ada kok, niat n usaha itu obatnya, papa saya juga prokok aktif dlu, ampe drawat berbulan” , alhamdulillah sekarang udah gak lagi, pertama berhenti beliau gantiin rokok ama permen, gk bisa kurang permen, n sekrang dh biasa aja kok
        Gk perlu ampe pulahan tahun buat adaptasi gk ngerokok

  • Pipiet Handayani

    how stupid, perbandingannya tidak apple to apple, karena asap rokok sangat merugikan bagi kesehatan, kalau mau sakit ya sakit sendiri aja, ngapain kok bawa2 orang yg ga merokok

  • sirotobi

    tulisannya keren #sambilhisaprokok semburin kemuka muka mereka asapnya.kalau ga mau kena asap ga usah punya hidung.

    • RealityBestServedCold

      bener..tulisannya keren #SambilNgeludahKemukaLu..kalo muka lu ngga mau kena ludah ya ga usah punya muka

      • sirotobi

        wah sorry coy, kami para perokok ga pernah ludahin muka orang. dosa itu. #sambilhisaprokok semburin kemuka lu

    • Fabulinus

      wkwkwk.. untung di Indonesia ga ada budaya “makan sambil nyemburin nasi ke muka orang”
      klo budaya “perokok nyemburin asep ke yg ga ngerokok” mah udang mendarah daging kykny di negeri ini.

  • Curp

    Yang penulis perjuangin (salah satu dr sekian) itu tempat khusus merokok kan? Supaya ga deket2 sama yg ga merokok (saya, contohnya)?

    Ya gapapaa

  • farid

    Silahkan merokok tapi telan asapnya!! Tdk bisa? JANGAN MEROKOK!!

  • Arjuna Pandawa

    Menurut saya yang poin 3 ada yg salah tuh pernyataannya..setau saya, semua orang harus
    saling menghormati, yang artinya orang yang berpuasa jg harus dihormati. jadi
    pernyataan “sejak kapan ada ajaran bahwa orang berpuasa harus
    dihormati?” harus diganti. mungkin pertanyaannya bisa diganti jadi “sejak
    kapan ada ajaran bahwa cuma orang berpuasa yang harus dihormati?”. Nah, itu mungkin
    lebih tepat..

  • Fabulinus

    masak “makan” dibandingin sama “ngerokok”?? terus “orang puasa” dibandingin sama “orang ga ngerokok”??

    kalo makan mah ditelen sendiri.
    kalo ngerokok, emang bisa asepnya ditelen sendiri?

  • miftah arrhmn

    agak gk cocok logikanya,
    asap mengotori oksigen milik bersama lho, dan biasanya dilakukan diruang publik (tempat banyak orang berkumpul bernafas).
    bicara soal berprasangka, kudunya yg buka warung juga berprasangka baik, gk jualan rezeki tetap ada jatahnya masing2.
    jangan seperti supir angkot yg ngetem, gak pernah yakin klo di depan ada penumpang…

  • Hasan Hasan

    Lagi2 ngantuk bacanya… monoton. muter2 nggak jelas. awal bahas warung, ujung bahas rokok, wakakak. website ini punya editor nggak sih? kualitas tulisan ini bukan cuma menyedihkan, tapi horor. benar2 hororrr

  • Aisha Sabila

    Merokok itu kegiatan yang merugikan atau mengganggu orang lain dengan asapnya. Merugikan orang lain berarti tidak menghormati orang lain. Sudah tidak menghormati kok minta dihormati?

  • Sugeng Sudjatmiko

    saya masih bisa tolerir yg makan depan saya meski sedang berpuasa, asal jgn yg merokok didepan saya… asapnya ga nahan, pabrik rokok harus improve gimana supaya asap rokok itu ditelan sm perokok…

  • Antario Terryandana

    Kalo cuma liat orang makan sih tdk apa-apa, sama halnya dgn kalo cuma liat orang ngrokok. Yang jadi persoalan adalah kalo orang yg lagi makan itu mencekoki saya dengan makanan yg dia makan, sama halnya dengan orang yang sedang merokok mencekoki saya dengan asapnya. Pada intinya, silahkan makan atau merokok, asalkan makanan atau asap rokok itu kalian habiskan sendiri.

    Hati-hati ya mas kalo bikin artikel…

  • Ichsan Amrin

    ini bener wartawan yg nulis? kok logikanya mandek gini.. :))
    ngerokok asal semua asepnya disedot sendiri sih ya silakan aja mas..

  • @pawjipaw

    Buka/tutupnya warung makan pas puasa lebih ke persoalan ekonomi, bukan masalah hormat-menghormati. Dari dulu, warung makan banyak yang tutup pas puasa karena nggak banyak yang beli. Kalau mereka tetap buka, siapa yang mau beli? Paling satu-dua orang, akhirnya malah rugi sendiri, banyak kebuang. Siapa yang mau nanggung kerugiannya? Toh kami, muslim yang puasa juga ga ngelarang-larang mereka buat buka kok. Kenapa makin ke sini yang diangkat permasalahannya malah soal hormat-menghormati pihak mayoritas vs minoritas? Heran (._. )

  • @pawjipaw

    Oh iya, soal merokok… really? *geleng-geleng kepala* *ga masuk logika*

  • Armino Richo Tomimura

    Sudah bnyak korban akibat rokok. Keponakan saya meninggal karena kanker paru hanya karena jadi perokok pasif. Padahal sedang mengambil S2 di ITB jurusan elektro. Mati sia2 gara2 manusia perokok yang tidak punya jiwa tolerasi merokok seenak jidat tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain. Apalagi yang merokok dekatanak bayi sama ibu hamil. Bener2 keterlaluan. Berapa duit negara habis buat dana kesehatan bagi orang2 yang sudah tau cari penyakit.

  • Jika saat puasa anda menjumpai warung yang di tutup tirai ramai dengan pembeli, perokok udud kedal kedul maka saat itu Tuhan menguji keimanan anda. mampukah anda meneruskan puasa hingga kentong maghrib tiba atau sebaliknya?

    http://www.soearamoeria.com

  • odon

    Lho yang nulis ini wartawan apa tukang ngebikin orang kalap sih,.!!! klo elhowarwatan punya etika dikit dong kalo nulis, punya izin gak sih ini web..???

  • DSW

    Hahaha! Membayangkan wajah penulis yang glagep-glagep nelen asap rokoknya sendiri sambil membaca huja(ta)n komentar yang…mungkin sengaja dituai (baca; telen) sendiri secara sadar… *nekat…

  • brilliant child

    Yang masih kelihatan Tolol.a pas ngomen “cerita” diatas,.,, yang masih bahas komen,a tentang rokok, mohon dibaca lagi judul.a plus semua paragrap dibawahnya, dan lok masih gag jelas mending hengkang saja tanpa meninggalkan jejak Trimz
    lebih jelasnya bacakomen yang dikomen

  • uuk

    Alhamdlah…sehabis buka puasa sy masih bsa merokok…. mslah puasa urusan mnusia dgn Tuhannya, mslah merokok urusan rokok sma api…

    • Rahardian Yudha Pradana

      saya doakan anda kena kanker secepatsecepatnya

      • uuk

        Weee…trnyata ada tow. .agama yg mngajarkan doa utk kejelekan bagi sesama ..

  • Dede Sumarna

    Mampir lah ke Warung Makan Padang “PONDOK BARU” di daerah citayam-depok
    yang hanya buka jam 4 sore selama bulan ramadhan dan hanya melayani
    makan di tempat 30 menit sebelum waktu berbuka,.. tapi hebatnya warung
    mereka tetap ramai seperti hari biasa… hebat kan… Rizki takkan
    kemana selama kita mau berusaha. karna sudah ada yang mengatur :p

  • budiman

    ibadah puasa di khususkan Allah hanya untuk orang orang islam yg beriman, bukan utk orang awam kebanyakan… dgn demikian sudah pasti org2 yg mndukung kebebasan org yg tak berpuasa tak bisalah dikatakan orang beriman…
    “sungguh logika yg terbalik, orang puasa yg harus menghormati org yg tidak puasa… tp yg benar, org yang tak berpuasa lh yg harus menghormati orang yang berpuasa”

    • Pernyataan 1: puasa hanya utk orang beriman
      Pernyataan 2: org yg mendukung kebebasan org tdk puasa berarti org tdk beriman.

      Gak nyambung mas, jauh bgt. Apa berarti kerjaannya orang beriman itu mengekang kebebasan orang yang tdk puasa gitu? Berarti kalo saya lagi puasa di meksiko saya harus marah marahin orang di jalan yang gak puasa gitu, supaya dibilang beriman?

      Padahal kan orang Meksiko banyak yang jago bola. Nanti saya dibilang tidak mendukung pssi.

      Segitu lah mas kira kira kadar ke-enggaknyambungan-nya

  • Agung Pambudi

    HAduh… Statement pertama saya setuju.. karena allah menyuruh puasa untuk orang orang yang ber iman.. kalo dia tergiur cuma karena melihat orang makan berarti ia kurang beriman.. beda kalo di statement ke dua.. jelas jelan merokok merugikan banyak orang terutama orang yang menghirup asapnya.. memang ini bersifat subjektif.. tapi harus analisis dengan benar jangan sampai melihatkan kebodohan di depan orang banyak.. makasih

  • tamagoyaki

    Sekali lagi, para komentartor yang gak bisa “baca” ngomel2

  • Afghan

    Selama perokok disediakan tempat khusus merokok, tak ada masalah

No more articles