Membaca Karakter Orang dari Jenis Mobil dan Pilihan Capresnya

MOJOK.CO Karakter seseorang itu bisa dibaca dari apa yang mereka pilih. Dari pilihan baju yang dipakai, pilihan rokok yang dihisap, jenis mobil, sampai soal pilihan capres.

Sambil menunggu kawan datang di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya menyalakan rokok, menghisap beberapa kali sambil melihat beberapa sopir taksi melihat mobil saya. Salah satu sopir datang dan langsung mengebrak kap mobil saya.

“Woy, sini hapemu, Mas?

“Lho, lho, ada apa ini, Mas? Kok ngegas?”

“Kamu driver ojek online kan?”

“Bukan, Mas. Saya mau jemput teman saya kok,” kata saya masih kaget.

Habis marah-marah sopir itu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah. Meninggalkan saya yang bengong. Hal yang bikin saya bingung kemudian, memang ada yang salah dengan penampilan saya? Kenapa sopir itu curiga kalau saya driver ojek online?

Saya mulai berpikir mungkin yang membuat sopir itu curiga adalah jenis mobil yang saya kendarai pagi ini. Sebuah mobil Daihatsu Xenia. Jenis mobil sejuta umat bersama pasangan setianya: Toyota Avanza.

Harus diakui sih, kecurigaan membabi buta seperti itu kerap terjadi. apalagi jika kita mengendarai kendaraan yang biasa dipakai oleh sopir taksi online di zona merah larangan ambil penumpang seperti di stasiun atau bandara.

Lebih mudah memang mengenali identitas seseorang itu dari apa yang mereka pilih. Misalnya pilihan baju yang dipakai, pilihan rokok yang dihisap, pilihan musik yang didengar, pilihan buku yang dibaca, bahkan kita bisa sangat gampang melihat identitas maupun karakter seseorang hanya dengan pilihan kendaraannya.

Taruhlah jika kamu orang kaya baru—yang super kaya—sekaligus muda, kamu akan lebih memilih mobil sport seperti Ferrari yang berwarna merah cerah menyala.

Karena dengan memilih mobil tersebut kamu akan lebih mudah dikenali dan menjadi pusat perhatian semua orang. Tidak heran jika warga Amerika bahkan Inggris kerap kali menyangka mobil sport apalagi dengan warna merah menjadi sedikit lebih mahal biaya asuransinya dibandingkan warna yang lain.

Berbeda dengan anak muda yang tajir-melintir, orang yang mempunyai karakter cowok banget biasanya menggunakan mobil jeep atau mobil Muscle (kekar) dengan aksesoris besi asli sebagai tungganganya.

“Kita harus pakai mobil yang muscle yang cowok gitu dong,” kata Om Deddy Corbuizer ketika memamerkan mobil Ford 4×4-nya di channel Youtubenya.

Kata-kata tersebut membuat saya teringat seorang kawan yang bernama Eddward S. Kennedy yang baru baru ini membeli sebuah motor Kawasaki W175 yang retro itu. “Rus, motor kayak gini ni buat cowok.”

Ealah mbut, mbut, memperpanjang masa berlaku pajak aja masih suka pakai calo aja sok macho.

Lain lagi dengan pecinta mobil yang asal ada stiker institusi aparatur negara di kaca depan atau plat nomor. Tidak perduli apapun yang dikendarai mau mobil itu mungil, besar, truk bahkan mobil rental asal ada stiker bertuliskan anggota aparat dia sudah merasa sebagai penguasa jalanan, anti tilang, harus dihormati sekaligus didahulukan.

Orang-orang yang saya pikir malah punya sifat inferior. Merasa dirinya singa padahal hanya kucing. Ya iya dong, suka berlindung di balik “kekuatan” kerabat atau temannya yang pejabat atau aparat. Orang-orang seperti itu sangat banyak, ya termasuk saya ini.

Ealah, jangankan stiker aparat, stiker Taman Safari atau MCD saja terkadang membuat saya berlebihan ingin dinilai. Siapa coba orang kedua setelah Pak RT di kampung saya yang pernah makan di MCD? Dan betapa bangga kedua bapak ibu saya kala itu.

Tentang karakter-karakter tersebut, pada akhirnya saya teringat pada Prabowo dan Jokowi. Dua sosok manusia yang lebih sering dibahas di pos-pos ronda, di pasar-pasar, di masjid-masjid bahkan di tempat lokalisasi sekalipun.

Membahas mereka sekarang lebih penting dan seru ketimbang membahas biaya sekolah anak, biaya makan keluarga. Tak perduli istrinya sedang kesulitan mengatur belanjaan demi dipakai untuk membeli bensin motor RX King suaminya ketika ikut konvoi kampanye.

Nah, dalam penerawangan saya, sesuai dengan karakter Jokowi, jelas dia bakal lebih memilih mobil-mobil MPV daripada kendaraan yang lain. Yah model mobil kayak Isuzu Panther, Kijang Innova, Daihatsu Espass, Nissan Evalia.

Saya menduga kalau Jokowi nggak jadi presiden dan calon presiden kayak sekarang, dia pasti mempunyai orientasi kepada keluarga. Punya hubungan yang erat terhadap masing-masing keluarganya, sehingga bakal lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Tidak perduli tidak nyaman yang penting kakek-nenek-pakde-paklik terangkut semua.

Sayangnya lelaki dengan karakter tersebut biasanya akan berubah seketika saat menjadi kaya atau punya kuasa.

Mereka akan mengubah pilihan kepada kendaraan kendaraan mewah seperti sedan. Lelaki dengan pilihan mobil sedan biasanya mempunyai harapan besar dalam setiap langkahnya dan cenderung selalu tidak pernah merasa puas akan pencapainnya. Nyatanya Jokowi juga memiliki mobil pribadi sedan mewah yaitu Mercedes Bens.

Lalu bagaimana dengan Prabowo?

Dalam penerawangan saya, ada alasan khusus kenapa Prabowo lebih suka memakai mobil berjenis jeep.

Misalkan Land Rover tahun 1992-nya, dia beli lagi mobil yang hampir sama pada tahun 1994, kemudian beli lagi mobil jeep tetapi kali ini bermerek Land Cruiser 1980 yang dia beli di tahun 1998, beli lagi Pajero, lalu beli lagi Lexus yang lagi-lagi berjenis jeep.

Pilihan mobil jeep tersebut menampakkan kalau Prabowo adalah laki-laki yang suka dengan tantangan dan akan melakukan apapun untuk mencapai targetnya. Seorang lelaki yang memiliki daya tarik seksual serta menonjolkan sikap maskulinnya.

Sejauh pengalaman saya sebagai sopir bersertifikasi “makhal”, mereka yang memiliki mobil jenis jeep cenderung asyik dengan kehidupan sehari-harinya. Kurang mudah percaya dengan orang baru dan agak sulit menjalin hubungan yang dengan orang—kecuali yang sudah benar-benar dipercaya.

Meski begitu, orang begini biasanya punya prinsip hidup yang jelas dan keras terhadap diri sendiri. Hal-hal yang saya pikir tak jauh beda dengan karakter Prabowo. Sesuai dengan pilihan mobil-mobilnya. Sikap maskulin yang semakin terpancar dengan pilihan beliau lebih memilih memelihara kuda daripada sapi.

Jadi jika kita orang yang suka dengan karakter tegas, prinsipil, jantan, berani, maka wajar kalau kita memilih Prabowo dan menyukai pilihan tersebut.

Sedangkan jika kita karakternya kalem, selo, santai, lebih pilih blankon daripada helm, haaaya jelas kemungkin bakal jatuh hati sama jokowi.

Lha gimana? Jokowi itu orang Solo. Salah satu daerah yang paling “Njawani”. Sosok yang bakal lebih dulu minta maaf saat diinjak kakinya daripada menegur keras.

Tidak ada yang lebih jahat atau lebih baik dari pilihan-pilihan tersebut. Sebab semua pilihan—merupakan cerminan dari karakter yang milih. Baik untuk urusan pilihan presiden sampai pilihan jenis mobil.

Exit mobile version