Ke Warung Coto

Masih ingat Irahing kan, kawan-kawan? Yap, donnya SD Banna’ satu itu. Selama ini kita dapati sebuah pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Agaknya hal ini berlaku untuk Irahing.

Di suatu sore yang cerah bapak Irahing, Daeng Sangkala, tetiba mengajak anaknya keluar rumah. Irahing yang penasaran pun bertanya.

“Mauki ke mana, Pak?”

“Ikut mako saja deh, jangan mako banyak tanya (ikut saja, tidak usah banyak tanya).”

Setelah berjalan kaki sekira 15 menit, tibalah mereka di sebuah warung coto. Irahing semringah mendapati dirinya berada di sana. Maklum, uang untuk makan siang tadi tandas di sebuah rental PS.

“Daeng, ada dagingkah?” Tanya Daeng Sangkala kepada penjual coto sedetik setelah menyibakkan tenda penutup warung.

“Adaji, Daeng,” jawab penjual coto.

“Kalau paru?”

“Ada tonji (juga).”

“Kalau ati, iya?”

“Bah, adaji juga, kenapaikah?”

Daeng Sangkala lalu mengalihkan wajahnya, menatap anaknya Irahing dengan pandangan yang sungguh.

“Rahing, nyamanna di’ kalau ada uang (Rahing, enak ya kalau ada uang).”

 

Beli Coca Cola

Malam harinya, demi mengobati kekecewaan Irahing yang tidak jadi menikmati semangkuk coto, Daeng Sangkala berniat menebusnya dengan menraktir seluruh anggota keluarga minum Coca Cola. Maka, setelah makan malam Daeng Sangkala memanggil anak kesayangannya itu.

“Rahing … sini, Nak, ini uang pergi ko beli Coca Cola di warung depan. Satu untuk Bapak, satu untuk Mamak, satu untuk Kakak, terus satu untuk kau. Jadi, berapa semua Coca Colana?”

“Tiga, Bapak.”

“Bapak ulang nah. Satu untuk Bapak, satu untuk Mamak, satu untuk Kakak, terus satu untuk kau. Jadi, berapa semua Coca Colana?”

“Tiga, Bapak.”

“Rahing … Rahing … dongo’mu itu! Apaji ko belajar di sekolah? Coba ko hitung lagi, kalau salah lagi Bapak cubit ko nah. Satu untuk Bapak, satu untuk Mamak, satu untuk Kakak, terus satu untuk kau. Jadi, berapa semua Coca Colana?” Kali Daeng Sangkala emosi.

“Tiga, Bapak.”

“Dongo’ mentong kau, Rahing,” Daeng Sangkala lalu mencubit Rahing dan kembali bertanya, “Berapa semuanya!?!”

Sambil tersedu-sedu disebabkan sakit yang ia terima dari cubitan bapaknya, Irahing menjawab.

“Tiga ji (saja) Coca Cola, Bapak. Mauka minum Fanta, saya (saya mau minum Fanta).”

Baca juga:  Semakin Diingat Bu Guru, Semakin Menyakitkan

 

Pesan Mamak

Keesokan harinya, disebabkan hari Minggu dan waktunya anak SD seperti Irahing libur sekolah mamak Irahing, Daeng Te’ne, memberi mandat kepada Irahing untuk membawakan paket berisi pakaian, camilan, dan berbagai jenis oleh-oleh khas Makassar kepada neneknya di kampung. Daeng Te’ne kemudian mengantar Irahing menuju terminal demi mencari mobil yang akan mengantarkan anaknya. Setibanya di terminal, Daeng Te’ne langsung mewanti-wanti bapak sopir Panther.

“Pak Sopir, kasih duduk di depanki anakku nah, supaya kalo tidurki, kasih bangunki kalau sudah di Barru (kota yang letaknya 102 km di utara Makassar).”

“Iye’, Bu. Tenang maki,” jawab Pak Sopir meyakinkan.

Daeng Te’ne lalu berpaling ke anaknya. “Nak, jangan ko tidur nah.”

“Iye’, Mamak.”

Beberapa saat sebelum Panther berangkat, Daeng Te’ne kembali mewanti-wanti mereka berdua dan kembali disanggupi.

“Pak Sopir, ingatki nah, kasih bangun kalau di Barru, biasa itu dia tidur bela (soalnya).”

Di dalam perjalanan Irahing setiap lima belas menit bertanya.

“Pak Sopir, di Barru mi?”

“Belumpi ….”

Lima belas menit kemudian

“Pak Sopir, Barru mi inikah?”

“Belumpi, Nak”

Begitu seterusnya hingga Pak Sopir memperoleh inisiatif.

“Edede, tidur mako dulu, Nak. Nanti kalau di Barru kukasih bangun jako itu.”

Irahing akhirnya tertidur. Sangat pulas.

Lalu tanpa disadari Pak Sopir bablas menyetir sampai Toraja (321 km ke arah utara Makassar). Sopir pun panik karena baru ingat. Irahing masih terikut. Anak itu lupa dibangunkan.

Setelah berembuk bersama penumpang, akhirnya mereka memutuskan untuk balik haluan ke Barru demi menurunkan Irahing yang ketiduran.

Perjalanan panjang itu pun berakhir dan tibalah mereka di Barru.

“Oe, Nak, bangun mako, di Barru mi ini (sudah Barru ini).” Sang sopir menggoyang-goyangkan tubuh Irahing yang masih terlelap.

“Hmmm, iye’. Di Barru mi kah, Pak?” jawab Irahing yang masih setengah sadar sembari menggosok-gosok matanya.

“Iyo, adaji yang jemput ko?”

“Oooh, ndak ji, Om. Na bilang mamakku, kalau di Barru mi na suruhka makanki nasi dosku, nanti basi, mauka ke Toraja bela (Oh tidak apa-apa, Om, kata mamakku, kalau sudah di Barru aku harus makan nasi kotakku, biar nggak basi. Aku mau ke Toraja soalnya).”

Baca juga:  Semakin Diingat Bu Guru, Semakin Menyakitkan

Seisi mobil gempar.

 

Bunuh Diri

Sementara itu di Kota Makassar Daeng Sangkala menghabiskan minggu paginya dengan berjalan-jalan mengitari kota yang semakin pengap. Tibalah ia di sebuah jembatan bernama Jembatan Tello. Daeng Sangkala melihat seorang cewek cantik berdiri di atas jembatan seperti hendak melakukan sesuatu.

“Mau ko bikin apa, cewek?”

“Mau ka bunuh diri, Daeng!”

Ketika orang umumnya seharusnya terkejut mendengar hal itu, kalimat yang keluar dari mulut Daeng Sangkala sungguh mengejutkan.

“Kalo begitu kasih ka pale (saja) ciuman terakhirmu nah, mau ji to dek cium ka?”

Tanpa beban sama sekali, cewek itu mencium dengan penuh gairah. Daeng Sangkala pun senang dan bertanya lagi.

“Ciumanmu hot sekali, Dek. Kenapa ko mau bunuh diri? Cantikmu lagi baru, bodimu bagusna lagi, kan sayang to, Dek.”

“Sedihka, Daeng. Ka orang tuaku ndak mengerti perasaanku, Daeng.”

“Ih, kenapa bisa?”

“Na larang ka pake baju perempuan kodong, padahal ku suka ki (mau larang saya pakai baju perempuan, padahal saya suka).”

Daeng Sangkala menelan ludah lalu pergi seperti tidak terjadi apa-apa.

 

Perampokan

Sepulangnya Daeng Sangkala di rumahnya yang sederhana, para tetangga sudah berkumpul di salah satu rumah tetangganya. Sesuatu pastinya telah terjadi.

Dengan semangat jiwa korsa sepertetanggaan Daeng Sangkala membelah kerumunan dan langsung masuk ke rumah tuan rumah.

Usut punya usut, telah terjadi perampokan di rumah itu. Daeng Sangkala lalu mencari Daeng Ngitung, janda pemilik rumah tersebut.

“Kenapa bisa, Dek?” cecar Daeng Sangkala.

“Waktu itu lagi masak ka di dapur kodong ….” Daeng Ngitung menjawab dengan wajah masih dipenuhi kepanikan.

“TV ta (kamu) hilang, baru diam-diam jako?”

“Iye’, maumi diapa, daripada na bunuh ka.”

“Motor ta hilang, diam-diam jako juga?”

“Iye’, na ancam ka (saya) kodong.”

“Uang ta juga na ambil semuaki, diam-diam jako juga?”

“Iye’, nda bisaka melawan kodong.”

“Jangan-jangan diperkosa ko juga?”

“Iye’ ….”

“Baru diam-diam jako jugaaa?!”

“Tidak nah! Goyang-goyang tonja sedikit iyaa (Tidaklah! Goyang-goyang juga sedikit)!”

Komentar
Kirim Artikel
No more articles