Anda pernah kehilangan motor? Bisa jadi Anda akan setuju dengan tulisan ini. Saya pernah kehilangan motor di Yogya, CBR 150R lagi. Sedih memang, tapi jujur saja, mengurus laporan kehilangan motor jauh lebih menjengkelkan daripada kehilangan motor itu sendiri. Anda bahkan bisa curhat ke pencurinya dan pencurinya bakal kasihan kepada anda.

4 Desember 2016, hari laknat ketika motor saya hilang dikukut maling. Saya sempat mengejar malingnya, tapi nahas, Revo memang bukan tandingan CBR. Setelah yakin pasti tak terkejar, saya bersama teman langsung ke kantor polisi untuk mengurus laporan kehilangan.

Ketika datang di kantor polisi, kami ditanya-tanyai oleh polisi yang kemudian mulai membuat BAP (berita acara pemeriksaan). BAP ia ketik dari pukul 5 kurang 10 sore hingga pukul 5.45. Setelah jadi, saya dan polisi pembuat BAP tanda tangan di atasnya.

Tiba-tiba polisi itu mengeluh dia salah tanda tangan. Kemudian ia berkata kepada saya, “Mas, saya ketik lagi ya?”

Ketik … lagi …? Saya tercekat.

Sambil menunggu polisi itu mengetik ulang, saya bertanya kepada beberapa polisi yang sedang duduk-duduk, kapan motor saya mulai dicari? Sebab, bisa jadi motor itu masih berada dalam jangkauan pengejaran.

Salah seorang polisi menjawab, “Ini sudah saya infokan ke kantor polisi yang lain lewat grup WA.”

Polisi yang lain lalu menyuruh saya datang esok hari untuk mengurus surat kehilangan untuk diserahkan kepada pihak asuransi. Saya mengerutkan dahi lalu bilang, “Pak, motor kan belum dicari, masak harus mengurus asuransi langsung?”

“Ya kalau ketemu, Mas. Kalau nggak, ya mending dapat duit dulu to?”

Begini cara asuransi motor bekerja. Kasus saya adalah motor kredit. Harga motor 35 juta, dicicil dengan uang muka 15 juta. Ganti rugi dari asuransi sebesar 20 juta. Tapi, jika klaim asuransi sudah turun dan motor ketemu, motor nggak akan balik kepada saya. Ucapkan selamat tinggal kepada motor karena ia akan dilelang oleh asuransi.

Baca juga:  Yamaha R15: Dicinta Jiwa Sporty, Dibenci Pembonceng

Jadi, yang polisi itu katakan tadi bisa diterjemahkan begini, “Kita mungkin nggak akan susah-susah nyari. Mending uangmu balik aja, semua senang kan?”

Itu baru urusan di polsek, belum di polda. Kalau saya tulis, Anda akan bosan karena sudah sama-sama tahu, birokrasi Indonesia sulit dan mempersulit itu bukan dongeng. Saya mengapresiasi pihak asuransi yang tidak memperlambat proses sama sekali. Mereka segera mencairkan ganti rugi karena merasa ini bencana yang tidak diinginkan dan tidak mau menambah penderitaan saya yang masih harus mengurus surat ini itu.

Mereka bahkan heran, kenapa saya masih harus mengurus surat keterangan saya sudah klaim asuransi, padahal sudah ada lima surat dari asuransi beserta lampiran pembayaran cicilan. Di hari-hari itu, saya merasa digarapi dua pihak, maling yang ngembat motor saya dan polisi yang harusnya mencari motor saya.

Tapi, apa yang mau diharapkan dari jawaban “Ini sudah saya infokan ke kantor polisi yang lain lewat grup WA”? Lebih baik tidak usah berharap sama sekali. Mereka bisa saja kan menerjunkan satu unit untuk menyisir satu wilayah dan berusaha menangkap pencuri motor saya? Maksud saya, ayolah, mereka bisa membongkar jaringan narkoba dan teroris, masak penadah motor aja bertahun-tahun tidak terdeteksi?

Di Yogya sering terjadi kasus klitih atau penyerangan dengan senjata tajam kepada pengendara bermotor di malam hari, tapi berapa yang tertangkap dan ditindak? Orang bisa membuka grup Facebook Info Cegatan Jogja dan menghitung, berapa ratus post tentang kesaksian penduduk yang melihat segerombolan pengendara motor mengacungkan gir dan arit sembari berkendara? Tapi, kenapa kita hanya dapat imbauan jangan bepergian di malam malam alih-alih polisi mengetatkan patroli?

Baca juga:  Santri Marah Dikira Bawa Bom lalu Berakhir Selfie sama Polisi itu Enggak Wajar

Kalau melihat statistik, menurut BPS 2015 adalah tahun yang mana angka curanmor turun, yakni menjadi 38 ribu kali selama setahun di seluruh Indonesia. Di tahun-tahun sebelumnya, angka curanmor selalu di atas 40 ribu. Artinya, tiap jam ada empat motor yang dicuri di seluruh Indonesia. Dan di Jawa Barat, provinsi dengan angka curanmor tertinggi, tiap dua jam sekali ada satu laporan kehilangan motor masuk ke kepolisian. Mungkin, saking seringnya dapat laporan kehilangan motor, polisinya sampai mati rasa.

Fitur keamanan dari pabrikan motor juga rendah. Baru Yamaha Aerox VVA, Honda SH150, dan Suzuki GSX R/S yang menerapkan teknologi keyless. Selebihnya? Hanya klaim yang, maaf-maaf saja, begitu murahan. Harga motor melambung, tapi perubahan tidak signifikan.

Memang lebih baik memasang GPS tracker atau kalau perlu, gembok cakram dan fork motor sekalian kalau ingin aman. Saya sudah tidak punya harapan apa-apa lagi kalau sudah berhadapan dengan aparat yang menangani kasus curanmor. Lebih baik bersiap membentengi diri karena, percayalah, kehilangan CBR150R meninggalkan luka yang lebih dalam ketimbang dijotos guru waktu SD.

Atau bekerja keraslah dan jadi seperti Pak Edi AH Iyubenu yang bahkan pernah lupa dia punya Corolla Altis.

Komentar
Add Friend
No more articles