Ekskavator

Pada suatu waktu ada proyek pembangunan jalan di pedalaman Halmahera. Terjejer alat berat berupa ekskavator, dump truck, dll. Saat itu sedang ada perundingan pembebasan lahan oleh masyarakat dengan pemerintah.

“Kami akan membayar sesuai dengan kesepakatan”.

“Ah kalo saya tra usah, Bapak. Saya tra butuh uang,” bantah salah seorang warga.

Semua orang kaget. Sembari jari telunjuknya mengarah ke ekskavator yang terparkir ia berucap dengan penuh keyakinan.

“Beta cuma mau minta binatang itu punya anak saja, Bapak.”

***

Saya yang sedang serius menatap layar ponsel tak bisa menahan tawa saat mendengar cerita di atas dituturkan salah seorang kawan di pangkalan ojek. Dahi yang mengerut karena pusing menyimak polemik yang tak ada habisnya di media sosial hilang seketika berubah menjadi keceriaan.

Mop sudah sejak lama ada di tanah Papua dan Maluku, dan menjadi populer di luar Papua dan Maluku sekira dua dekade terakhir karena sebuah film lokal Papua yang lumayan terkenal berjudul Melody Kota Rusa. Ini adalah film komersil pertama yang dibuat di Kota Merauke, tepatnya di Desa Muting, perbatasan Indonesia—Papua Guinea Baru. Film yang hampir semua pemainnya berasal dari tanah Papua ini berdampak pada populernya mop. Aktor-aktor dalam film Melody Kota Rusa di kemudian hari menjadi pemeran serial Epen Cupen di YouTube.

Salah-satu tokoh utama Melody Kota Rusa, Dodi, pemuda bertampang sangar tapi kerap berperilaku bodoh itu menjadi ikon mop dalam memvisualisasikan cerita lucu dari Papua tersebut. Kini, serial itu sudah memasuki generasi kedua dengan wajah-wajah baru. Dodi yang dulu kondang lama tak terlihat.

Jika di Papua ada istilah mop untuk cerita lucu, di Maluku tak ada istilah khusus. Selain di dua wilayah ini, mop juga populer di Sulawesi Utara. Dari mana asal mop itu bisa kita tengarai dari nama tokoh-tokohnya. Jika Papua punya Yaklep atau Dodi, maka Manado punya Ungke seperti di kisah berikut.

Apa Saja Ungke Tahu

Ungke baru pulang sekolah, ketika melewati gang dekat lapangan bola ia melihat mobil bapaknya sedang terparkir. Penasaran, Ungke mendekat dan mengintip ke dalam mobil itu. Ternyata di dalam bapaknya sedang berduaan dengan Tante Lisa tentangganya. Ungke pun buru-buru pulang ke rumah dan melaporkan apa yang ia lihat barusan ke mamanya.

“Ma, tadi Ungke ada lihat Papa deng Tante Lisa di dalam oto.”

“Hah?! Ngana ada lihat di mana, Ungke?!”

“Di sana, di gang dekat lapangan bola.”

Tiba-tiba si bapak pulang mendapati istrinya yang sudah memegang sebilah parang yang digosokkan ke tembok. Bapaknya Ungke seketika pucat, ia tahu sedang dalam masalah.

“Coba ceritakan lagi, Ungke, apa yang tadi ngana ada lihat!” perintah si mama geram.

“Iii … iii … itu tadi Ungke ada lihat Papa deng Tante Lisa dalam oto.”

“Trus dorang ada bikin apa?”

Ungke memutar otak, berpikir keras mencari kata yang pas sebab ia belum tahu istilah hubungan intim. Sedangkan si bapak sudah keringat dingin.

“Bilang, Ungke!” bentak mamanya

“Nggg … itu … Papa deng Tante Lisa bikin sama seperti waktu itu Mama deng Om Bram bikin.”

Mama pingsan.

Bukan Tebak-tebakan

Yaklep baru pulang sekolah, tiba-tiba dia lihat dia punya tete sedang mancing di sungai.

“Tete … Tete … tadi di sekolah sa belajar matematika,” ucap Yaklep bangga.

“Bah, ko ini kira tete tidak tahu matematika ka?”

“Coba 2 + 2 = berapa, Tete?”

“Dulu kalau zaman Tete itu tiga, tidak tahu mungkin sekarang sudah naik jadi 7 ka.”

Kentut

Yaklep adalah seorang sopir angkutan kota di Jayapura. Ketika sedang asik menyetir tiba-tiba Yaklep cium bau busuk dari bangku penumpang.

“Bah, sapa su buang angin ini?!”

Tak ada penumpang yang mengaku

“Ah kau yang kentut ka?” tanya Yaklep ke seorang pemuda.

“Tidak, om.”

“Berarti ko yang kentut toh?” sergah Yaklep ke pemuda lainnya.

“Sa tra kentut. Sueer!”

Karena telanjur kesal dengan bau busuk tersebut, Yaklep memutar otak untuk mencari tahu siapa si pelaku.

Sesampainya di terminal semua penumpang turun, setelah semua penumpang membayar ongkos, tiba-tiba Yaklep teriak.

“Bah, itu yang kentut tadi belum bayar!”

“Ko sembarang saja, sa bayar paling pertama tadi!” bantah salah satu pemuda.

Gigi Motor

Egon baru pulang dari rantau ke kampung halamannya di Halmahera. Saat sedang menunggu angkutan di pelabuhan, Egon tersadar ternyata bapaknya datang menjemput dengan motor baru.

“Wiiih, motor baru ka?”

“Iyo, anak, hasil jual kopra kamarin.”

“Aiiih, mantap eee.”

“Ayo, ose naik sudah, se pung mama su tunggu itu di rumah.”

Di perjalanan Egon merasa ada yang aneh, sepeda motor baru itu seperti tak mampu berjalan. Ternyata Egon baru tahu sedari tadi bapaknya tak mengganti ke gigi dua.

“Bapak, itu ganti gigi dua. Bapak ini biking motor rusak saja!”

“Ini … ini … anak muda memang seng bisa sabar, gigi satu belum habis su suruh ganti ke gigi dua.”

Kulit Pisang

Ada orang Ambon sedang di Jakarta, lagi jalan-jalan. Ketika ia sedang jalan-jalan itu ia tak sengaja terpeleset karena menginjak kulit pisang.

Kebetulan yang diinjak adalah kulit pisang ambon.

Dengan penuh amarah karena malu dilihat orang banyak. Ia berdiri dan menghardik si kulit pisang.

“Ah, ose ini bagimana, masa suku makan suku?!”

***

Mop bisa menjadi cara untuk berbaur dengan lingkungan. Seorang kawan pendatang di Kota Ternate, misalnya, menjadi sangat cepat beradaptasi dengan kenalan setelah diketahui ia adalah pencerita lelucon yang hebat. Ialah yang mengisahkan cerita ekskavator tadi.

Dalam konteks hari ini, bagi manusia-manusia milenial yang setiap hari berhadapan dengan masalah-masalah yang tak kunjung sudah, mop bisa menjadi jawabannya. Dan syukur, dofu-dofu Mojok sudah mewadahi itu. Kecup basah.

No more articles