Museum Merpati dan Upaya Menyelamatkan Motor-motor Tua

Ketika tren motor tua kembali melambung beberapa waktu ini, saya melihat ada beberapa pihak yang berkelindan. Pihak yang memang sudah suka motor tersebut sejak lama, pihak yang turut melambungkan tren seperti Youtuber maupun media massa, pihak yang mengikuti tren, pun pihak yang memanfaatkannya sebagai ladang bisnis.

Dari semua pihak itu, saya tertarik untuk melihat sudut pandang dari seseorang yang memang sudah sejak lama berhubungan dengan motor tua. Di Jogja, tidak ada orang yang lebih layak dihubungi perihal motor tua selain Pak Handoko (65), yang namanya sudah melegenda ke seluruh negeri.

Saya berkeinginan untuk berkunjung ke Museum Merpati Motor milik Pak Handoko. Sayangnya kunjungan saya pertama kali tidak membuahkan hasil, karena ternyata museum yang berlokasi di jalan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta itu tutup di tanggal merah, dan kebetulan saya berkunjung ketika hari Paskah.

Saya baru bisa berkunjung pada Kamis, 15 April 2021 pada siang hari yang terik, membeli membeli tiket seharga 65 ribu rupiah, lantas berkeliling museum menyaksikan ratusan motor tua yang ada di sana.

Pak Handoko sedang keluar makan siang kala itu. Salah saya sendiri yang tidak membuat janji dengan beliau. Jadilah saya menunggu Pak Handoko sambil mengelilingi museum motor tua itu.

Museum Merpati terbagi menjadi beberapa bagian. Tujuh bagian kalau saya tidak salah hitung. Ada bagian selasar tempat sepeda kuno berjajar bercampur dengan motor tua. Ada pula bagian khusus untuk motor produksi Jepang. Pun bagian motor produksi Jepang dibagi menjadi dua bagian karena jumlahnya yang terlalu banyak. Ada pula bagian khusus motor pabrikan Eropa, pun ada satu bagian khusus untuk sepeda. Bagian lain untuk koleksi diecast, dan bagian lain untuk mobil klasik.

Selain menyimpan segala hal berbau otomotif, museum ini juga menyimpan koleksi lain seperti ratusan kacamata dari berbagai tahun, beberapa patung, beberapa benda elektronik tua, pun beberapa lukisan yang terpajang di area motor eropa.

Selesai berkeliling, saya bertemu dengan Pak Handoko yang baru saja kembali dari makan siang.

Menyelamatkan motor tua dari borongan bule di masa masa lalu

“Awalnya itu di tahun 89. Saya nggak kepikiran bikin museum. Semuanya berawal dari keprihatinan saya karena motor-motor di Indonesia diborong bule dengan harga teramat sangat murah. Di sini dulu kan jadi kayak rongsokan, sementara di sana (di luar negeri) justru menjadi emas.” Pak Handoko menjelaskan awal mula kenapa beliau ingin mengoleksi motor.

“Awalnya dulu saya punya temen-temen komunitas yang suka Harley Davidson dan BSA itu. Saya main ke rumahnya pas pada ngumpul, terus saya kepingin beli. Eh ada yang jual motor Sportster tahun 59, harganya 3 juta waktu itu.” Uang 3 juta rupiah di tahun 1989 itu daya belinya sama saja seperti 41 jutaan rupiah di tahun 2021 jika menghitung dari kurs dollar Amerika.

Pak Handoko akhirnya harus membeli Sportster itu di harga 5 juta rupiah sebulan setelahnya karena dia harus pergi ke Kanada, dan begitu kembali harganya sudah naik. “Saya pikir harga 3 juta itu kemahalan, makanya belum saya ambil. Setelah itu saya dapat kupon liburan ke Kanada. Sebulan kemudian pas balik, harga motornya sudah lima juta. Ya sudah, kan motornya cuma ada itu, akhirnya saya beli.”

Baca juga:  Faizin dan Lahirnya Dombat di Dieng

Tak lama setelah pembelian motor itu, Pak Handoko mengatakan ada fenomena menghebohkan pembelian motor oleh bule dalam jumlah besar, sehingga Pak Handoko merasa harus menyelamatkan motor-motor yang ada di Indonesia. “Kalau nggak saya beli, bisa habis diborong bule semua. Indonesia nggak ada lagi motor-motor kayak gini,” jelasnya.

Museum Motor Merpati berisi motor-motor tua koleksi pribadi Pak Handoko. Foto oleh Riyanto/Mojok.co

Museum Motor Merpati berisi motor-motor tua koleksi pribadi Pak Handoko. Foto oleh Riyanto/Mojok.co

“Di luar sana harganya mahal-mahal, di Indonesia murah-murah. Kalau terus berlangsung, habis semua itu motor di Indonesia,” lanjutnya.

“Makanya saya beli itu satu-satu, dan saya kumpulkan di rumah saya ini. Jadilah sekarang museum motor tua terbesar di Indonesia. Sepedanya itu ada lima ratus. Motornya tiga ratusan. Mobilnya ada enam puluhan.”

Ketika saya singgung apakah aktivitas membeli motor tua masih dilakukan sampai sekarang, Pak Handoko mengatakan sudah jarang. “Tempat ini sudah penuh motor. Makanya saya berharap nanti ada orang mau kerjasama untuk lahan. Butuh sekitar empat hektar lah, biar bisa mirip museum angkut itu. Kalau empat hektar itu kan sudah cukup untuk museum sekaligus tempat parkirnya. Kalau di sini kan parkirnya sempit.”

Semua motor akan menjadi tua pada akhirnya

Bagi Pak Handoko, beliau sendiri tidak mengkhususkan untuk membeli motor tua. Beliau menyukai semua motor baik tua maupun baru. “Semua motor saya suka. Yang tua banget suka, yang baru banget juga suka. Ya gimana, dari dulu saya memang sudah dekat dengan motor. Cuma kan senengnya orang itu beda-beda. Ada yang suka motor tua hobi touring jauh-jauh, tapi kalau saya yang nggak mau sekarang. Menghidupkan motornya saja sudah capek duluan. Makanya lebih suka koleksi saat ini.”

Pak Handoko juga menegaskan bahwa semua motor juga akan menjadi tua pada akhirnya. “Ya semua motor kan akan tua pada waktunya. Pas saya beli itu dulu ya belum termasuk tua. Baru dibilang tua kan saat ini saja. Ya konsepnya sama kalau saya beli motor baru tahun ini, nggak saya jual, terus tahun depan beli lagi, nggak saya jual, dan beli tahun depannya lagi. Saya belinya baru terus, tapi lama-lama kan bakal menjadi tua.”

Bagi Pak Handoko, baik motor tua maupun motor baru memiliki keunggulannya masing-masing. “Motor baru itu menang dari segi fleksibilitas. Dibawa ke mana-mana gampang. Nyalainnya gampang. Kotor, tinggal cuci. Beda sama motor tua yang perawatannya memerlukan energi dan biaya tersendiri,” kata Pak Handoko.

Menurutnya ratusan motor tua yang ada di Museum Merpati Motor miliknya pasti secara historis memiliki cerita. “Motor tua itu menang dari segi historisnya. Sejarahnya,” katanya.

Baca juga:  Putar Arah Bos Dunia Malam yang Pilih Jualan Sate Ayam

Ketika saya tanya apakah koleksinya dijual, Pak handoko tegas menjawab bahwa tidak ada motor di museumnya yang untuk dijual. “Nggak untuk dijual. Yang mau beli banyak. Bahkan yang ke sini dan sudah bawa uang juga banyak. Tapi kan saya niatnya nggak jual. Lha kalo mau jual, jual semua ini gampang. Mau jual sepuluh sehari itu juga pasti laku. Dapet duit banyak. Tapi ya buat apa? Saya nggak jadi punya museum namanya.”

Pak Handoko melanjutkan, membangun motor satu saja satu tahun belum tentu selesai. Kalau kemudian begitu jadi dan bisa dipakai langsung dijual, Pak Handoko merasa sayang dan tidak sempat memiliki motor itu. “Kadang itu membangun satu motor karena terkendala banyak hal bisa bertahun-tahun. Itu ada satu motor di atas bangunnya sampai tujuh tahun. Karena sparepart itu yang susah, kan dari luar negeri. Ya itu yang saya sayangkan dari pemerintah, kok pajaknya itu bisa mahal-mahal. Coba kalau pajaknya kecil, kan bisa mudah buat bangun. Toh nggak merugikan negara juga.”

Upaya yang rumit dalam membangun motor itulah yang akhirnya memunculkan rasa enggan untuk menjual motor berapa pun motor itu ditawar. Ia memilih memajangnya di Museum Merpati Motor miliknya. “Membangun motor itu lama dan mahal. Kalau nggak niat, kalau nggak punya apresiasi terhadap barang tua, nggak mungkin selesai. Masa begitu selesai, malah dijual. Lha saya kapan punya motornya?”

Mode itu berulang, tetapi akan melalui banyak penyesuaian

Saya lantas menyinggung perihal tren motor tua yang sekarang merajalela di kalangan anak muda, dan ternyata Pak Handoko menyambut baik tren tersebut.

“Bagus, kan?” jawabnya. “Bagus, karena pertama, motor tua jadi kopen (terurus). Yang kedua, harganya jadi naik. Yang ketiga, kita jadi punya hiburan. Daripada motor tua dibuang dan jadi rosok, mending kita urus dan jadi hiburan. Yang keempat, apresiasinya menjadi tinggi. Orang bisa menghargai barang tua itu kan apresiasinya pasti tinggi,” sambungnya.

Beliau melanjutkan, “Mode itu berputar. Motor tua juga begitu. Tapi ya muternya kan pasti ada modifikasi. Juga kan alirannya beda-beda. Ada yang suka motor tua tapi baru, makanya diproduksi seperti Kawasaki W Series itu. Ada yang suka motor tua tapi harus kustom. Ada yang suka model cafe racer. Ada juga yang suka full orisinil atau restorasi. Semua ada alirannya sendiri.”

Akan tetapi dari semua mode itu, Pak Handoko agak menyayangkan bagian aliran kustom yang lebih mementingkan tampilan daripada performa. “Yang lucu itu kan kalau motor kustom tapi nggak bisa dinaiki. Ditempel yang mahal-mahal, giliran dinaiki malah nggak nyaman. Ya kalo saya nggak suka. Dikustom itu bagi saya harus tetap enak dinaiki dan kalau bisa jauh lebih enak dari orisinilnya,” tegasnya.

“Motor itu kan untuk dikendarai. Fungsi utamanya adalah dinaiki, bukan seperti patung yang untuk dinikmati bentuknya,” sambungnya lagi.

Baca juga:  Jejak Bokep dari Masa ke Masa

“Tapi beda kasusnya kalau untuk museum, ya. Kalau museum kan memang lebih untuk dipajang daripada dikendarai, meski koleksi saya ini ya kalau dikasih aki dan disiapkan ini itunya, bisa saja dikendarai dan nyaman,” ujarnya.

Pak Handoko mengumpulkan motor-motor tua agar tidak lari ke luar negeri. Foto oleh Riyanto/Mojok.co

Pak Handoko mengumpulkan motor-motor tua agar tidak lari ke luar negeri. Foto oleh Riyanto/Mojok.co

Pak Handoko juga mengatakan, kelengkapan surat-surat motor juga adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. “Selain nyaman dikendarai, harus ada surat-suratnya juga. Saya itu takut kalau bawa kendaraan yang nggak ada surat-suratnya. Makanya, menurut saya kalau kita bikin motor dari awal, artinya nyari mesinnya sendiri, nyari sparepart-nya sendiri, dan sampai akhirnya jadi motor yang bisa dinaikin, harusnya kita bisa daftarin ke negara. Ada yang ngecek motor ini layak dikendarai atau tidak. Setelah didaftar, maka surat-surat kan bisa gampang. Bisa bayar pajak. Kita yang membangun motor bisa aman berkendara, negara juga dapat pendapatan dari pajak.”

Mencoba menciptakan aliran motor kustom baru

Lebih lanjut membahas motor kustom, Pak Handoko memiliki pandangan tersendiri tentang seperti apa motor kustom yang menurutnya ideal. “Nah ini saya sedang mencoba membuat aliran baru. Jadi saya modif motor tapi nggak terlihat seperti motor modifan. Kalau orang lihat, pasti dikira itu produk keluaran baru. Itu yang sedang saya coba. Dan tentunya harus tetap nyaman dikendarai. Ya ngapain ngerakit motor sampai ratusan juta kalau buat jalan ke Solo saja bermasalah, susah dipanasin, atau malah nggak nyaman dipakai?”

Pak Handoko mengatakan proses modifikasi motornya masih berjalan. Beliau berharap begitu motornya selesai, banyak orang yang akan mengikuti apa yang dilakukannya sehingga aliran baru dalam dunia modifikasi motor akan tercipta.

“Itu kemarin sudah ada jurnalis media otomotif yang pas saya ceritakan rencana saya, langsung pingin ngeliput kalau motornya sudah jadi. Ya makanya, kalau sudah jadi dan dikenal banyak orang (tentang aliran ini) semoga banyak yang mengikuti. Biar itu, biar modif nggak hanya menang tampilan, tapi nyaman juga. Motor modif yang mirip keluaran baru, gitulah.”

Perbincangan saya dan Pak Handoko akhirnya harus berakhir karena beliau harus melakukan zoom meeting dengan rekannya. Saya meninggalkan Museum Merpati Motor dengan banyak hal baru yang saya pahami. Sembari menutup pintu samping, lantas berjalan menuju motor Beat saya, saya menemukan jawaban atas banyak pertanyaan tentang tren motor tua.

Motor tua memang akan moncreng dari tahun ke tahun. Perputaran mode itu akan terus terjadi. Di baliknya, ada mereka yang latah dan mengikuti tren karena terbuai media, ada yang memanfaatkannya sebagai ladang bisnis, ada komunitas yang selalu setia dengan motor mereka masing-masing, dan ada pula orang seperti Pak Handoko, pemilik Museum Merpati Motor yang tidak ambil pusing dan senantiasa mengapresiasi motor, baik yang klasik maupun yang baru. Karena sekali lagi, semua motor akan klasik pada waktunya.

BACA JUGA Honda Astrea, Vespa dan Bisnis Motor Tua yang Harganya Nggak Masuk Akal liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.