MOJOK.CO –  Ada dua isu besar yang sebenarnya tengah dialihkan dari perhatian publik seiring dengan ramainya puisi kontroversi Sukmawati Soekarnoputri.

Kata “puisi” populer lagi. Rasanya, masyarakat kita hanya akan heboh soal puisi karena dua hal: film dan politik. Jadi, selain Gie dan Rangga, aktor-aktor yang getol memasyarakatkan puisi adalah juga Jenderal Gatot, Fadli Zon, dan sekarang, Sukmawati Soekarnoputri. Bedanya, jika puisi film populer karena bait-baitnya diamplifikasi ke kehidupan sehari-hari kita, puisi yang bersangkut paut dengan politik populer karena tafsir baitnya.

Puisi entah karya siapa yang dibaca Sukmawati mengundang kontroversi. Pembaca sudah paham, bahkan sudah mendengar, kan, kalimat-kalimat yang disusun dan dibaca olehnya itu? Jika iya, terima kasih.

Saya muslim, sudah sunat (halooo, Pak Ustadz Abdul Somad!), dan tidak sepakat dengan bait-bait yang dia baca. Mengapa? Azan bagi saya adalah bagian dari syariat, tidak bisa dibandingkan dengan kidung. Kalau mau membandingkan, ya, silakan membandingkan kidung dengan lagu “Cucakrowo” Didi Kempot; atau membandingkannya secara apple to apple dengan “Tujh Mein Rab Dikhta Hai”, OST “Rab Ne Bana Di Jodi”. Kalau masih sulit membayangkan, silakan bandingkan bodi Bu Sukmawati dengan manekin di mal. Setara? Jelas tidak.

Apakah lantas saya menuduh Sukmawati menista azan? Tidak. Wong sejak awal dia ngaku nggak tahu syariat Islam. Nggak tahu dengan nggak mau tahu berbeda, kan? Yang paling elegan, ya kita layangkan protes ketidaksetujuan sembari menjelaskan kepada dia bahwa azan ini begini, begitu. Selesai. Maka, saya berdoa semoga tidak lagi lahir aksi berjilid-jilid itu, biar nggak dipolitisir kayak aksi 212. Yang paling enak dan pas itu ikut langkah PWNU Jawa Timur: melayangkan suara protes, mendorong aparat untuk turut mengusut apabila ada yang melanggar, lalu mengimbau masyarakat agar tetap menjaga ketertiban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wis, adem, kan?

Setelah mencermati kehebohan di lini masa Facebook, saya menduga berdasarkan analisis A-1 BIN yang disahihkan oleh CIA dan diverifikasi oleh Mossad (hwalah, mbel!), Bu Sukmawati sedang melakukan pengalihan isu. Setidaknya, setelah puisi yang dia baca, ada beberapa isu besar yang tertutupi atau minimal teralihkan.

Baca juga:  Islam dan Kristen yang Terlihat Sama di Mata Orang Ambon

Pertama, kenaikan harga Kinder Joy.

Entah ada kaitannya atau tidak, setelah Jonru dipenjara, Kinder Joy naik Rp500. Ini merupakan pola konspirasi yang mengerikan antara penikmat Kinder Joy dengan distributor dan produsennya.

Jika ada yang bilang bahwa telur palsu beredar di era Jokowi, saya mengamini. Sebab, hanya di era Jokowi telur palsu bertitel Kinder Joy merajalela. Membuat banyak orangutan, eh orangtua membuat strategi khusus agar anak-anak tidak kecanduan gajet dan Kinder Joy. Sebab, jika banyak anak kecanduan telur palsu impor ini, saya hakulyakin, Pak Kivlan Zen akan melakukan konferensi pers dan menyebut jumlah PKI (Penikmat Kinder Joy Indonesia) mengalami perkembangan pesat. Mungkin mencapai 20 juta, bisa pula 30 juta, nyaris setara jumlah penduduk Arab Saudi. Kemudian, “Ustadz” Alfian Tanjung mengigau dengan menyebutkan bahwa Kinder Joy terbuat dari sayur genjer. Lantas ditambahi sama “Ustadz” Zulkifli, kalau penikmat Kinder Joy bakal mendapatkan e-KTP yang dicetak di Paris, distempel di Ho Chi Minh City, kemudian diimpor dari Pyongyang dengan kode kardus berwarna pink bergambar ketela rambat.

Kedua, pengalihan isu dari kabar Andika eks-Kangen Band yang menikah lagi. Tak main-main, pria tampan ini sudah menikah untuk kelima kalinya. Saran saya, sebaiknya para jomblo menghindari menyantap gosip para artis, khususnya Andika. Jaga jantungmu, saudaraku. Jaga perasanmu, saudaraku. Dan, jaga emosimu. Jangan sampai berita soal Andika menghambat pencarian jodohmu. Berusaha, berdoa, dan bercermin adalah tiga langkah mendapatkan jodoh. Tapi, bagi Andika, poin ketiga tidak masuk kayaknya. Dia hanya berusaha dan berdoa saja. Hasilnya bisa dilihat. Tabahkan hatimu, mblo!

Baca juga:  Gamis Syar’i Kini Tak Lebih dari Sekadar Fashion

Oke, kembali ke soal puisi. Terlepas dari kualitasnya, kini banyak yang tiba-tiba berpuisi. Keren, kan, satu puisi dibalas dengan puisi lain, persis dengan yang terjadi pada era keemasan puisi Arab purba. Cara ini lebih elegan kalau dipahami dalam perspektif demokrasi. Setiap orang memiliki hak untuk bersuara. Dan suaranya bisa diwakili dengan puisi bikinannya maupun bikinan orang lain yang bisa mewakili suara hatinya. Silakan, sah-sah saja!

Hanya, soal puisi ini, saya tiba-tiba teringat satu pertanyaan penting yang kemudian terjawab dalam sebuah status Facebook K.H. Afifuddin Dimyathi: Apakah para penyair Jahiliah tidak pernah menyerang Rasulullah dengan bait-bait tajam yang merendahkan beliau?

Banyak. Sering, malah. Apakah mereka tidak mencaci-maki Rasulullah dengan kata-kata yang nista? Sering. Lantas, kenapa bait-bait caci maki yang disusun dengan standar mutu sastrawi itu tidak pernah sampai ke zaman kita? Sebab, para sahabat dan ulama tidak ada yang peduli, membicarakan, apalagi menyebarluaskannya. Seiring waktu, musnah pula syair caci maki terhadap manusia agung itu. “Matek kerono nggak kereken” alias “mati, musnah karena tidak ada yang peduli,” kata orang Surabaya.

Terlepas dari isi puisinya yang dianggap pedas, saya tersentil soal azan ini. Betapa hingga saat ini saya malah sering abai saat azan berkumandang. Setelah azan selesai pun, saya tak beranjak ke masjid. Seolah-olah perjalanan terberat bagi seorang laki-laki muslim bukan dari Indonesia ke Alaska, melainkan dari rumahnya menuju masjid. Lagi pula, banyak yang hanya peduli azan, khususnya azan Magrib, hanya pada bulan Ramadan saja. Selain bulan suci ini, kembali cuek.

Andaikata seorang muslim terburu-buru mendatangi masjid ketika azan berkumandang seantusias dirinya mendatangi panggilan terakhir dari pesawat yang mau lepas landas, alangkah kerennya. Dan seandainya seorang muslim merasa menyesal ketinggalan salat berjamaah sebagaimana penyesalan yang dia alami ketika ketinggalan pesawat, alangkah kerennya.

Wallahualam bissawab.