MOJOK.CO – Pada sebuah becak dan lalu becak-becak, seorang bapak dan anaknya menautkan jalan hidup mereka.

Dentang besi beradu mendominasi kontes suara dengan azan siang itu, di sebuah gang di Kampung Badran, Yogyakarta. Suaranya datang dari pojok gang yang sepi lalu lintas, pada sebuah bengkel dengan deretan becak motor terparkir di muka bangunan.

Bengkel itu menganga lebar tanpa sekat ruangan. Pintunya adalah dua lembar seng ditempel pada pagar bekas dan batang kayu. Pintu yang seakan hiasan daripada berfungsi sebagai pengaman, sebab dengan konstruksi demikian, seorang pembobol amatir pun bisa dengan mudah membongkarnya.

Bengkel tersebut berbagi bangunan dengan kesibukan lain. Di bagian belakang bangunan terdapat sebuah tempat singgah anak jalanan. Warna bangunannya cerah, kombinasi kuning dan hijau, yang sesungguhnya sia-sia jika dimaksudnya untuk menyamarkan noda hitam yang berlepotan di sana sini. Pepohonan tinggi di sekitar menghalangi cahaya matahari masuk, membuat noda hitam makin pekat oleh figur pohon yang membayang di dalam ruangan.

Di dalam bengkel berukuran lima kali lima meter, segala rupa perkakas mesin dan rangka besi tua dibiarkan berserak. Lantainya tanah bercampur ampas-ampas rokok yang telah diisap sampai batas filternya. Rasanya mustahil jika semua itu bekas rokok yang dihabiskan dalam sehari hanya oleh satu-satunya orang dalam bengkel itu. Kemungkinannya, kalau bukan seorang perokok berat, yang ia hadapi adalah pekerjaan yang cukup penat, atau malah gabungan keduanya.

Nama lelaki dalam bengkel itu Agus. Sudah dua jam ia berusaha merampungkan penggabungan becak kayuh dan mesin motor. Butuh waktu seminggu untuk merakitnya dari nol, dan kini kondisinya nyaris selesai. Tinggal tambahan beberapa sentuhan untuk membuatnya berfungsi.

Agus masih mengotak-ngatik mesinnya. Engkol motor diselah beberapa kali. Menyala. Ia mencoba mengendarai becak motor itu keluar. Laju dan suara mesinnya kencang seperti milik Yamaha RX King, dan memang mesin 100 cc itu yang dipakai.

Untuk membedakan Agus ini dari Agus di belahan dunia lain yang berprofesi sebagai penulis, tukang gorengan, penjaga kebun binatang, CEO perusahaan kondang, atau penjaga warnet, orang-orang sekitar menyebutnya Agus Bengkel. Agar lebih spesifik, di atas celana banyak kantungnya, ia memakai kaos hitam dengan huruf tegas dan aksen merah di punggung berbunyi “BETJAK MOTOR SEKARANG DAN SELAMANYA”.

Saya menyodorkan tangan untuk menyalami. Ia enggan menyambut karena tangannya kotor. Gestur itu sisa pengalaman masa lalu. Ia berkali-kali ditolak orang ketika mengajak bersalaman. “Sering orang ngehindar, dulu waktu masih jadi tukang becak dan pemulung. Mungkin karena mereka merasa lebih bersih.”

Momen salaman itu membawa saya pada cerita-ceritanya di masa lalu. Kelam seperti bekas oli di telapaknya.

***

agus-becak-motor-mojok.co

Sebelas tahun yang lalu Agus belum menjadi Agus Bengkel. Tahun 2007 Agus adalah Agus tukang becak. Ia pernah mengembara dengan becak di jalanan Yogyakarta bersama anaknya yang berumur sebelas bulan. Anak dari perkawinannya yang pertama.

Kata Agus, pernikahan itu suatu kecelakaan. Di usia 21 tahun, Agus didudukkan di pelaminan bersama seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Belakangan ia tahu, wanita itu keturunan seorang militer, anak seorang sahabat keluarga. Tapi, alasan pertemanan keluarga tidak cukup untuk mengikat mereka. Saat keluarga memberinya pernikahan, sebenarnya yang ia inginkan adalah petualangan.

“Malam pertama saya malah jalan keluar sama teman. Begitu juga malam keduanya. Lah, malam ketiga saya disidang. Hahaha.”

Suami istri ini kemudian beroleh anak yang dipanggil Hevya. Si bayi masih menetek pada ibunya ketika istri Agus minggat dengan laki-laki lain.

Di sekitar perceraian itu, Agus juga diusir dari rumah keluarganya di Temanggung. Dengan membawa bayi sebelas bulan, ia bertekad pada dendam untuk tidak lagi mengenal keluarganya. Ia hijrah ke Yogya, membeli sebuah becak, dan memutuskan memulai hidup baru berdua.

Sampai di situ Agus menghentikan ceritanya. Ia menjepit kretek baru di bibir, kakinya ia pangku sebelah sambil tangannya meraih korek. Ia halangi angin supaya tidak mengganggu nyala api. Rokok yang telah menyala diisap dalam-dalam seperti hendak mengeluarkan semua cerita dalam satu tarikan napas dan dibuang lewat gumpalan asap.

“Saya sambil kerja, ya?” ujarnya sambil beranjak menuju pergumulannya bersama besi dan oli. Agus menunjuk salah satu becak yang teronggok. “Becak itu banyak kenangannya, nggak akan saya kasih berapa pun kalau ada yang nawar.”

Kalimat itu dimaksudkan untuk becak yang menemaninya dan Hevya berkelana selama bertahun-tahun tanpa tempat tinggal.

Becak itu tertimbun beberapa roda becak yang tidak disingkirkan. Cat biru mudanya mulai terkelupas diambil alih cokelat karat yang muncul di beberapa titik. Rangkanya masih kokoh untuk dikategorikan sebuah rongsokan. Dulu becak itu dibeli dengan harga empat ratus ribu, kini banyak tawaran dengan kisaran satu setengah juta, namun tetap dimentahkan.

“Kalau ada yang tawar sampai sepuluh juta gimana?” tanya saya.

Baca juga:  Rekomendasi Tempat Ngopi yang Perlu Dikunjungi di Jogja

“Semua orang itu butuh uang, saya pun begitu. Tapi, uang itu tidak bisa membeli kenangan. Ini kenangan saya dengan anak saya,” Agus membalas sambil menepuk becaknya.

“Ini loh anak saya.” Agus membuka foto yang disimpan dalam ponsel Nokia keluaran lama. Ponselnya usang dengan beberapa retakan di layar dan rangka yang harus direkatkan dengan karet gelang merah. Gambarnya sedikit kabur, mungkin karena diambil dengan kamera yang buruk. Terlihat seorang gadis dengan baju merah jambu sedang tersenyum, lalu ada tulisan mengambang di sebelahnya: “Hevya Sella Agustin. Lahir: 18 Agustus 2006.”

“Anak ini yang saya bawa ke mana-mana di becak. Dulu akan saya gendong pakai selendang di punggung.”

Di jalanan, Agus mengaku sering merasa kelaparan dan berakhir dengan tidak makan apa pun. Kalau ada uang, akan ia sisihkan untuk makan anaknya, nasi kucing seharga seratus lima puluh rupiah setidaknya harga yang masih terjangkau.

“Di jalanan orang-orang tuh lapar, hanya mereka tahan. Yang bikin tahan itu suasananya. Suasana jalanan.”

Tiga tahun Agus dan anaknya tinggal di becak. Jika ingin tidur, anaknya direbahkan di kursi penumpang sementara Agus tidur di bawahnya. Terkadang mereka berbagi ruang dan menghabiskan waktu semalaman di sana. Katanya, pengendara becak tidak punya rumah adalah sesuatu yang lumrah. “Saat itu kira-kira perbandingannya 40% punya, 60% lagi tidak.”

Cerita terakhir membuat saya teringat berita-berita yang sering muncul, tentang tukang becak yang ditemukan tidak bernyawa di kendaraannya. Kejadian itu bahkan lebih nyata bagi Agus. Pernah suatu hari ia menemukan mayat seseorang sudah kaku dan membiru di atas becak yang terparkir di perempatan Jetis, dekat Tugu Yogya.

“Sekitar tahun 2007 itu sering sekali nemu orang yang meninggal di becaknya. Kalau gitu biasanya repot, mereka kadang tidak bawa identitas. Yang dipikirkan itu cuma cari uang saja dan tubuh sampai kecapekan. Mereka gampang kena angin duduk, penyakit-penyakit, lalu dibiarkan saja sampai meninggal sendiri.”

Tahun 2008 Agus mendapat tawaran bekerja di Kalimantan. Tawaran itu datang dari penumpangnya yang menginap seminggu di Yogya. Dia diiming-imingi uang satu juta lima ratus. Jumlah itu sangat menggiurkan untuk Agus sehingga ia menerimanya. Dengan harga becak tiga ratus lima puluh ribu saat itu, Agus berandai-andai akan membeli tiga empat becak sepulang dari Kalimantan. Ia akan jadi juragan becak, harapan yang belakangan menjadi cita-cita belaka.

Berbekal keinginan untuk mengubah nasib, Agus menitipkan anaknya yang berumur dua tahun di sebuah yayasan di daerah Dongkelan. Ia berjanji akan membawa uang banyak untuk anaknya kelak.

***

Ia berangkat bersama mantan penumpangnya itu. Agus lalu ditempatkan di antah berantah. Ia tidak mengenali tempatnya karena rimbun pepohonan. Nama yang bisa ia sebut untuk tempat itu hanya “hutan belantara”. Di sana, pekerja dari berbagai penjuru Indonesia dikumpulkan dalam sebuah rumah panggung yang terletak di padang rumput luas. Isi rumah itu 50 orang pekerja yang berbagi ruangan sebesar satu lapangan bola.

Ia bekerja dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Selebihnya waktu akan digunakan untuk rebah istirahat. Tugas sehari-harinya memanggul kayu, tapi Agus tidak yakin apa nama jenis kayunya. Ia cuma tahu pohonnya besar. Kalau kayu yang dipanggul jatuh, ia akan ditendang mandor.

“Dua hari sekali (disiksa). Kita kerja sudah kayak zaman penjajahan VOC,” kenangnya, sekarang bisa diimbuhi tawa.

Hingga tiga bulan gaji tak kunjung dibayarkan. Ditambah dengan pukulan, ia dan teman-temannya tak tahan lagi.

Mereka berencana kabur.

Suatu malam, ia dan enam teman menjebol lantai papan rumah itu. Mereka menyiapkan batang sikat gigi yang ditajamkan untuk mencongkel kayu. Setelah beberapa saat, dua papan kayu berhasil diangkat. Mereka langsung tiarap menelusuri kolong rumah yang dirimbuni rerumputan.

Dari balik semak, mereka mengintip petugas yang duduk menjaga di depan pintu rumah. Kepala para penjaga itu terkulai, suasana hening. Agus dan keenam kawannya mengendap lalu masuk ke belantara hutan. Langit gelita, pohon raksasa berjejeran menghalangi pandangan. Mereka bergandengan menuju dengan satu tujuan: yang penting jauh dari kamp penyiksaan. Sambil berjalan, mereka menunggu azan berkumandang untuk mencari desa terdekat.

Setelah menyusuri jejak roda truk dan mengikuti suara azan, mereka sampai di desa terdekat dan langsung menghampiri masjid. Keran untuk wudu langsung dikucurkan, airnya diminum setelah menahan dahaga selama perjalanan. Pertolongan datang ketika mereka berpapasan dengan warga sekitar yang menawarkan diri untuk menjamu makan. Sepotong roti dan segelas air langsung mereka lahap tandas.

Pelarian itu sukses.

Keenam teman Agus sama-sama berasal dari Jawa dan kini, tugas mereka adalah mencari cara pulang. Dari enam orang, hanya satu nama yang masih ia ingat: Mumut. Singkat cerita, mereka dikenalkan penduduk kepada Haji Basirin, seorang Jawa yang berdomisili di daerah tersebut. Entah karena rasa prihatin atau rasa persaudaraan sebagai sesama orang Jawa, Haji Basirin menyanggupi untuk menanggung biaya pulang mereka ke Jawa. Mereka diberikan masing-masing tiket pesawat dan uang saku 350 ribu. Penerbangan itu menuju Surabaya dan dari sana, mereka berpencar ke kampung masing-masing.

Baca juga:  Dua Kali Beli Kawasaki Ninja 250, Tetap Saja Gagal Jadi Pembalap

Agus berhasil pulang ke Yogya. Namun, ia harus menebus anaknya yang sudah dititipkan di yayasan hampir tiga bulan. Biaya menebus 450 ribu, sementara uang di saku hanya tersisa 300 ribu, uang saku pemberian Haji Basirin yang telah dihemat-hemat.

Untuk menutup kekurangan uang tebusan, selama seminggu Agus bekerja sebagai kuli angkut di stasiun. Anaknya berhasil ditebus tanpa lecet sedikit pun.

Suatu hari di tahun 2009 Agus dan anaknya yang telah berumur tiga setengah tahun sedang mangkal di sekitaran pintu selatan Stasiun Tugu ketika dua orang bule menghampiri mereka. Salah seorang bule itu memotret Hevya yang masih tertidur dalam gendongan. Agus menganggap kelakuan bule itu wajar. Di luar negeri mereka jarang lihat orang susah, kalaupun ada, skala susahnya masih kalah dari orang Indonesia, pikir Agus.

Bule itu menyerahkan selembar uang 20 ribu, mungkin untuk membayar tarif foto barusan. “Saya nggak ngurusi (soal foto), dapat uang segitu saja bahagianya kayak dapat uang 2 juta,” tutur Agus.

Obrolannya dengan bule itu berlanjut, mereka mengenalkan diri sebagai warga Belanda dan berencana untuk membawa Hevya ke Belanda untuk diadopsi. Percakapan itu jadi mudah karena si pria mampu berbahasa Indonesia.

“Pokoknya saya jamin setelah tujuh bulan anak Bapak akan kembali lagi ke Yogya sehat dan terjamin pendidikannya,” ucapnya menirukan cara berbicara bule tersebut dengan logat Belanda sekenanya.

“Kalau Belanda itu suaranya dari ujung tenggorokan.” Agus memeragakan tangan yang mencekik leher, berusaha mengeluarkan bunyi seperti ingin muntah. “Itu juga saya tahu dari anak saya.”

Keinginan supaya kehidupan anaknya terjamin membuat Agus menanggapi serius tawaran tersebut. Agus mengajak mereka ke Polda Yogyakarta untuk memastikan identitas mereka dan membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh ingin mengadopsi anaknya. Dari petugas di polda, Agus mendapat jaminan untuk memercayai pasangan tersebut. Saat itu ia jadi tahu bahwa dua bule itu cukup terkenal di Yogyakarta dan terlibat dalam yayasan yang membantu anak-anak jalanan.

Agus pun berbulat tekad, nasib Hevya akan digantungkan pada pasangan Belanda itu. Mereka mulai mengurus segala administrasi di tempat kelahiran Hevya di Temanggung.

Selang seminggu, Agus dan Hevya diajak ke sebuah pertemuan di Jalan Kaliurang untuk bertemu lagi dengan pasangan bule tersebut. Masih berpakaian seragam Bakpia Pathok 25, Agus yang baru membereskan satu kali tarikan becak mereka jemput dengan mobil. Tapi, setiba di tempat pertemuan, ia justru tidak berani masuk ruangan. “Banyak orang dari Kedutaan Belanda dan hadir juga Sri Sultan waktu itu,” kata Agus. Orang-orang itu berjas dan berdasi.

Hevya akhirnya diboyong ke Belanda, namanya berganti menjadi Olivia, tapi Agus tetap mengenangnya sebagai penjelajah kecil yang pernah mengembara Yogya di atas becak. Setiap tiga kali setahun ia akan pulang ke Yogya. Jalan-jalan ke Malioboro dan bertemu Agus.

“Biasanya pulang tanggal 16, tanggal 18 Agustusnya dia ulang tahun. Kemarin (tahun 2017) kami ke Malioboro, beli cincin, harganya lima ribu. Itu karena penjualnya kenal. Anak saya yang belikan. Memang murah, tapi pemberian anak saya yang membuatnya mahal.”

Obrolan dijeda oleh seorang pelanggan yang baru saja datang. Lelaki bertato dengan anting di satu kuping. Ia mendorong becak motornya masuk bengkel. Mereka bicara, lalu Agus mulai memermak bemper depan becak. Pijar api bercipratan dari besi dan solder yang bersinggungan.

“Mas Agus tak khawatir usaha becak ini kelak akan punah?” tanya saya saat ia sudah beres dengan kerjaannya.

“Tentu becak ini akan punah, sekarang sudah serba online. Didiamkan pun mati sendiri.”

“Lalu bagaimana kalau benar-benar punah?”

“Saya punya keyakinan manusia itu nggak akan dimatiin makanannya, jadi akan selalu ada cara.”

Jawaban itu merangkum percakapan kami hari itu. Begitu enteng baginya berkata demikian. Segala pahit jalanan dan nasib buruk seolah hujan yang mengguyur sekejap, sisanya dijalani tanpa banyak cakap.

Cerita Agus barusan tentu hanyalah fragmen kecil hidupnya. Kisah ajaib lain tentang ceritanya melewati pengasingan oleh keluarga hingga pertemuan dengan seorang mahasiswi yang kehilangan dompet dan kemudian menjadi istrinya yang kedua biarlah jadi obrolan kami saja.

Cerita Agus adalah kisah manusia yang tak pernah biasa pada tiap-tiapnya, tetapi dapat Anda temukan di mana-mana. Tidak usah mencari-cari di panggung motivator atau biografi orang sukses, cukup sempatkan diri untuk berhenti sebentar dan mengobrol dengan siapa saja. Di pojokan kampung dan jalanan sempit maupun di sepetak kubikel perkantoran, akan selalu tersedia cerita yang luar biasa.

Komentar
Add Friend
No more articles