Dua status ini menarik karena tema utamanya sama, tentang hijrah atau pindah, tetapi perpindahan itu ke arah yang bertolak belakang. Yang pertama hijrah dalam arti seseorang berpindah dari diri yang awam agama menjadi pribadi yang lebih saleh, namun masih dalam lingkup agama yang sama. Yang kedua hijrah dari agama satu ke agama lain.

Kedua persoalan hijrah itu juga sama-sama dibahas dari sudut pandang orang yang menyaksikan perpindahan tersebut. Bagaimana menyikapi orang (dan keluarganya) yang berhijrah ke kedua arah berkebalikan itu? Inti kesimpulan kedua penulis pun sama: jangan terlalu keras.

Khairi Fuady: Tentang Hijrah yang Salah Kaprah

Semenjak semangat purifikasi agama hidup kembali, semangat berhijrah di kalangan pemeluk agama seperti menemukan momentumnya lagi. Purifikasi adalah proses pemurnian ajaran yang kalau ditarik garis panjangnya, akan bermuara kepada seorang tokoh bernama Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabisme. Jargonnya cukup populer, yakni “Kembali kepada Al-Quran dan as-sunnah”. Implikasinya, jauhilah segala bentuk praktik takhayul, bidah, dan khurafat.

Sayangnya, rupanya secara praksis hijrah yang mereka pahami lebih condong kepada hijrah simbolik. Berjanggut tebal dan panjang, bercelana gantung, dan berdahi hitam untuk para ikhwan. Untuk akhwatnya, berjilbab lebar, ditambah aksesori cadar dengan pakaian yang dominan berwarna gelap. Sorry to say, ini bukan sejatinya hijrah. Hijrah itu akhlak dan perilaku, empati dan kesadaran.

Fenomena Caisar adalah satu permisalan yang secara telanjang bisa kita saksikan betapa janggut yang tebal juga celana yang menggantung tidak bisa menggaransi bahwa seseorang telah insaf. Alih-alih memantapkan diri untuk berhijrah, ia malah kembali menjadi penghibur dengan berjoget, yang barangkali menurut ajaran Wahabi sudah mutlak haram dan terkutuknya.

BACA JUGA:  Ciri Orang Indonesia Itu Pemberi Maaf, Baik Hati, dan Beriman

Hijrah adalah perjalanan, bukan proses yang ujug-ujug. Karena segala yang instan biasanya takkan lama bertahan. Kalau kamu temui pacarmu ternyata punya tato di salah satu bagian tubuhnya, jangan lantas kauhardik ia lalu kaupaksa ia menghapusnya dengan air keras. Selain fisiknya akan sakit, batinnya pun ikut tersayat. Karena hijrah adalah proses pemantapan hati untuk berangsur menuju yang baik-baik. Dan hati, dalam kajian agama, lebih cocok masuk pada domain akhlak dan tasawuf. Maka, aneh kalau kemudian ada orang yang mendeklarasikan ingin berhijrah, yang kita sodorkan kepadanya justru aturan-aturan fikih yang relatif kompleks. Otomatis kagetlah dia.

Hijrahlah dulu dari hal-hal yang sederhana. Kalau dulu suka cemberut, tersenyumlah sejak pagi ini. Kalau dulu suka bergosip, mulailah bicara yang produktif meski tidak melulu harus soal ilmu agama. Kalau dulunya suka marah-marah, kurangilah mengonsumsi kambing. Selain darah tinggi, juga sering bikin sakit gigi. Lebih sakit daripada sakit hati. Hehehe.

 

Topan Chen: Perihal Pindah Agama

Saya mendapatkan buku ini dari acara Asian Youth Day ke-7 yang diselenggarakan 30 Juli sampai 6 Agustus silam di Yogyakarta. Acara itu merupakan agenda tiga tahunan untuk mempertemukan orang muda Katolik se-Asia.

Baru hari ini sempat saya baca buku itu. Dan salah satu cerita di dalamnya membuat saya sangat terusik. Kisah tentang anggota keluarga yang pindah agama dari Katolik ke Islam.

Saya terusik dengan tulisan yang mengatakan bahwa pada salah satu perayaan Ekaristi, pastornya khotbah seperti ini,

“Merupakan kegagalan terbesar bagi para orang tua jika mereka tidak bisa membuat anak-anaknya terus percaya kepada Yesus.” (Halaman 4)

Saya kok tidak setuju ya dengan pernyataan seperti ini. Saya malah kasihan sama orang tua yang terus disalahkan. Ibaratnya, orang tua sudah luka hatinya karena anaknya pindah agama, sekarang malah ditambah dengan beban penghakiman dari panutan mereka di agama mereka sendiri.

BACA JUGA:  Semoga Kamu Nggak Kaget dengan Fakta Pemboikotan Starbucks Ini

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Jika ada yang berproses dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Katolik, semua umat bersuka cita. Menganggap ia sebagai domba yang hilang dan telah ditemukanlah apalah.

Jika orang Katolik yang berproses dan merasa apa yang ia butuhkan bisa dipenuhi oleh agama lain, semua umat bersama-sama menghakimi.

Sungguh, saya sedih!

Komentar
Add Friend
No more articles