“Cinta hanya bisa membahagiakan seseorang, bukan semua orang.”

Agaknya, pameo itulah yang sekarang sedang dipahami benar oleh Arif, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Halu Oleo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pasalnya, Arif kemarin bikin heboh karena nekat menyatakan perasaannya kepada Dian, perempuan pujaan hatinya di lapangan kampus Universitas Halu Oleo. Kehebohan itu terjadi karena ia melakukan aksinya di depan umum, dan menggunakan megaphone.

Aksi nekat tersebut direkam oleh banyak warga kampus Universitas Halu Oleo dan kemudian dengan cepat menyebar di sosial media.

Alih-alih mendapatkan pujian atas aksi romantis-nekat-progresifnya itu, Arif justru mendapat kecaman dari banyak pihak. Salah satunya oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UHO. Melalui akun media sosialnya, BEM FIB UHO menuliskan kecamannya atas aksi Arif ini.

Kami mengerti bahwa cinta itu fitrah memiliki kecenderungan rasa anugerah. Kami paham bahwa jiwa kita haruslah terisi. Melengkapi ketidaksempurnaan manusia.

Kami paham bahwa semua hal perilaku kita adalah hak setiap diri kita semua terserah kita.

Tapi jangan begitu caranya bung!

Melukai MEGAPHONE yang selama ini menjadi simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan!

Tapi jangan norak bung! Menciderai Almamater yang isi otaknya punya konsep untuk masa depan negeri ini.

Tapi jangan jadi korban sinetron bung! Merusak tataran dunia kampus. Dunia yang seharusnya menjadi hunian para akademis. Dunia yang sepantasnya menjadi tempat para generasi kritis dan solutif. Dunia yang menjadi tempat lahir para pemimpin-pemimpin bangsa.

GENTLE itu datangi orangtuannya!

BERANI itu tinggikan maharnya!

LELAKI itu junjung kehormatannya!

Mahasiswa itu BAPER ketika lihat generasi hancur!

Mohon maaf atas perbedaan pandangan ini. Salam Budaya!

Ajaib, kecaman dari BEM FIB UHO ini kemudian justru membuat banyak orang membela Arif. Hal tersebut karena BEM FIB UHO dianggap lebay dalam menganggapi megaphone sebagai simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan.

Hanya orang yang sempit hatinya yang menganggap megaphone tak layak digunakan sebagai atribut asmara. Lha wong vokalisnya Jamrud pas nyanyi intro lagu Ningrat (yang merupakan lagi soal cinta) saja pakai megpahone lho.

Yah. Mungkin apa yang dilakukan oleh Arif memang norak, karena menembak si pujaan hati dengan menggunakan megaphone. Padahal si pujaan hati bukan perempuan budek atau peserta outbond.

Tapi BEM FIB UHO rasanya juga tak kalah norak. Karena mengupload kecaman atas hal norak tersebut dengan alasan yang tak kalah noraknya. Menganggap megaphone sebagai simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan sehingga ia tak layak digunakan sebagai instrumen dalam urusan cinta.

Simbol perjuangan itu perlawanannya. Bukan megaphonenya.

Mungkin admin media sosial BEM FIB UHO sekali-kali perlu main ke pasar burung di Jawa tengah dan sekitarnya, agar dia tahu, bahwa di Jawa Tengah, banyak pedagang obat kuat, minyak lintah, dan vagina palsu yang menggunakan megaphone sebagai sarana promosinya.

“Yak, bapak-bapak sekalian, sayang istri… sayang istri… sayang istri. Yang suka ejakulasi dini, yang tititnya masih mini, mari-mari ngumpul sini. Kita punya stok obat tokcer harga murah khusus buat hari ini…”

nembak cewek pakai megaphone

Komentar
Add Friend
No more articles