Aksi walkout Ananda Sukarlan saat pidato Anies Baswedan dalam perhelatan acara 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran pada 11 November lalu ternyata membuahkan efek domino. Salah satu efek yang muncul adalah upaya boikot Traveloka yang ditandai dengan tagar #uninstallTraveloka. Tagar ini bahkan sempat menjadi trending topic teratas di Twitter.

Aksi boikot Traveloka ini muncul utamanya oleh para pendukung Anies Baswedan. Sebabnya, walkout yang dilakukan oleh Ananda Sukarlan itu disebut diikuti salah satunya oleh Derianto Kusuma yang juga alumni Kanisius. Derianto bahkan disebut ikut menyalami Ananda sebagai tanda ikut mendukung aksi yang dianggap melecehkan Gubernur DKI Anies Baswedan itu.

Aksi Derianto itu kemudian memicu amarah netizen, utamanya pendukung Anies Baswedan dan kemudian ikut menyeret nama Traveloka yang berujung pada upaya boikot dalam bentuk #uninstallTraveloka.

Hal tersebut disebabkan Derianto Kusuma merupakan salah satu dari tiga pendiri Traveloka (selain Ferry Unardi dan Albert Zhang). Derianto Kusuma pun kini juga menjadi Chief Technology Officer di Traveloka.

Entah siapa yang memulai dan menyebarkan ajakan boikot Traveloka tersebut, tapi yang jelas, upaya boikot itu agaknya salah sasaran karena menurut PR Manager Traveloka Busyra Oryza, Derian Kusuma sebenarnya tidak hadir dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius tersebut kendati ia menjadi salah satu penerima penghargaan di acara tersebut.

“Sebenarnya Pak Deri tidak hadir. Beliau sedang melakukan perjalanan dinas di hari itu. Jadi, kalau dibilang ada Pak Deri di sana dan disebut memberikan dukungan (kepada Ananda), beliau tidak ada di situ,” ujar Busyra.

Yah, begitulah. Di Indonesia ini, setiap aksi memang selalu membutuhkan korban. Dan kebetulan kali ini korbannya Traveloka.

Tentu saat ini belum bisa dilihat apa efek signifikan dari aksi boikot ini. Tapi, yang jelas jika berkaca pada aksi boikot Sari Roti beberapa waktu yang lalu, agaknya boikot Traveloka kali ini tak akan terlalu berpengaruh pada perusahaan. Hal ini karena di aksi boikot produk oleh sejumlah orang terutama karena sentimen tertentu biasanya biasanya bersifat impulsif dan tidak jangka panjang. Hanya efek sesaat saja. Nyatanya, tahun kemarin Sari Roti yang mendapat upaya boikot pembelian produk pasca-Aksi 212 tetap beringas kok. Bahkan, di kuartal keempat, alias di masa saat boikot berlangsung, Sari Roti mencatatkan penjualan senilai Rp684,7 miliar, meningkat 13% dibanding dengan penjualan kuartal tahun sebelumnya.

Jadi, kita nikmati saja keramaian aksi boikot ini. Kami kru Mojok di Jogja tidak ikut uninstall, sebab, selain kami tidak mau ikut sentimen, kami juga memang tidak pernah menginstall Traveloka sebelumnya.

Bagi kami, Traveloka harga nego, Gembiraloka harga mati. traveloka

No more articles