Mahfud MD, lahir di Sampang, Madura, 13 Mei 1957, sebagai keempat dari tujuh bersaudara. Nama aslinya adalah Mohammad Mahfud. MD sendiri merupakan singkatan dari nama ayahnya, yakni Mahmodin. Penambahan nama ini dikarenakan ada beberapa siswa di kelasnya saat SMP yang memiliki nama sama sehingga perlu dilakukan untuk mempermudah membedakan. Namun, inisial ini lupa dicoret dalam penulisan ijazah sehingga terbawa ke ijazah SMA, perguruan tinggi, hingga Guru Besar.

Mahfud mengenyam pendidikan dasar dengan belajar agama Islam dari surau dan Madrasah Diniyyah. Masuk usia tujuh tahun, ia menjalani pendidikan dasar di pagi hari dan belajar Madrasah Ibtidaiyah di sore harinya, kemudian menghabiskan waktu malam hingga paginya di surau.

Setamat SD, Mahfud melanjutkan belajar ke Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Pamekasan. Ketika itu, ada kebanggaan sendiri bagi orang Madura jika menjadi guru atau kyai. Setelah 4 tahun belajar, ia terpilih mengikuti Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), sebuah sekolah kejuruan unggulan milik Departemen Agama yang terletak di Yogyakarta.

Setelah itu, ia berencana melanjutkan sekolah di PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran) di Mesir. Namun, ketika menunggu persetujuan beasiswa, ia mendaftar ke Fakultas Hukum UII dan Jurusan Sastra Arab UGM. Karena terlanjur betah di Fakultas Hukum, ia memutuskan meneruskan pendidikannya di sana. Kuliahnya di Sastra Arab tidak dilanjutkan karena ia merasa apa yang diperolehnya dari jurusan itu tidak lebih dari yang didapat di pesantrennya dulu.

Karena kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan, ia giat mencari biaya kuliah sendiri, termasuk beasiswa. Hal ini tidak sulit baginya karena ia juga mendapat honorarium dari tulisan-tulisannya yang dimuat di beberapa surat kabar.

Mahfud yang juga tertarik dengan politik, kemudian aktif dalam beberapa organisasi. Di organisasi ekstra kampus, ia bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sementara di organisasi intra kampus, ia aktif di Senat Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa, serta Pers Mahasiswa. Dari beberapa organisasi tersebut, hanya lembaga pers yang paling ditekuni. Karena kritik-kritiknya terhadap pemerintah Orde Baru, majalah dari lembaga pers yang dipimpinnya tersebut pernah dibredel sampai dua kali.

Lulus dari Fakultas Hukum, ia mengajar sebagai dosen di almamaternya. Ia kemudian melanjutkan S2 Ilmu Politik di UGM, diikuti dengan S3 Ilmu Hukum Tata Negara UGM.

Karier Mahfud semakin cemerlang, tidak saja dalam lingkup akademik, namun juga di jajaran birokrasi eksekutif. Tercatat, ia pernah menjadi Menteri Pertahanan serta Menteri Kehakiman dan HAM di era pemerintahan Gus Dur. Di bidang legislatif, ia pernah menjabat anggota DPR RI periode 2004-2008. Di bidang yudikatif, ia menjadi Hakim Konstitusi serta Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2011.