3   +   5   =  
  • 12
    Shares

MOJOK – Meskipun tidak bisa hadir karena sedang kunjungan ke negara lain, nama Habib Rizieq Shihab tetap masuk sebagai Calon Presiden (Capres) yang direkomendasikan oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212. Uniknya, nama Prabowo Subianto malah cuma rekomendasi nomor dua. Jadi yang kedua.

Rakornas Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang digelar Selasa (29/5) mengeluarkan sebuah pengumuman penting mengenai siapa saja Calon Presiden (Capres) yang akan diusung oleh kelompok ini. Beberapa nama diusulkan baik sebagai capres maupun Calon Wakil Presiden (cawapres) untuk Pemilu 2019 mendatang. Uniknya, nama Habib Rizieq Shihab jadi kandidat nomor satu dan—justru—Prabowo Subianto berada di urutan setelahnya.

Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif, menjelaskan bahwa sebagian besar anggota menginginkan (yang disebutnya sebagai) imam besar umat Islam untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia. Acara yang juga dihadiri oleh Amien Rais dan Adhyaksa Dault ini merumuskan nama-nama yang diinginkan untuk menjadi capres yang akan melawan Presiden Jokowi pada pemilu mendatang. Beberapa nama sudah lama dikenal karena pernah juga mencalonkan diri tapi gagal.

Beberapa rekomendasi capres ini diurutkan menjadi; (1) Habib Rizeq Shihab, (2) Prabowo Subianto, (3) Tuan Guru Bajang, (4) Yusril Ihza Mahendra, (5) Zulkifli Hasan. Sedangkan beberapa rekomendasi cawapres di antaranya; (1) Ahmad Heryawan, (2) Hidayat Nur Wahid, (3) Yusril Ihza Mahendra, (4) Anies Matta, (5) Zulkifli Hasan, dan nama-nama lain.

Baca juga:  Mardani Politisi PKS Sebut IQ Komunal Tim Kampanye Jokowi Cuma Punya Skor 80

Uniknya, dalam acara, nama Jokowi juga sempat masuk ke dalam bursa capres meski pada akhirnya tidak muncul pada rekomendasi. Artinya, popularitas Presiden Jokowi sebagai calon presiden memang sulit untuk dilawan, bagaimana pun juga Jokowi adalah petahana yang menang dari Pemilu kemarin. Apalagi, disebabkan karena Jokowi juga hadir pada “Aksi Bela Islam III” pada 2 Desember 2016, maka nama Jokowi juga sudah bisa disebut alumni 212. Yang artinya, Jokowi punya “hak suara” pada acara tersebut.

Akan tetapi, Jokowi ini ternyata bukan seorang alumni 212 yang baik. Ketika sosok secanggih Amien Rais dan Adhyaksa Dault aja merelakan jauh-jauh datang menghadiri Rakornas PA 212, Jokowi yang cuma Presiden Indonesia malah tidak hadir. Ini namanya meremehkan kekuatan PA 212 yang konon jumlah alumninya sampai 7 juta itu tapi yang datang ke rakornas setengahnya enggak ada.

Bisa jadi ketidakhadiran Jokowi ini adalah upaya untuk menghormati Habib Rizieq Shihab yang sedang melaksanakan umroh untuk jangka waktu yang tak terbatas. Jadi, menimbang bahwa Sang Imam Besar saja tidak bisa hadir, kenapa pula Presiden juga harus hadir? Justru ketidakhadiran ini menunjukkan kepedulian bahwa tanpa Sang Imam, Rekomendasi Capres PA 212 ini tidak begitu sangar kekuatannya.

Bisa jadi jika Habib Rizieq bisa hadir untuk pertemuan PA 212 ke depannya, Pak Jokowi mungkin akan mempertimbangkan hadir. Tentu tidak datang langsung, tapi hanya mengirim “wakil” segelintir perwakilan anggota Kapolri. Buat apa ini? Mau nangkap ya? Oh tidak, cuma mau mengamankan saja kok. Puasa-puasa gini mbok jangan suuzan dulu.

Baca juga:  Jika Dikecewakan Gerindra, PKS Lebih Memilih Abstain Ketimbang Berpindah Mendukung Jokowi