MOJOK.CO Melambungnya nama Partai Berkarya pasca berkumpulnya seluruh Keluarga Cendana ternyata tidak menimbulkan perasaan takut bagi partai politik lainnya. Hmm, kenapa, ya?

Berkumpulnya putra dan putri Keluarga Cendana dalam Partai Berkarya menjadi gebrakan baru dalam dunia politik Indonesia. Pasalnya, selama beberapa tahun belakangan, meme Pak Harto bertuliskan “Enak jamanku, tho?” kerap beredar. Seolah mimpi jadi nyata, “nyawa” Pak Harto kini disebut hadir kembali melalui Tommy dan saudara-saudaranya.

Tapi sebenarnya, tepatkah kehadiran Partai Berkarya yang diusung oleh anak-anak Soeharto, bahkan hingga menantu dan cucu-cucunya ini?

Menurut pengamat politik Indonesia, Rico Marbun, kehadiran Partai Berkarya sudah tepat karena waktunya pun pas. Apalagi kini, kondisi ekonomi di Indonesia kian melemah sehingga masyarakat merindukan kejayaan ekonomi yang dulu ada di bawah kepemimpinan Soeharto.

Dengan demikian, mungkinkah Partai Berkarya “mengancam” eksistensi partai politik lainnya?

Menanggapi pertanyaan ini, PDIP, PAN, dan PKS menanggapi santai. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira, misalnya: ia meyakini Partai Berkarya belum setara dengan PDIP sebagai kompetitor di Pileg 2019. Lebih lanjut, ia menyebutkan, “Kalau untuk saingan PDI Perjuangan, saya kira masih jauh.”

Pendapat Andreas ini didasarkan pada karakter partai yang berbeda antara PDIP dan Berkarya. Karakter ini pun dinilainya menghasilkan pangsa pemilihan yang berbeda.

Hal serupa disuarakan pula oleh Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi. Meski mengapresiasi berkumpulnya anggota Keluarga Cendana dalam Partai Berkarya, ia yakin bahwa PAN dan Berkarya bukanlah saingan karena memiliki basis konstituen berbeda.

Baca juga:  Menyambut Terbentuknya "Koalisi Habib Rizieq" di Pilpres 2019

“Secara sosiologis, Partai Berkarya bukan saingan PAN karena berbeda basis konstituennya. Dalam perspektif politik aliran, PAN basis konstituennya di tipe pemilih nasionalis religius, kaum milenial dan anak muda, juga masyarakat terpelajar. Kalau PB, masyarakat pedesaan, pegawai negeri, dan kaum nasionalis.”

Meski demikian, pihak PAN dan PDIP agaknya bersepakat bahwa Partai Berkarya memiliki kans untuk mendapatkan suara dari pendukung Partai Golkar (PG). Terlebih, sosok Siti Hediati Harijadi (Titiek Soeharto) yang dulunya menjadi “wakil” Keluarga Cendana di Partai Golkar kini justru pindah ke Partai Berkarya.

Agak-agak mirip dengan PDIP dan PAN tapi sedikit lebih puitis, kini giliran PKS bersuara. Menurut Jazuli Juwaini, Ketua Fraksi PKS, PKS akan selalu terpatri di dalam jiwa pendukungnya.

“Saya kira tidak ada yang perlu ditakuti, yang perlu dilakukan adalah bagaimana PKS selalu berjuang untuk rakyat, selalu hadir dalam setiap persoalan rakyat, dan bekerja keras untuk meyakinkan rakyat. Insyaallah PKS masih tetap ada di hati rakyat.”

Masih menurut Jazuli, alih-alih nervous karena harus bersaing dengan partai Cendana returns ini, PKS lebih ingin berfokus pada proses mendapat dukungan rakyat.

“Semua peserta pemilu (bukan hanya PKS dan Berkarya), seluruh parpol peserta pemilu, akan bersaing merebut hati rakyat untuk memilihnya. Siapa yang paling kuat dalam meyakinkan rakyat dengan seluruh perangkatnya, maka dialah yang akan keluar sebagai juara,” terangnya.

Baca juga:  Enggan Ngomongin Timses, Prabowo Masih Mikirin Amukan Dolar dan Melemahnya Rupiah

Yah, wajar-wajar saja sebenarnya jika ketiga partai ini menyatakan tidak takut dengan Partai Berkarya yang diisi oleh anak-anak Soeharto. Bagaimanapun, partai-partai politik pasti takutnya cuma satu: takut kalah, lantas tak dapat kursi. (A/K)