• 751
    Shares

MOJOK.COAroma konflik dan nuansa perpecahan di tubuh Partai Keadilan Sejahtera semakin tajam tercium. DPW PKS se-Bali ramai-ramai mengundurkan diri.

Setelah beberapa bulan yang lalu terjadi perpecahan di sektor pimpinan, kini kader pun merasakan masalah yang sama. Terakhir, kader PKS se-Bali mengundurkan diri secara massal. Konon, fitnah dan pergantian kepengurusan menjadi penyebabnya.

Betul, kamu tak salah membaca, seluruh jajaran DPW PKS Bali seiya sekata untuk resign dari kepengurusan partai. Ada beberapa penyebab aksi mundur ramai-ramai ini yang beredar di media massa. Salah satunya adalah fitnah yang diterima oleh DPW PKS Bali.

Mudjiono, Ketua DPW Bali mengungkapkan fitnah yang menjadi salah satu alasan para kader mundur. “Tanpa tabayun, tanpa konfirmasi, memfitnah ini itu, kita minta klarifikasi, suruh datang nggak mau datang menjelaskan,” ungkap Mudjiono dengan kesal.

Bapak Mudjiono juga membantah dengan keras bahwa DPW PKS Bali menolak kedatangan Presiden PKS hingga soal dukungan para kader kepada Jokowi di Pilpres 2019.

“Ya DPP-lah, dan Presiden PKS juga tahu yang bikin isu kader menolak kedatangan Presiden, padahal nggak. Kita jamu makan enak, ajak touring, kita bayarin. Kita klarifikasi, datang dong ke Bali…Bahkan yang terbaru kita dibikin tidak sepakat dengan pilihan DPP, karena DPP milih Prabowo, kita milih Jokowi. Yang benar sajalah, wong DPP PKS belum ada instruksi ke bawah sampai tanggal 27, belum ada bahwa DPP mendukung Prabowo, ada apa itu kok tanggal segitu sampai hari ini belum ada instruksi. Gitu nuduh kita,” ungkap Mudjiono.

Baca juga:  Gibran Rakabuming Tak Penuhi Syarat Kader PDIP, Kata Puan: Hak Prerogatif DPP Partai

Selain masalah fitnah, Mudjiono juga mengungkapkan 4 alasan lain yang membuat para DPW PKS se-Bali mengundurkan diri.

Alasan pertama, penggantian kepengurusan adalah bentuk otoritarianisme DPP dengan menabrak AD/RT dan persekusi terhadap kader yang ditubuh tidak loyal. Alasan kedua, anti dengan demokrasi, pimpinan menutup pintu dialog dan perbedaan pandangan.

Alasan ketiga, sikap dan tindakan pimpinan berbeda jauh dengan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas selama ini. Keempat, pembelahan pimpinan sejak 2016 secara sistemik, konflik, dan pemecatan yang membuat partai kehilangan kekuatannya menjelang Pilpres 2019 nanti.

Mewakili semua kader, Mudjiono mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bali atas dukungan selama ini. “Bagi kami, politik adalah sarana menebar kebaikan dan berjuang untuk bangsa, negara, dan agama. Kami akan tetap akan berjuang menebar kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar bagi masyarakat Bali,” tutup Mudjiono. (yms)