• 135
    Shares

MOJOK.CO – Jelang pendaftaran nama capres dan cawapres, Abdul Somad yang muncul dari Ijtima Ulama untuk mendampingi Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya tidak pernah condong ke salah satu aliansi politik.

Abdul Somad mungkin jadi salah satu sosok yang cukup direpotkan dalam detik-detik pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) bulan ini. Di saat banyak nama saling berebut untuk bisa maju sebagai cawapres dari salah satu dari dua capres paling berpeluang di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo, Abdul Somad malah jadi satu-satunya sosok yang paling sibuk menangkis kemungkinan dirinya jadi cawapres.

Di kubu capres Jokowi, nama seperti Muhaimin Iskandar (Cak Imin) misalnya, berulang-kali seperti “menekan” pihak koalisi PDIP dan Jokowi sendiri agar dipastikan untuk dipiliha. Berbagai cara dilakukan Cak Imin. Dari pasang baliho sejak jauh-jauh hari bahkan sampai bikin pertemuan-pertemuan internal untuk mambahas kemungkinan dirinya maju sebagai cawapres semakin besar.

Di kubu capres Prabowo, nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat pun digadang-gadang akan jadi pendamping. Pihak Demokrat bersama Susilo Bambang Yudhoyono pun merapat begitu dekat berharap sang putra mahkota akan dilirik oleh koalisi Gerindra agar dipilih sebagai pendamping.

Di sisi lain, dari pihak eksternal parpol yang akan berlaga pada Pilpres 2019 esok, Ijtima Ulama sudah merekomendasikan Salim Segaf Al-Jufri dari Ketua Umum PKS dan Abdul Somad, ustaz yang sedang populer belakangan ini.

Baca juga:  PDIP Sebut SBY Baper, Gerindra Justru Optimis Demokrat Merapat

Akan tetapi, Ijtima Ulama agaknya jauh lebih berharap kepada Abdul Somad ketimbang pada Salim Segaf yang jelas-jelas punya preferensi politik senada. Bahkan Uztaz Arifin Ilham sampai harus membuat rekaman suara yang ditujukan untuk Abdul Somad agar bersedia jadi pemimpin dan ulama sekaligus. Rekaman ini sudah tersebar di media sosial. Arifin pun menyebut Abdul Somad dengan panggilan “Abang” sebagai bukti kedekatan.

“Abangku, dunia ini sebentar. Dan dakwah yang paling jitu, paling tepat, paling mulia, dan mengundang kesuksesan, keberkahan adalah dakwah bil quwwah, bukan hanya dakwah bil lisan,” kata Arifin Ilham.

Bahkan Arifin juga yakin bahwa Abdul Somad punya kecakapan yang cukup untuk menyelamatkan negeri ini, “Tampilah, Bang, untuk menyelamatkan negeri ini. Senangkanlah hati umat. Penuhilah harapan ulama.”

Meski tetap menghormati dukungan dari para ulama di Ijtima Ulama, Abdul Somad masih kukuh dengan pilihannya untuk tetap konsentrasi di jalur dakwah saja. Sebenarnya Somad mengaku cukup heran melihat besarnya dukungan kepada dirinya, padahal tak pernah satu pun dirinya mengeluarkan pernyataan mendukung salah satu pihak dalam pemerintahan atau aliansi politik.

“Untuk masalah dukung mendukung, support men-support ke depan, sampai hari ini, bisa dicek ceramah saya satu satu tidak pernah menyebut nama, tidak pernah menyebut partai, tidak pernah menyebut nomor, tidak pernah menyebut warna. Saya cuma bercerita secara umum,” kata Abdul Somad dalam wawancara bersama Fakta tvOne.

Abdul Somad juga selalu berhenti pada kriteria-kriteria saja untuk kategori pemimpin negeri. Diakuinya, Somad tidak mau condong ke salah satu pihak. Netralitas ini jelas diperlukan mengingat dirinya adalah ulama yang didengar oleh banyak jamaahnya, sehingga barangkali Somad khawatir pernyataan-pernyataannya dipelintir untuk menyerang atau dianggap mendukung salah satu pihak.

Baca juga:  Gerindra Sebut Sandiaga Bisa kembali Menjadi Kader Gerindra dan Wagub DKI

“Pilihlah pemimpin yang peduli pada Islam, pilihlah pemimpin yang sayang kepada ulama, pilih pemimpin yang amanah, pilih pemimpin yang adil. Itu saja. Tidak pernah menyebut secara spesifik partai, golongan, kelompok. Bahwa ada yang mengindikasikan atau menarik ceramah itu ke arah tertentu, itu sudah kesimpulan masing-masing,” tambahnya.

Dalam kondisi di mana banyak pihak berlomba-lomba jadi pemimpin—bahkan—saling sikut sana-sini demi bisa maju, sikap Abdul Somad ini jelas jadi contoh yang mengagumkan. Bahkan perlu jadi rujukan bagaimana seorang ulama bersikap dalam dunia politik. Mengomentari atau mengritik dari jauh dan tidak ikut berkecimpung bisa jadi satu-satunya langkah bijak yang bisa ditempuh dengan merujuk pada pilihan sikap Abdul Somad. (K/A)