MOJOK.CODi tengah pandemi corona, stok pangan Indonesia mulai defisit, Jokowi pun mulai memerintahkan BUMN dan Kementerian Pertanian untuk membuka lahan sawah baru.

Jangan terlalu percaya diri dengan apa yang kita katakan, sebab seiring berjalannya waktu, kepercayaan diri yang berlebih itu bisa menjadi senjata yang berbalik menyerang kita. Presiden Jokowi tampaknya sedang merasakan kepahitan ini.

Pertengahan Maret lalu, Jokowi sempat mengatakan bahwa stok pangan Indonesia di tengah pandemi corona dijamin aman. Ia meminta masyarakat agar tidak panik.

“Saya kemarin sudah cek di Bulog, saya melihat stok kita lebih dari cukup,” kata Jokowi saat itu dalam rapat terbatas melalui video conference di Istana Merdeka, Kamis, 19 Maret 2020 lalu.

Satu bulan berselang, kemantapan akan stok pangan tersebut mulai berubah.

Dalam rapat terbatas tentang Lanjutan Pembahasan Antisipasi Kebutuhan Bahan Pokok di Istana Bogor, pada hari Selasa, 28 April 2020 lalu, Presiden Jokowi mendadak memaparkan bahwa stok komoditas pangan domestik di banyak wilayah di Indonesia ternyata mengalami defisit.

Jokowi menyebut bahwa defisit beras saat ini sudah terjadi di 7 provinsi dan defisit jagung di 11 provinsi.

Sebagai usaha antisipasi, Jokowi kemudian memerintahkan kepada BUMN dan Kementerian Pertanian agar mulai “keroyokan” membuka lahan persawahan baru.

“Presiden meminta BUMN dan daerah, serta Kementerian Pertanian untuk membuka lahan baru untuk persawahan yaitu lahan basah dan lahan gambut,” terang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melalui konferensi pers. “Di Kalimantan Tengah diperkirakan ada lebih dari 900.000 hektare, yang sudah siap 300.000 hektare juga yang dikuasai BUMN ada sekitar 200.000 hektare agar dibuat perencanaan.”

Rencana tersebut sontak memancing berbagai komentar dari netizen, tak terkecuali dari akun @sandalista1789, akun milik aktivis Bilven yang selama ini memang dikenal getol mengkritik Jokowi. 

Komentar yang agak (atau sangat?) nylekit tersebut tak lepas dari fakta tentang banyaknya jumlah lahan pertanian yang kena gusur sebagai imbas pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi.

Lebih dari itu, rencana Jokowi untuk membuka sawah dari lahan gambut tersebut juga ditentang oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Indonesia. Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial, Walhi, Wahyu Perdana menyebut bahwa alih lahan gambut menjadi sawah bisa menyebabkan bencana ekologis. Menurutnya, rusaknya ekosistem gambut merupakan salah satu biang kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Wahyu, cara terbaik untuk meningkatkan stok pangan adalah dengan memberikan hak atas tanah kepada para petani, bukannya malah mengalihfungsikan lahan gambut menjadi sawah.

sawah

Baca juga:  Jokowi Perlu Kabinet 100 Menteri Agar PKB dan Nasdem Nggak Rebutan Jatah