MOJOK.COLebaran pertama, AHY mengunjungi Jokowi dan Megawati. Lebaran kedua, sowan ke kediaman Gus Dur. Lebaran ketiga, mampir ke Pak Prabowo dong?

Lebaran hari pertama, rombongan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY), ditemani istri masing-masing, bertandang ke tempat Jokowi. Banyak yang memandang pertemuan itu sebagai sebuah “langkah politik”. Namun, Partai Gerindra menepis anggapan itu.

Partai Demokrat sendiri menegaskan kalau kunjungan AHY dan Ibas ini tidak berkaitan dengan agenda politik. Ini murni kunjungan, di mana Ferdiand Hutahaean, Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Demokrat, menyebutnya sebagai “silaturahmi balasan”.

Kunjungan Lebaran itu adalah kunjungan silaturahmi balasan dan kunjungan silaturahmi ucapan terima kasih atas apa yang dilakukan oleh Pak Jokowi sebagai presiden saat pemulangan jenazah Ibu Ani dari Singapura hingga pemakaman yang cukup baik dan terima kasih atas kehadiran Ibu Mega saat pemakaman Ibu Ani,” kata Ferdinand.

“Tentu ini adalah pertanda baik bagi silaturahmi politik elite bangsa. Ke depan tentu akan semakin baik lagi, karena DNA politik Partai Demokrat adalah tidak ada musuh dalam politik, tapi hanya ada kontestasi demokrasi dan setelah itu kita membangun bangsa bersama-sama,” tutur Ferdinand seperti dikutip oleh Detik.

Masih Lebaran hari pertama, setelah “silaturahmi balasan” dengan Jokowi, rombongan AHY dan Ibas berlebaran di rumah Megawati. Pertemuan ini dianggap bisa memutus ingatan ketegangan politik antara Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “AHY ingin memutus dendam atau ketegangan politik sejarah SBY dengan Mega,” ujar pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito.

Baca juga:  Orang Dekat Amien Rais: Malu 3 Kali Lipat Kalau Gabung Jokowi

Menurut Arie Sujito, ada dua makna dari kunjungan AHY dan Ibas ke Jokowi dan Megawati ketika Lebaran. Pertama, sebagai proses rekonsiliasi politik. Politik SBY dan Partai Demokrat bukan politik oposisi dan konfrontasi. Oleh sebab itu, wajar jika AHY menempuh jalur rekonsiliasi dengan menemui Jokowi dan Megawati.

Kedua, ucapan Prabowo yang menyebut pilihan politik Ibu Ani dirasakan sebagai sebuah pukulan kepada SBY dan keluarga. “Itu kemarin pukulan yang cukup telak pada keluarganya SBY. Nah, itu menjadi alasan mengapa dua hal itu dijadikan sebagai alasan oleh AHY untuk silaturahmi ke Presiden Jokowi sama Ibu Mega,” Kata Arie.

Arie Sujito memandang kunjungan AHY ke Jokowi dan Megawati membuat ketegangan politik Mega dengan SBY hanya menjadi sebuah “fakta historis politik” yang tidak berlanjut. Megawati dan SBY pastinya merasa ketegangan politik keduanya menjadi kontraproduktif bagi karier politik anak-anaknya.

Lebaran hari kedua, rombongan AHY dan Ibas sowan ke kediamain Gus Dur. Rombongan dari Cikeas itu diterima oleh putri kedua Gus Dur, Yenni Wahid. Yenni Wahid memuji kunjungan AHY dan rombongan. Beliau menyebut mereka sebagai pemimpin muda yang tetap menyempatkan waktu sowan ke yang lebih tua, meskipun masih berduka.

“Hari ini kami kedatangan tamu-tamu istimewa, tamu-tamu Soleh dan Solehah, putra putri Bapak Presiden ke-6 RI, Bpk SBY dan Almarhumah Ibu @aniyudhoyono, Bpk-Ibu Aulia Pohan dan Bpk-Ibu Hatta Rajasa: mas @agusyudhoyono dan mbak @annisayudhoyono, mas @ibasyudhoyono dan mbak @ruby_26 beserta putra putri mereka. Walaupun masih dalam suasana berduka, para pemimpin muda ini tetap menyempatkan diri untuk sowan dan bersilaturahmi lebaran ketokoh-tokoh yang dituakan. Semoga kita semua dapat mencontoh akhlak yang baik ini. Salam kami untuk Pepo, semoga Beliau diberi ketabahan dalam menjalani hari-hari kedepan tanpa didampingi istri tercinta. Kontribusi Beliau tetap ditunggu oleh bangsa ini. 🙏🏽🙏🏽❤️,” tulis Yenny di akun IG pribadinya.

Baca juga:  Jika Prabowo Tidak Maju Nyapres, PKS Siap Usung Anies-Aher

Lebaran pertama, AHY mengunjungi Jokowi dan Megawati. Lebaran kedua, sowan ke kediaman Gus Dur. Lebaran ketiga, apakah AHY dan rombongan akan mampir ke Hambalang atau Kertanegara? Pak Prabowo tentu menunggu dengan sabar. Sebagai rekan koalisi di Pemilu 2019, sudah selayaknya Pak Prabowo juga dianggap sebagai “yang lebih tua” dan layak disowani.

Bukan begitu, Mas AHY?

(yms)