MOJOK.CODitarget naik, ekonomi Indonesia justru turun dengan drastis. 

Jangan terlalu meyakini sesuatu berlebihan, bisa jadi, yang bakal terjadi justru sebaliknya. Hal tersebutlah yang tampaknya sedang terjadi pada Pemerintah yang sempat kelewat percaya diri pada pertumbuhan ekonomi di masa-masa awal penyebaran virus corona di Indonesia.

Seperti diketahui, pada pertengahan Februari lalu, Presiden Jokowi sempat mengatakan bahwa target realisasi pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,3% tetap bakal tercapai kendati ada serangan pandemi corona. Saat itu, memang belum ada satu pun pasien positif corona di Indonesia, sebab pasien positif pertama baru diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada tanggal 2 Maret alias dua minggu setelah Jokowi memamaparkan tentang realisasi target pertumbuhan ekonomi tersebut.

Di masa di mana Indonesia seharusya bersiap dengan perang melawan corona itu, Jokowi menyatakan bahwa iklim investasi harus bertumbuh demi tercapainya target pertumbuhan ekonomi.

“Satu-satunya jalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanya satu. Investasi. Investasi yang kecil, tengah, maupun gede,” terang Jokowi saat itu dalam acara Rakornas BKPM 2020 di Jakarta, tanggal 20 Februari 2020.

Namun sayang seribu sayang, prediksi dan target memang kerap meleset, bahkan melesetnya jauh dan justru berbanding terbalik dengan apa yang ditargetkan.

Alih-alih mengalami kenaikan, ekonomi Indonesia justru turun. Hal tersebut sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (PBS), sepanjang periode April-Juni, nilai PDB Indonesia (yang mana merupakan salah satu parameter utama untuk menghitung pertumbuhan ekonomi) mengalami penurunan sebanyak 5,32% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga:  A-Z RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila): Tidak Jelas dan Ditolak Banyak Kalangan

Kendati demikian, pemerintah mengatakan bahwa penurunan ekonomi yang terjadi masih lebih baik dari negara-negara lain yang mengalami penurunan dengan angka yang jauh lebih tinggi.

“Kita masih relatif walaupun terkontraksi. Relatif lebih minimum dibandingkan yang dihadapi negara mitra dagang utama,” terang Staf Khusus Presiden Arif Budimanta pada Rabu, 5 Agustus 2020.

Penurunan PDB dengan nilai persentase yang sama dengan target kenaikan ekonomi yang sempat dicanangkan oleh pemerintah ini kemudian semakin mengamplifikasi humor tentang Jokowi yang sempat dianggap “Presiden antonim” atau “presiden kebalikan”, di mana cara terbaik untuk memprediksi keadaan negara adalah dengan melihat apa saja yang dikatakan oleh Jokowi, dan lihat sebaliknya.

Ah, memang ajaib betul negeri ini.