MOJOK.COSempat ramai kemunculan Kerajaan King of The King di Karawang, seorang petingginya klaim bakal melunasi utang Indonesia. Ebuseeet.

Namanya Juanda, seorang pria paruh baya berkumis usia 48 tahun. Asli Karawang, pria tulen, ganteng, dan berkumis.

Namanya jadi terkenal karena mengaku sebagai Ketua Indonesia Mercusuar Dunia (IMD), sebuah lembaga di bawah naungan King of The King yang sempat menghebohkan Indonesia berbarengan dengan kemunculan Kerajaan Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat.

Selain sebagai petinggi King of The King, Juanda (bukan nama bandara) juga menyambi pekerjaan sebagai PNS berpangkat biasa di Karawang.

Dengan jabatannya saat ini (bukan jabatan yang di PNS), Juanda mengklaim bisa membantu Republik Indonesia dalam melunasi seluruh utang-utangnya.

“Saya tidak hoaks. IMD berdiri bukan untuk makar, tapi untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Untuk melunasi utang Indonesia yang bunganya saja mencapai Rp1 triliun (dalam) satu hari,” kata Juanda yang bukan nama bandara ini.

Menurut Juanda, seluruh utang yang membebani Indonesia tidak bakal bisa dibayar oleh siapapun—tentu saja kecuali dirinya.

“Seluruh utang itu tak akan mampu dibayar oleh Indonesia. Siapapun presidennya. Sampai kiamat pun Indonesia tak bisa lepas dari utang luar negeri,” katanya.

Guna membantu negara yang sangat dicintainya ini, Juanda merasa dirinya dan kerajaan harus turun gunung untuk membantu. Salah satu caranya adalah mencairkan dana yang mereka miliki di The Union Bank of Switzerland (UBS). Dana yang diklaim merupakan peninggalan Presiden Sukarno.

Baca juga:  King of The King dan Kerajaan Absurd, Cara Panjat Sosial Paling Mutakhir

“Bank USB itu merupakan pusat koordinat di seluruh dunia. Segera akan kami cairkan karena proses (pencairan) berlangsung sejak 25 November hingga 30 Desember 2019,” tambah lord alias petinggi King of The King ini.

Soal pencairan yang menurutnya memakan waktu, Juanda memaklumi karena ada banyak lembaga internasional yang terlibat.

Barangkali, pengalamannya sebagai PNS, membuat Juanda paham, kalau urusan birokrasi dalam negeri saja ribet, apalagi birokrasi internasional ya kan?

“Rencana itu, di-back up oleh Bank Dunia, Pemimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden IMF, Mahkamah Internasional,” katanya.

Bank Dunia? Oke deh.

PBB? Hm, masih oke.

IMF? Oh, iya. Boleh, boleh.

Mahkamah Internasional? Ini ngapain ikut-ikutan di urusan duit woy?

Masalahnya, Petinggi King of The King yang PNS ini belum mau menyebutkan, berapa kekayaan yang dimiliki oleh kerajaannya. Maklum, jika memang King of The King setajir itu punya uang, tentu saja petinggi mereka seperti Juanda ini tak perlu pula jadi PNS untuk dapat gaji dan tunjangan dari negara.

Pengakuan Juanda ini jadi benar-benar mirip seperti fenomena dukun yang menjual perangkat pesugihan dengan keterangan tambahan…

…BU alias “butuh uang”.

Katanya punya pesugihan, lha kok kere? (DAF)

BACA JUGA Kerajaan Absurd, Cara Panjat Sosial Paling Mutakhir atau tulisan rubrik KILAS lainnya.