MOJOK.CODesain visual HUT RI ke-75 mengandung unsur salib, Ormas keagamaan pun melancarkan protes.

Urusan logo dan juga desain visual Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI memang selalu hadir dengan segala polemik yang menyertainya.

Tentu masih belum kering ingatan kita dengan logo HUT RI ke-73 dua tahun lalu yang dianggap menyerupai logo game FPS Point Blank dan sempat sangat ramai itu. Atau kalau mau mengingat lebih jauh, betapa logo HUT RI edisi tahun 2005-2014 yang banyak dinyinyiri oleh para pegiat desain grafis karena dianggap sangat buruk dan monoton dan hanya menambahkan gambar bendera di sebelah angka.

Nah, di tahun ini, masalah tentang visual HUT RI ke-75 juga tetap ada. Namun kali ini bukan pada logo utamanya, melainkan pada bagian ornamennya yang dianggap mengandung unsur salib.

Desain visual HUT RI ke-75 sendiri memang sudah diatur Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara tentang Penyempurnaan Penggunaan Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2020 dan bisa diunduh langsung di laman wesbite Kementerian Sekretariat Negara.

Seperti diketahui, desain visual HUT RI resmi yang dibikin oleh pemerintah pusat itu jika diperhatikan memang mempunyai bagian yang menyerupai bentuk salib. Nah, bagian itulah yang kemudian diprotes dan dipermasalahkan.

Aliansi Ummat Islam Karanganyar (AUIK), misalnya, memprotes pemasangan banner atau spanduk visual HUT RI tersebut di lingkungan kantor pemerintah Karanganyar.

Baca juga:  Insiden Bendera Terbalik, Kesalahan Upacara 17 Agustus yang Paling Sering Terjadi

Perwakilan dari AUIK bahkan mendatangi kantor Setda Karanganyar untuk melayangkan protes dan mendesak agar spanduk visual HUT RI yang mengandung nuansa salib dan mengganti desainnya.

Sementara itu, di Surakarta, protes atas visual tersebut juga muncul.

Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) memprotes adanya unsur salib dalam visual HUT RI.

Ketua Divisi Advokasi & Kelaskaran DSKS, Ahmad Sigit dan beberapa pengurus DSKS pun sempat mendatangi Masjid Balaikota Surakarta pada hari Jumat, 7 Agustus 2020 kemarin untuk menyampaikan protesnya melalui Sekda Kota Solo. Mereka berharap protes tersebut bisa diteruskan ke pihak-pihak terkait seperti Presiden RI, Kementerian Sekretariat Negara, Gubernur Jateng, Walikota Surakarta dan Majelis Ulama Indonesia.

“Kami juga berharap Kementerian Sekretariat Negara meralat dan menarik logo dan desain yang menggunakan simbol agama tertentu yang terkesan ada gambar Salib,” terang Ahmad Sigit.

Ah, memang berat jadi desainer grafis jaman sekarang. Selalu ada saja masalahnya. dari perkara tarif dan harga teman, sampai urusan ormas keagamaan.

desain