MOJOK.CO – Usaha mengurangi penyebaran virus corona membutuhkan kerja sama banyak pihak, termasuk pihak pengurus masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya.

Seminggu yang lewat, MUI secara resmi mengeluarkan fatwa terkait aturan-aturan ibadah salat berjamaah di tengah kondisi darurat corona. Fatwa tersebut mengatur tentang imbauan kepada umat Islam di daerah yang rawan penyebaran corona untuk mulai meniadakan ibadah salat berjamaah, utamanya salat jumat di masjid untuk mengurangi dampak penularan virus.

Tak banyak yang tahu, bahwa langkah serupa juga dilakukan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Di Jakarta, yang saat ini sudah menjadi zona merah penyebaran corona, PGI sudah sejak beberapa hari yang lalu menyebarkan imbauan kepada pengurus-pengurus gereja agar mereka meniadakan ibadah minggu.

“Ibadah Minggu di rumah masing-masing, tidak berkumpul di gereja,” terang kata Ketua Umum PGI Pdt Gomar Gultom seperti dikutip dari Detik. “Berlaku di semua di red area atau yang ada di zona merah yang rawan supaya tidak ada.”

Lebih lanjut, Gimar Gultom menjelaskan bahwa imbauan ini semata untuk urusan kebaikan umat.

“Meminta kesadaran mereka bahwa beribadah seperti itu tidak menolong buat kesehatan dan keselamatan masayarakat. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang membawa berkat bagi masyarakat banyak, bukan untuk memuaskan kedahagaan pribadi,” terangnya.

Sebagai ganti peniadaan tersebut, PGI meminta gereja menyediakan layanan ibadah secara online melalui live streaming. Hal tersebut agar pemeluk agama nasrani tetap bisa beribadah walau secara jarak jauh.

Praktik peniadaan ibadah minggu dan ibadah lainnya di gereja ini sudah mulai banyak dilakukan oleh gereja-gereja di beberapa wilayah rawan.

Di Solo, gereja-gereja sudah mulai meliburkan agenda ibadahnya.

“Kegiatan seperti Liturgi Misa Mingguan, Misa Pagi, ibadat di wilayah, rapat, hingga pertemuan lainnya dibatalkan untuk sementara,” terang Romo Kevikepan Surakarta Rm Robertus Budiharyana Pr.

Yah, usaha untuk mengurangi penyebaran virus ini memang harus dilakukan melalui sinergi banyak pihak, dari mulai tenaga medis, pemerintah, sampai para pemuka agama. Yang terakhir itu bahkan boleh dibilang sangat penting, sebab banyak masyarakat yang menghiraukan instruksi penting terkait corona justru dengan alasan ketaatan beragama.

Agama yang seharusnya bisa ikut membantu menyembuhkan, di tangan orang-orang ngeyelan, justru semakin memperparah penyakit.