MOJOK.COAlasan pencoretan atlet senam artistik dari Jawa Timur dari kontingen senam Indonesia di SEA Games Filipina 2019 masih simpang siur. Pihak pelatnas dan keluarga ngeyel dengan versi masing-masing, sedangkan Kemenpora sebagai otoritas tertinggi belum mengeluarkan investigasi apa pun.

Shalfa Avrila Sania (yang namanya juga simpang siur, ada yang menulis “Shalfa Avrila Siani”), 18 tahun, bersikeras pelatnas senam mengeluarkannya karena tuduhan tidak perawan. Sementara, pelatih, Kemenpora, dan Pengurus Besar Persatuan Senam Seluruh Indonesia (PB Persani) kukuh alasannya bukan itu, melainkan karena indisipliner dan penurunan prestasi.

Kasus ini mengemuka ketika ibunda Shalfa, Ayu Kurniawati, bicara pada media sejak Kamis pekan lalu (28/11).

“’Bu, minta maaf, ini Shalfa harus pulang sekarang karena itu, Bu, dia sering keluar malam. Ini kelihatannya anaknya selaput daranya sudah sobek, seperti orang diperkosa.’ Mendengar itu, langsung syok, lemas, nggak bisa apa-apa,” ujar Ayu menirukan ucapan pelatih Shalfa, dikutip Detik, Jumat (29/11).

Menurut Ayu, disadur dari wawancaranya dengan Tempo pada 29 November, kronologi pencoretan atlet senam ini bermula tiga minggu lalu.

13 November

Saat menjalani vaksinasi polio bagi para atlet senam di Pusdiklat Persani, Gresik, Jawa Timur, Shalfa diinterogasi dua pelatihnya, Retno dan Irma, soal kedekatannya dengan seorang pria. Shalfa kemudian mengakuinya. Irma lalu melapor ke pelatih kepala Indra Sibarani bahwa korban sudah punya pacar dan tidak perawan lagi.

“Dia ngomong kalau SA sudah dites, tidak perawan. (Padahal) anaknya belum dites, cuma diinterogasi, dia nyimpulkan begitu,” ucap Ayu kepada Tempo.

Irma kemudian menelepon Ayu yang berdomisili di Kediri, Jawa Timur untuk menjemput pulang Shalfa. “Saya syok. Saat dijemput anaknya sudah down. Sudah nangis, syok,” tutur Ayu.

Tiba di pelatnas, Ayu hanya bertemu asisten pelatih bernama Haris yang membenarkan bahwa anaknya melakukan tindakan indispliner dan sudah tidak perawan, dinilai dari postur tubuhnya.

Baca juga:  Terkait “Surat Cinta” dari Kemenpora, Roy Suryo Menganggapnya Sebagai Fitnah di Tahun Politik

Setelah pulang ke Kediri, Shalfa terus menangis dan tidak mau keluar rumah.

16 November

Pelatih lain bernama Jahari mengontak Ayu dan menyarankan Shalfa dites keperawanan. Jika terbukti ia masih perawan, ada kemungkinan ia bisa kembali berlatih di pelatnas.

18 November

Ayu membawa Shalfa menjalani tes keperawanan di Surabaya, namun tidak ada rumah sakit yang mau menerima. Ayu kemudian dikabari lagi oleh Jahari bahwa pelatih kepala Indra Sibarani membolehkan Shalfa latihan kembali tanpa perlu tes.

20 November

Ayu membawa Shalfa ke Gresik. Namun, ternyata Indra kembali meminta tes keperawanan. Tes itu kemudian dilakukan di RS Bhayangkara Kediri dan hasilnya, Shalfa masih perawan. Namun, hasil tes ditolak pelatih karena tidak dilakukan di RS Petrokimia Gresik.

Keluarga yang sudah kecewa menolak melakukan tes lagi dan pasrah dengan status Shalfa yang tak bisa berangkat ke Manila. “Saya bertanya karena sudah dites kenapa harus dites lagi. Anaknya merasa kesakitan kalau dites berulang-ulang,” ujar Ayu.

Ketua Umum PB Persani Ita Yuliati membantah soal atlet dipulangkan karena keperawanan. Ia mengatakan, kasus ini murni karena prestasi yang menurun. Ia juga menekankan, maju tidaknya seorang atlet ke kompetisi ditentukan oleh prestasi dan keputusan menpora, bukan keperawanan.

Namun, Ita masih menyelidiki kasus ini. “Apa betul tes dilakukan? Kami belum dapat jawaban. Saya mau kronologis tertulis. Saya tidak mengerti informasi itu. Saya sampaikan ke Menpora dan hasil kejurnas itu jadi pertimbangan,” kata Ita, dikutip dari CNN Indonesia. Ita mengaku belum berkomunikasi dengan keluarga Shalfa.

Pelatih bersikap keras pada keputusan keluarga yang membuka kasus ini kepada media. Mereka juga tegas bahwa kasus ini karena masalah indispliner. “Nggak berprestasi, dibawa SEA Games? Kok enake! Kalau prestasi tinggi nggak apa, tapi masuk final SEA Games saja belum tentu kok,” kata Indra kepada Jawa Pos di Manila, Filipina, Jumat (29/11).

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Roy Suryo, Pakar Telematika cum Mantan Menpora

Selain prestasi menurun, pelatih juga marah karena Shalfa melanggar aturan pelatnas dengan berpacaran dan keluar malam bersama pacarnya. “Lalu dia pergi ke Malang sama cowoknya. Kami nggak tahu apa yang dia lakukan. Pamit juga nggak!” kata pelatih Zahari.

Shalfa mengakui ia memang melanggar jam malam karena keluar bersama pacar. Namun, ia sudah menjalani hukuman berupa tidak menginap di asrama. “Dan saya mematuhi hukuman tersebut, seharusnya masalah indisipliner sudah selesai karena saya telah menerima hukumannya,” kata Shalva yang masih duduk di kelas XII sebuah SMA di Kediri, kepada Jatimnow, Sabtu (30/11).

Shalfa juga tidak terima dengan alasan penurunan prestasi. Sebab, penilaian dilakukan ketika ia hanya dibolehkan memainkan dua alat. “Sebagus apa pun, kalau hanya main dua jenis alat saja, nilainya tetap kalah dengan yang main empat alat. Jadi alasan prestasi menurun untuk mencoret saya sangat tidak tepat,” katanya.

Keluarga sudah bisa menerima bahwa Shalfa tak menjadi atlet di SEA Games Filipina, namun mereka ingin ada permintaan maaf dari pelatnas atas kasus memalukan ini. Sementara Kemenpora sebagai otoritas tertinggi belum mengeluarkan hasil investagasi apa pun untuk menjernihkan sengketa ini.

Shalfa Avrila Sania yang kini duduk di kelas XII sebuah SMA di Kediri sudah berlatih di pelatnas sejak kelas IV SD. Kasus ini membuatnya kecewa dan ingin mengganti cita-cita dari atlet senam menjadi polisi. Senin besok (2/12) ia akan bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya.

atlet senam sea games dicoret karena tidak perawan pb persani kemepora pelatnas shalfa avrila sania kronologi kasus mojok.co

(prm)

BACA JUGA Selaput Dara Buatan, ketika Keperawanan Dipalsukan atau berita terbaru lainnya di rubrik KILAS.



Tirto.ID
Loading...

No more articles