MOJOK.COJokowi sempat dipuji saat melarang adik iparnya untuk maju di Pilkada. Namun sikapnya tersebut langsung runtuh karena dianggap membiarkan anak dan menantinya terjun di Pilkada.

Sikap Jokowi yang dianggap membiarkan dan bahkan dalam tanda kutip ikut mendukung Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution untuk terjun ke dalam kontestatsi Pilkada tentu saja cukup mengecewakan banyak orang.

Jokowi dianggap ikut melanggengkan praktik politik dinasti. Padahal, Jokowi sendiri sempat beberapa kali menegaskan bahwa ia tak pernah suka dengan praktik tersebut.

Jokowi bahkan sempat diapresiasi oleh banyak pihak saat dirinya melarang dan tidak memberikan restu pada adik iparnya, Wahyu Purwanto yang tadinya akan maju dalam Pilkada Gunungkidul dan sempat akan diusung oleh Partai Nasdem.

Langkah Jokowi tersebut dipuji oleh banyak pihak, termasuk dari Nasdem sendiri.

“Keputusan tersebut menjadi jelas bahwa Pak Jokowi sangat memperhatikan demokrasi yang sehat dan memperhatikan pendapat masyarakat terkait politik dinasti yang akhir akhir ini mencuat di ruang publik,” kata Sekjen NasDem, Johnny G Plate.

Namun, sikap anti politik dinasti yang ditunjukkan oleh Jokowi mendadak runtuh tatkala ia membiarkan anak dan menantunya terjun ke dalam Pilkada.

Seperti diketahui, Gibran Rakabuming, anak Jokowi maju sebagai calon walikota di Pilkada Solo, sedang Bobby Nasution menantu Jokowi maju dalam Pilkada Medan.

Kritik pun langsung berhamburan. Salah satunya dari politisi PKS, Mardani Ali Sera.

Baca juga:  Gibran Rakabuming Tak Penuhi Syarat Kader PDIP, Kata Puan: Hak Prerogatif DPP Partai

Ketua DPP PKS tersebut menganggap Jokowi tidak konsisten dengan sikap dan prinsip politiknya.

“Kalau niatnya (Jokowi meminta Wahyu tidak mencalonkan) saya tidak tahu. Tetapi sikapnya (Jokowi) tidak konsisten. Mestinya, kalau di sini tak mendukung, ya, di sini juga jangan didukung, anak dan menantunya,” terang Mardani kepada awak media di kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 27 Juli 2020 kemarin. “Ketika Presiden, tanda kutip, membiarkan anak dan menantu maju (di pilkada), beliau kan selalu bilang ‘Saya tidak akan kampanye’, tapi babnya KKN, nepotisme, dalam hal ini, kekeluargaan, kekerabatan bahasa Mbak Titi (Direktur Eksekutif Perludem) itu salah satu yang kita ingin hilangkan saat tuntutan rakyat di reformasi, sekarang orang nomor 1 mempraktikkan.”

Mardani mengatakan bahwa jika Jokowi memang serius ingin mendobrak dan menghancurkan praktik politik dinasti, Jokowi seharusnya bukan hanya melarang adik iparnya, namun juga melarang anak dan menantunya terjun di Pilkada sebab menurutnya hubungan kekerabatan antara anak dan menantu jauh lebih kuat ketimbang ipar.

“Anak dan menantu jauh lebih dekat ketimbang ipar. Harusnya yang di sini ditolak, di sana ditolak juga. Tidak konsisten. Harusnya satu sikap. Apalagi pimpinan, pimpinan itu nggak boleh ada keraguan. Dia harus firm, lugas, tegas, jelas.”

Ah, menjadi Presiden memang susah. Namun terkadang, menjadi konsisten, itu jauh lebih susah.

Baca juga:  Pilkada Serentak? Selalu Ada Alasan untuk Ndak Nyoblos

Jokowi sudah membuktikannya.

jokowi