MOJOK.CO – Hati-hati saat menyebut kata ‘bom’ dalam pesawat. Terbaru, isu bom di Lion Air telah mengakibatkan belasan penumpang mengalami cedera.

Pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 687 dari Pontianak tujuan Jakarta terpaksa harus mengalami delay. Pada penerbangan Senin malam (29/5) dari Bandara Supadio Pontianak ini, seorang pramugari dikabarkan melaporkan adanya gurauan atau ancaman bom dari salah seorang penumpang berinisial F.

Walaupun dikabarkan sekadar gurauan atau bercanda, pernyataan F ini langsung berdampak besar. Bahkan, penumpang pesawat langsung panik dan melompat keluar dari sayap pesawat. Saking besarnya bahaya yang ditimbulkan dari kepanikan penumpang lain, orang-orang langsung mencaci maki F. Tak pelak, ia pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Namun, belakangan, santer beredar di media sosial sebuah yang tak kalah mengejutkan: si F memang tidak bercanda, hanya saja pramugari pesawat salah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh F tadi!

Kronologi Merebaknya Isu Bom di Lion Air

Mula-mula, Mas F ini kabarnya diduga keberatan melihat seorang pramugari menggeser tasnya di kabin pesawat. Disebutkan selanjutnya, F mengaku-ngaku bahwa di dalam tasnya terdapat bom saat ditanya oleh pramugari perihal isi tasnya tersebut. Pernyataan inilah yang kemudian mengejutkan pramugari dan penumpang lainnya. Dengan segera, pramugari melaporkan ancaman ini kepada kapten penerbangan dan meminta penumpang lain untuk keluar pesawat secara tenang.

Tapi—namanya juga panik—tahu-tahu saja pintu darurat sudah terbuka. Bukan oleh pramugari, pintu darurat ini dibuka oleh seorang penumpang yang sudah kepalang panik dan takut mendengar gurauan F. Peristiwa ini kemudian disusul dengan riuhnya penumpang yang ingin cepat-cepat keluar hingga melompat dari sayap pesawat. Disebutkan pula, setidaknya terdapat 11 penumpang yang cedera akibat kepanikan ini.

Baca juga:  Dibanding Citilink, Saya Pikir Batik Air Lebih Bagus

https://www.youtube.com/watch?v=shJkRQ1HxlE

Menurut keterangan dari Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Nanang Purnomo, F telah mengakui perbuatannya dan menyebut motif di balik perkataannya adalah sebatas iseng saja. Kini, F memang telah diperiksa dan menyesali perbuatannya.

Penumpang Iseng atau Pramugari Salah Dengar?

Namun demikian, baru-baru ini beredar kabar bahwa F tidaklah sedang bercanda atau berniat iseng menyebut kata ‘bom’ di pesawat. Ada beberapa sumber yang meyakini bahwa F berkata, “Ada tiga laptop di situ. Hati-hati, Bu.”

Konon, kata “Bu” inilah yang ditafsirkan oleh pramugari sebagai kata “bom”, mengingat F berbicara dengan logat Papua yang cepat.

[!!!!!!!!!!!!!!!!!!11!!!]

Jadi, manakah versi yang sebenarnya terjadi? Apa sebenarnya penyebab dari isu bom di Lion Air ini? Apakah kita memang berhasil ditakut-takuti oleh bercandaan super-nggak-lucu dari seorang penumpang, atau kita ternyata telanjur panik karena pramugari yang salah dengar?

Hmmm… Tapi, jika memang hanya merupakan kejadian salah dengar, bagaimana bisa F menyebutkan motifnya hanya iseng saat diperiksa oleh kepolisian? Apakah saat sedang mengakui perbuatannya di pesawat sebagai sesuatu yang iseng sebenarnya ia pun hanya sedang iseng belaka—alias iseng-ception???

Kabar terakhir, Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono disebutkan telah memastikan bahwa tidak ada pramugari maupun kru Lion Air yang salah dengar. Yang terjadi sebenarnya adalah F yang memang melakukan joke bomb alias bercanda dengan kata ‘bom’.

Baca juga:  Agar D’Cost dan Yoshinoya Tak Dibully Saat Larang Pengunjung Makan Kue Tart Tanpa Sertifikat Halal

Hati-Hati, Bercanda Bom Bisa Diancam Pidana Penjara!

Yang jelas, bercanda di atas pesawat dengan menyebut kata ‘bom’ memang telah lama dianggap melanggar UU Penerbangan, tepatnya UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Bukan cuma di Indonesia, hal “kesensitivitasan” atas kata ‘bom’ juga berlaku di seluruh dunia.

Menurut UU Penerbangan di Indonesia, siapa saja yang memberikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan—termasuk mengaku-ngaku membawa bom—dapat diancam pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun. Ancaman hukuman ini berlipat hingga mencapai angka 8 tahun jika informasi yang tidak benar itu sampai mengakibatkan kecelakaan atau kerugian harta benda.

Ya, teman-teman: kata ‘bom’—termasuk segala terjemahannya dan suara-suara yang mirip-mirip, semacam kata ‘bomb’ atau ‘boom’—memang cukup sensitif. Saran saya, salah satu momen di mana kita bisa dengan bebasnya menyebut-nyebut soal ‘boom’ adalah ketika kita lagi nonton Blackpink sambil nyanyi Boombayah.

Hehe~