MOJOK.COPerjuangan ibu menyusui banyak betul. Saat payudaranya membengkak dan sakit karena mengalami mastitis, busui malah diminta tidak berhenti menyusui.

Kakak sepupu saya yang baru saja melahirkan mengeluhkan payudaranya yang terasa sakit. Menyusui menjadi aktivitas penuh penderitaan. Pembengkakan di payudaranya itu dalam dunia kesehatan disebut sebagai mastitis.

Mastitis biasanya menyerang ibu menyusui pada trimester awal kelahiran, tapi kadang terjadi saat proses menyusui telah berjalan lama. Umumnya mengenai salah satu payudara dengan gejala payudara memar kemerahan, terasa gatal, perih saat menyusui, ada bejolan yang menyakitkan, bengkak, bahkan ketika sangat parah, puting susu akan mengeluarkan nanah.

Dilansir dari Alodokter.com, mastitis disebabkan beberapa hal. Penyebab paling umum ialah infeksi bakteri dan saluran ASI yang tersumbat. Dalam kasus pertama, bakteri Staphylococcus dan Streptococcus menginfeksi jaringan payudara melalui luka di puting atau daerah sekitarnya. Bakteri ini biasanya berasal dari mulut bayi atau permukaan kulit payudara. Sementara saluran ASI yang tersumbat maksudnya ASI yang tersisa (sudah diproduksi tapi tidak dikeluarkan) mengendap dalam saluran susu, menyebabkan komplikasi berupa infeksi payudara.

Selain itu, beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko antara lain, adanya luka pada puting payudara, kebiasaan yang menyusui hanya dengan satu payudara, bra yang terlalu ketat, kelelahan, ibu yang kekurangan gizi, frekuensi menyusui yang tidak teratur, dan pernah mengalami mastitis di masa lalu.

Baca juga:  Euro 2016: Surganya Mamak-mamak Menyusui

Meskipun payudara sedang mengalami mastitis dan itu memang menyakitkan, ibu tetap diharuskan untuk menyusui anak-anaknya. Pasalnya, menghentikan pemberian ASI saat menyusui dapat memperparah situasi.

Untuk mengatasi mastitis, dikutip dari Theasianparent, beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya, cukup istirahat, menjaga tubuh agar tidak kekurangan cairan, menghindari pemakaian bra yang terlalu ketat, serta menyusui bayi sesering mungkin dengan sisi payudara yang bergantian.

Selain itu, juga pastikan untuk memompa ASI dengan rutin semisal bayi tidak minum ASI terlalu banyak. Tujuannya agar susu dalam payudara habis. Memijat payudara dengan lembut juga bisa dilakukan supaya ASI keluar dengan lancar. Cara lain: payudara direlakskan dengan dikompres kain yang direndam air hangat.

Selain tindakan penanganan secara fisik, ibu yang mengalami mastitis juga disarankan untuk memperbaiki mood supaya lebih bahagia. Pasalnya, mood ibu berpengaruh terhadap lancar tidaknya ASI yang keluar. Memang sih, ketika ASI tidak banyak keluar atau anak kesulitan mengisap susu sering membuat ibu khawatir dan panik. Akan tetapi perasaan-perasaan negatif ini justru membuat pengeluaran ASI makin terhambat.

Jadi, apa pun yang terjadi, tetap tenang, jangan panik, dan yakin semua akan baik-baik saja ya, Bunda. (A/L)

BACA JUGA Euro 2016: Surganya Mamak-mamak Menyusui dan artikel di rubrik PENJASKES lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles