penyemprotan disinfektan

Penyemprotan Disinfektan Memang Terbukti Tidak Efektif, Namun Kadang Ia Tetap Dibutuhkan Warga

MOJOK.COBanyak ahli kesehatan yang menyatakan bahwa penyemprotan disinfektan terbukti tidak efektif untuk membunuh virus Covid-19.

Di masa awal pandemi, penyemprotan disinfektan menjadi kegiatan yang lumrah dilakukan oleh warga maupun instansi pemerintah. Hal tersebut dianggap sebagai usaha untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19.

Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan berbagai hasil penelitian medis, disinfektasi di ruangan terbuka ternyata tidak efektif dan bahkan tidak berpengaruh dalam upaya membunuh virus Covid-19.

Banyak ahli kesehatan yang sudah mengingatkan masyarakat tentang hal tersebut.


World Health Organization (WHO) bahkan sudah memberikan peringatan kepada sejumlah negara untuk tidak lagi melakukan penyemprotan disinfektan di ruangan terbuka seperti jalan, halaman gedung, ataupun halaman rumah.

“Buang-buang waktu, uang, dan energi. Disinfeksi permukaan tidak diperlukan di jalan dan ruang terbuka.” Tulis Dokter Faheem Younus dalam salah satu twitnya mengomentari kegiatan penyemprotan disinfektan.

Kendati demikian, masih tetap banyak aktivitas penyemprotan disinfektan di ruang terbuka yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun oleh instansi pemerintah.

Di wilayah Bangkalan dan Kota Surabaya yang masuk zona hitam, aktivitas penyemprotan bahkan dilakukan dengan pesawat dan helikopter milik TNI

Baca juga:  Ketika Porter Nyaris Terangkut di Bagasi Pesawat

Lantas, apakah memang usaha penyemprotan disinfektan ini benar-benar harus dihentikan?

Untuk perkara yang satu ini, tentu tidak sesederhana itu. Benar bahwa penyemprotan disinfektan di jalan-jalan dan pekarangan rumah tidak efektif, namun untuk menghentikan aktivitas tersebut pada kenyataannya memang bukan hal yang mudah, sebab selama ini, masyarakat sudah kadung meyakini bahwa penyemprotan disinfektan punya pengaruh terhadap usaha penanganan pandemi Covid-19. Pada titik tertentu, aktivitas tersebut justru dianggap cukup penting.

Awalnya adalah Kokok Dirgantoro, politisi yang selama ini dikenal aktif dalam aktivitas dapur umum untuk membantu warga yang sedang isolasi mandiri. Kokok, melalui cuitan Twitter menuliskan bahwa banyak pihak, termasuk dirinya yang sudah paham bahwa aktivitas disinfektasi ini tidak efektif, namun kegiatan tersebut tetap dilakukan utamanya oleh para perangkat desa sebab aktivitas penyemprotan disinfektan tersebut bisa digunakan sebagai strategi untuk mensosialiasikan pentingnya protokol kesehatan.

Lebih dari itu, penyemprotan disinfektan juga membuat psikologi warga menjadi lebih tenang. Warga merasa diperhatikan oleh perangkat desa.

“Di akar rumput tak mudah utk bisa mendekati masyarakat. Apalagi kalau kondisi panik dan penuh kecemasan. Selama ada celah utk bantu sosialisasi vaksin dan mengurangi pergerakan, tentu perlu diupayakan.” tulis Kokok.

Baca juga:  Neno Warisman Ditunjuk Menjadi Wakil Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandiaga Uno

“Memang tak bisa berdampak banyak. Tapi menemani warga yg panik dan cemas dgn memberikan bantuan (walau sangat minim) menurut saya penting dilakukan,” ujarnya. “Nanti kalau waktunya mulai pas bisa bicara lebih banyak ke masyarakat, dikasih tahu tentang efektivitas penyemprotan disinfektan.”

Banyak yang kemudian satu suara dengan Kokok. Pemilik akun @budiwee ikut mendukung twit Kokok. Ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa penyemprotan disinfektan tidak efektif, namun aktivitas tersebut tetap ia lakukan sebagai strategi sosialisasi protokol kesehatan.

“Saya tahu penyemprotan tidak efektif, tapi saya tetap melakukan agar bisa ketemu warga langsung dan bilang: Penyemprotan hanya buat rumah, buat penghuni rumahnya tetap wajib masker dan harus vaksin.” Tulisnya.

Sementara itu, pemilik akun @toniheru yang merupakan salah satu pengurus RT mengungkapkan bahwa disinfektasi memberikan efek psikologis yang baik pada warga.


“Jika pengurus melakukan penyemprotan disinfektan, warga merasa diperhatikan, ada rasa tenang dan tentunya juga sambil memberi tahu bahwa meski disemprot ribuan kali tapi warga tidak mau menaati peraturan penanggulangan covid, mentaati prokes maka tidak ada gunanya, membangun kesadaran warga itu butuh kesabaran.” Ujarnya.

Berkaca dari hal tersebut, kita tentu jadi punya banyak perspektif. Bahwa upaya penyemprotan disinfektan di masa pandemi seperti sekarang ini bukan lagi melulu soal efektif atau tidak, namun juga perkara strategi sosial dan psikologis di masyarakat.

Baca juga:  Persoalan yang Muncul Dari Penyemprotan Disinfektan, Berbahaya dan Kurang Efektif

BACA JUGA Ketika DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) Disindir Sebagai Provinsi DIY (Do It Yourself) Dalam Penanganan Pandemi Covid-19 dan artikel KILAS lainnya.