Partai Demokrat bisa jadi menjadi partai yang paling bimbang menjelang Pilpres 2019. Maklum saja, di saat tenggat pendaftaran nama pasangan capres dan cawapres semakin dekat, Demokrat belum juga menunjukkan tanda-tanda berkoalisi. Sangat berbeda dengan partai-partai lain yang setidaknya sudah mantap menentukan sikap untuk mendukung Jokowi atau Prabowo, dua tokoh paling potensial di Pilpres 2019 mendatang.

Hal tersebut rupanya terjadi karena adanya perbedaan pendapat dan sikap di dalam internal Partai Demokrat. Ada yang ingin Demokrat merapat ke kubu Jokowi, pun ada juga yang ingin Demokrta merapat ke kubu Prabowo.

“Ada perbedaan pandangan di Demokrat, ada yang dukung Jokowi dan Prabowo,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto.

Adanya perbedaan tersebut mau tak mau memang membuat Partai Demokrat menjadi lebih lentur. Demokrat aktif menjalin lobi-lobi politik dengan dua kubu, baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi.

Rabu mendatang, misalnya, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan akan bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Tentu saja salah satunya untuk membahas kemungkinan-kemungkinan koalisi yang mungkin bisa dijalin.

Sementara itu, “putra mahkota” Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan dengan “putri mahkota” PDIP Puan Maharani. Pertemuan dua mahkota ini tentu saja tak jauh berbeda dengan pertemuan dua ketua umum Demokrat dan Gerindra tadi, yakni sama-sama membahas kemungkinan koalisi yang mungkin bisa dijalin antara keduanya.

Sejauh ini, mau berkoalisi dengan kubu Jokowi atau Prabowo, Demokrat tetap masih ngotot untuk menawarkan AHY sebagai cawapres. Hal tersebut memang menjadi salah satu hambatan utama bagi Demokrat untuk berkoalisi, maklum saja, di kubu Prabowo, PKS sudah mewanti-wanti bahwa posisi cawapres harus dari PKS. Sementara di kubu Jokowi, nama cawapres katanya sudah ditentukan, tinggal mengumumkan saja, dan kemungkinan besar tentu saja bukan AHY. Kalau TGB malah mungkin. Hehehe.

Lantas, ke manakah kira-kira Partai Demokrat bakal merapat? Entahlah. Masih teralu rumit untuk menebaknya.

Ah, andai saja Partai Idaman pimpinan Rhoma Irama lolos verifikasi, pastilah Demokrat sudah mantap membentuk poros ketiga bersama Partai Idaman, sebab dua partai punya banyak kesamaan, termasuk kesamaan bahwa ketua umumnya sama-sama menyanyi.

Haduuuuh, pusing pala Pak Beye. (A/M)

partai demokrat