MOJOK.COArsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) punya koleksi 4 naskah Supersemar, tapi empat-empatnya adalah naskah yang tidak autentik alias palsu. 

Dalam urusan asmara, apalagi kalau menyangkut urusan patah hati, yang namanya masa lalu itu cukuplah dikenang saja. Dijadikan pelajaran dan tak perlu diungkit-ungkit lagi. Sebab semakin diungkit, kadang malah semakin sakit. Namun kalau urusan kekuasaan, masa lalu itu bukan hanya wajib untuk dijadikan pelajaran, lebih dari itu, juga wajib untuk ditelusuri.

Nah, kewajiban itulah yang kini tampaknya sedang berusaha ditunaikan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Sebagai lembaga yang mengurus perkara arsip-arsip nasional Indonesia, ANRI saat ini ternyata masih terus berusaha untuk menelusuri dan mencari naskah asli Super Perintah Sebelas Maret alias Supersemar.

Dalam sejarah kekuasaan Indonesia, Supersemar merupakan salah satu fragmen yang sangat penting. Maklum saja, surat itulah yang di masa lampau dijadikan legitimasi oleh Soeharto untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan negara dari Soekarno.

Dalam sebuah diskusi daring pada Minggu, 13 Desember 2020 kemarin, Pelaksana tugas (Plt) Deputi Konservasi ANRI Multi Siswanti menyatakan bahwa sampai saat ini, ANRI masih terus berburu naskah asli Supersemar.

“Kita memiliki arsip Supersemar tapi itu dari berbagai versi. Setelah kita lihat dari autentikasinya ternyata itu bukan arsip yang asli,” ujarnya seperti dikutip dari Antara. “Kita memang masih mencari tentang arsip tersebut.”

Baca juga:  Analisis Semiotika Adilihung 4 Jenis Baliho Caleg di Indonesia

Beberapa langkah yang sudah dilakukan oleh ANRI sebagai upaya pencarian naskah Supersemar tersebut antara lain adalah dengan menerbitkan daftar pencarian arsip serta program akuisisi arsip statis.

Seperti diketahui, ANRI mempunyai koleksi 4 naskah Supersemar dari berbagai versi, masing-masing adalah 1 naskah versi Puspen TNI-AD, 1 naskah versi Akademi Kebangsaan, dan 2 naskah versi Sekretariat Negara.

Mantan Kepala ANRI, M. Asichin, sejak lama sudah menyatakan bahwa empat naskah Supersemar yang tersimpan di ANRI tersebut merupakan naskah yang tidak autentik alias palsu.

“Dari bantuan pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) Mabes Polri, semuanya dinyatakan belum ada yang orisinal, belum ada yang autentik. Jadi, dari segi historis, perlu dicari terus di mana Supersemar yang asli itu berada,” terang M. Asichin dalam Workshop Pengujian Autentikasi Arsip di Jakarta tujuh tahun yang lalu.

Upaya pencarian naskah asli Supersemar oleh ANRI ini menurut Multi Siswanti merupakan upaya yang sangat penting, sebab ia merupakan salah satu jalan untuk menguji keakuratan sejarah masa lalu bangsa ini.

Hal tersebut senada dengan pernyataan sejarawan muda, Bonnie Triyana dalam sebuah wawancara bersama Rappler tahun 2015 silam. Bonnie menyatakan bahwa pencarian naskah asli Supersemar adalah upaya penting untuk mengakhiri perdebatan terkait kekuasaan Soeharto yang tak pernah habis.

Yah, di Indonesia ini, hal-hal yang berhubungan dengan surat memang kerap rumit dan sentimentil. Lha gimana, bayangkan saja, di Indonesia ini, Surat Izin Mengemudi bentuknya kartu, sedangkan Kartu Keluarga malah bentuknya surat.

Baca juga:  Jokowi dan Prabowo Jenguk Ustaz Arifin Ilham: Antara Gimmick dan Ketulusan

Kurang rumit gimana, coba?

supersemar

BACA JUGA Kemerdekaan Indonesia Lahir dari Hoax dan artikel KILAS lainnya.