“Mas, katanya bulan depan kompleks perumahan sini mau ngadain nonton bareng film Pengkhianatan G 30 S/PKI, ya?” tanya Romlah kepada Karjo yang sedang klepas-klepus menikmati rokoknya dengan penghayatan yang paling paripurna, persis seperti adegan Aidit yang par-por-par-por menghembuskan asap rokok dari mulutnya di film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Karjo menoleh, “iya, kemarin pas ronda pada ngomongin soal rencana pemutaran film itu,” ujar Karjo, “lha kamu tahu dari mana?”

“Halah mas, apa sih yang ibu-ibu kompleks sini nggak tahu? Semua tembok adalah mata, dan semua jalanan adalah telinga,” jawab Romlah sambil berlalu ke dapur, mengambil singkong dan pisang rebus.

“Elok tenan jawabanmu, Lah. Sudah pinter main majas dan diksi sekarang,” kata Karjo memuji sekaligus menyindir Romlah. Yang disindir diam tidak menjawab.

Seperti diketahui, TNI memang menginstruksikan kepada seluruh jajarannya di daerah untuk mengajak masyarakat menonton bersama film Pengkhianatan G 30 S PKI. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menganggap pentingnya generasi muda sekarang untuk mengetahui sejarah Indonesia di masa lalu. Salah satunya soal sejarah Partai Komunis Indonesia yang dikemas dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.

Ia menganggap, pemutaran film tersebut akan bermanfaat bagi generasi muda untuk mengenal sejarah.

Instruksi itu pada akhirnya sampai juga di tangan para petinggi kabinet kompleks perumahan Ribut Abadi Residence, kompleks tempat Romlah dan Karjo tinggal.

Baca juga:  Menu Ramadan di Meja Makan Komunis

Di dapur, Romlah dengan cekatan mengangkat satu per satu singkong dan pisang dari dandang dan menaruhnya di atas piring. Tangannya benar-benar terampil, tipikal tangan ibu rumah tangga pilih tanding, bukan sekadar ibu rumah tangga karbitan. Pisang dan singkong di atas piring itu terlihat begitu menyelerakan, kemebul, ia seperti menantang mulut siapa pun untuk menyantapnya.

“Tapi katanya, itu film nggak bener ya, mas? Banyak bohongnya, apa betul?” Tanya Romlah sembari membawa singkong dan pisang rebus dan meletakkannya di meja kecil di samping kursi tempat Karjo duduk.

“Katanya sih begitu, namanya juga film propaganda.”

Karjo berhenti menghisap rokoknya yang sudah tandas sampai ke ujung filter, menekan puntung rokoknya di dasar asbak, tangannya beralih ke pisang rebus di atas piring. Diambilnya satu pisang dengan begitu hati-hati, sebab pisangnya masih terlihat begitu panas.

“Lha kalau banyak nggak benernya, kenapa masih tetep diputer, mas?”

“Halah, kamu ini kaya nggak tahu Indonesia saja, kalau orang atas sudah berkehendak, orang bawah bisa apa?”

“Trus, kamu mau ikut acara pemutaran film itu?”

“Mau nggak mau harus ikut, lha wong di kompleks sini yang mudeng cara nyetting proyektor ya cuma aku, bapak-bapak yang lain mentok cuma mudeng ngidupin tivi, ngganti baterai senter poskamling, sama masang kabel ampli.”

“Yah, berarti Mas ikut menjadi salah satu orang yang berperan menyebarkan propaganda, dong, Mas?”

Baca juga:  Jangan Terlalu Ngoyo Pak Gatot Nurmantyo

“Wah, mikirmu kok sampai sejauh itu, tho?”

“Lha kenyataannya begitu, kan?”

“Tapi tenang, Lah. Konon katanya, Pak Jokowi sudah usul agar film Pengkhianatan G 30 S/PKI dibikin ulang dan dibuat dengan gaya milenial. Yah, semacam Pengkhianatan G 30 S/PKI reborn, gitu deh. Kata pak Jokowi, akan lebih baik kalau ada versi yang paling baru, agar lebih kekinian, bisa masuk ke generasi-generasi milenial.”

“Trus?”

“Ya kita berharap, semoga di film remake-an ini, ceritanya lebih bener, propaganda dan dustanya semakin dikurangi. Selain itu, pemeran-pemeran tokohnya juga semoga dibikin lebih catchy, biar nggak terkesan sangar dan menyeramkan. Nanti, yang jadi Soeharto biar Agus Kuncoro atau Raditya Dika, yang jadi Soekarno biar Reza Rahadian, trus yang jadi Letkol Untung nanti si Kevin Aprilio, sedangkan yang jadi Aidit, biar Babe Cabita,” jelas Karjo. “Nanti, perannya juga dibikin lebih fleksibel dengan jaman sekarang,” lanjutnya.

“Fleksibel gimana, Mas?”

“Ya fleksibel, misalnya adegan Aidit merokok itu harus dihilangkan, trus nanti diganti jadi…”

“Jadi, apa?” sambar Romlah.

“Jadi Aidit nge-vape”

film g 30 s/pki

Komentar
Add Friend
No more articles