Turki vs Wales, Pertarungan Balas Dendam dan Nikmatnya Makan Kebab Selagi Hangat MOJOK.CO
Turki vs Wales, Pertarungan Balas Dendam dan Nikmatnya Makan Kebab Selagi Hangat MOJOK.CO

Turki vs Wales, Pertarungan Balas Dendam dan Nikmatnya Makan Kebab Selagi Panas

MOJOK.COEuro 2020 Grup A | Turki vs Wales | Turki, secara mengejutkan, kebobolan 3 gol ketika melawan Italia. Kini, Wales yang akan jadi pelampiasan.

Nuran Wibisono: “Cari mangsa balas dendam.”

Dihajar 3-0 oleh Italia di laga pertama tentu bikin kesal pemain Turki. Untung saja mereka bukan pemain kerupuk yang langsung melempem setelah kena siram satu kekalahan. Balas dendam dan dapat poin di laga kedua jelas jadi target mereka.

Kebetulan, lawan mereka di laga kali ini adalah negara yang seharusnya bisa diatasi. Di atas kertas, dua tim ini sama kuat. Jika Turki punya pertahanan tangguh, walau tetap saja bobol oleh Italia, Wales punya barisan pemain tengah dan sayap yang mengerikan, seperti Daniel James dan Gareth Bale.

Tapi Turki punya senjata lain: suporter. Jika laga kemarin Turki harus menjalani laga tandang ke Roma, kali ini mereka melakoni laga di Baku, Azerbaijan. Seperti pernah dibilang oleh mantan Presiden Azerbaijan, Heydar Aliyev, Turki dan Azerbaijan itu ibarat dua negara berbeda tapi satu bangsa.


Turki adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Azerbaijan. Berbatasan langsung, tak heran kalau dua negara ini memang punya hubungan erat. Ini jelas keuntungan besar bagi Turki yang akan main seperti di kandang sendiri.

Dan kita tahu: dukungan suporter itu sangat berarti. Maka julukan “pemain keduabelas” untuk suporter itu benar adanya. Diperkirakan akan ada 30.000 pendukung Turki yang hadir di Baku Olympic Stadium. Sang kapten, Burak Yilmaz bilang kalau dukungan suporter akan menjadi pembeda dalam laga ini.

Baca juga:  Prediksi PSIS Semarang vs PS TIRA: PSIS Buka Puasa dengan Kemenangan

Pemain Wales seperti Gareth Bale juga paham kalau datang ke Baku sama seperti masuk ke kandang macan. Pemain Wales bakal kena booo sepanjang pertandingan, yang kemungkinan besar bisa berpengaruh ke mental, terutama bagi pemain muda dengan mental mentah.

Meski begitu, Turki tidak akan hanya mengandalkan dukungan suporter. Lini pertahanan mereka yang dikomandoi Soyuncu tetap terbukti efektif, bahkan ketika melawan tim kuat seperti Italia, setidaknya sebelum menit 60. Di lapangan tengah, Okay Yokuslu bisa jadi jangkar kuat, energetik, efektif dalam bertahan maupun mengancam ketika menyerang. Sayap kanan kiri, Karaman dan Calhanoglu juga bisa bikin bek Wales kelimpungan.

Jadi, mempertimbangkan berbagai keunggulan yang dimiliki, Turki jelas berpeluang besar untuk menang. Apalagi Wales juga bukan tim yang tangguh-tangguh amat. Di kualifikasi, negaranya Ryan Giggs ini memasukkan 10 gol dan kemasukan 6 gol. Bukan catatan cemerlang. Bandingkan dengan Turki yang memasukkan 18 gol dan cuma kebobolan 3 gol saja. Kontras.

Maka hati-hatilah Wales. Turki sedang mencari target untuk balas dendam, dan kalian adalah mangsa empuk.

Wisnu Prasetya: “Wales harus makan kebab turki saat masih panas-panasnya.”

Daniel James keliatan marah-marah waktu diganti semenit setelah Wales menyamakan kedudukan di partai pertama Grup A Euro 2020 melawan Swiss. Mungkin dia merasa bisa jadi pahlawan yang bisa bikin menang tim. Sementara itu, Aaron Ramsey kelihatan cukup rileks setelah skor 1-1. Dia beberapa kali tersenyum, bahkan tertawa. Waktu diganti pun tersenyum. Kelihatan sikap mental yang sama sekali berbeda.

Baca juga:  Api Dendam Italia vs Spanyol yang Makin Berbahaya: Semifinal Rasa Final

Sikap mental yang mana yang akan menentukan apakah Wales bisa menggulung Turki atau tidak. Kalau mengikuti James yang tegang terus dan marah-marah ketika diganti padahal demi kepentingan tim, tentu mereka akan kesulitan.

Pendekatan ala Ramsey mesti dipakai. Pelan, rileks, fokus, tapi pasti. Apalagi buat Turki ini pertandingan menentukan. Kalah, berarti mesti segera bersiap-siap pulang. Sementara Wales, kalau kalah, mereka mesti bekerja keras di pertandingan terakhir berjumpa tim paling kuat di Grup A, Italia.

Karena itu Wales mesti memperlakukan Turki sebagaimana makanan khasnya, kebab. Kata Bapak Air Mata Indonesia, Nuran Wibisono, yang suka menulis kuliner, kebab Turki ini paling maknyus disantap ketika masih hangat. Jangan ditungu sampai dingin. Sebabnya, kalau dingin artinya rotinya akan semakin kenyal dan perlu usaha ekstra keras untuk mengunyah dan menghabiskannya. Membayangkan makan kebab yang sudah dingin ini saja bisa bikin ngilu gigi.

Nah, Ramsey, Bale dkk., jangan menunggu Turki membuat permainannya menjadi kebab yang sudah dingin. Wales mesti sat-set menyerang Turki di awal-awal pertandingan dan jangan biarkan mereka menemukan pola permainan terbaiknya.

Apalagi, di pertandingan ini, para pemain Turki tidak ada beban seperti ketika melawan Italia. Coba perhatikan, saya kira para pemain Turki yang bermain di Serie A seperti Hakan Calhanoglu dan Merih Demiral takut di-Ahn-Jung-Hwa-kan. Iya, Ahn Jung Hwan yang itu, yang setelah bikin gol menentukan melawan Italia langsung dipecat Perugia, klubnya saat itu. Bisa jadi Demiral ingat banget peristiwa tragis tersebut ketika bikin gol bunuh diri kemarin.

Baca juga:  Kalau Real Madrid, Barcelona, dan PSG Bergerak, Deadline Day Eropa Bakal Memanas

Kembali ke kebab, Wales mesti mempertimbangkan faktor-faktor tersebut. Sekali lagi, jangan sampai menunggu Turki bisa menjadi kebab dingin yang sulit dituntaskan sekali makan. Ingat ya Daniel James, jangan malu-maluin Manchester United, di saat kebab Turki masih panas-panasnya, saat itulah mereka enak dinikmati.

BACA JUGA Membayangkan Finlandia vs Rusia menjadi Panggung Perlawanan terhadap Kapitalis UEFA dan ulasan Euro 2020 lainnya.