• 148
    Shares

MOJOK.COBigmatch tim papan tengah antara Tottenham Hotspur vs Manchester United jadi salah satu yang ditunggu. Ditunggu mana yang paten mengisi papan tengah Liga Inggris.

Roni Tegar ada benarnya. Manchester United sudah jadi bagian dari sejarah masa lalu. Kapal rombeng yang kayunya cuma layak jadi bahan api unggun di Persami. Sementara itu, Nuran Wibisono juga benar. Tak akan ada yang mengingat tim segala “nyaris”, Tottenham Hotspur! Betul-betul bigmatch tim papan tengah yang proper!

Roni Tegar: Manchester United itu kapal rombeng, sudah jadi sejarah masa lalu!

Ibarat sebuah kapal, Manchester United itu cuma kapal setan yang sudah tua, yang layarnya sudah bolong-bolong. Nggak bisa buat ngebut. Cocoknya masuk bengkel kapal untuk dipreteli. Kayunya dipakai buat api unggun di Persami!

Dari zaman fans Setan gembar-gembor David Moyes itu The Chosen One, terus ganti sama Ryan Giggs yang cuma dua hari itu, lanjut ke Louis van Gaal yang hobinya buang pemain, sampai yang terakhir Jose Mourinho si mantan pegawai dishub yang hobinya markirin becak, eh pemain. Mau ganti nahkoda sebanyak apapun, tua ya tua, apalagi namanya OLD Trafford. Nggak bakal konsisten ngaruh ke kapalnya.

Memangnya Ole Ramlan Solskjaer itu siapa? Titisan Opa Fergie? Dia itu cuma kayak anak kemarin sore yang namanya nanjak gara-gara mantan pemain. Kalau bahasa sini: kenal orang dalam.

Jangankan mau lawan Tottenham Hotspur, lha wong kemarin piala kaleng lawan Reading tim nggak jelas saja keteteran. Ya untung saja menang. Kalau kalah, mau ganti nahkoda lagi?

Apalagi kalau lihat peringkat itu yaaa. Anyeeep. Ngakunya sih tim rival, tim sekota, tim besar, tapi kok selisih poinnya jauh banget sama Manchester City. Lho ya jelas mending Spurs. Tanpa bermaksud rendah hati, Spurs masih berani bertarung sebagai calon juara Liga Inggris.

Baca juga:  Liverpool Itu Lemah Syahwat, Kopites: Manchester United Bukan Klub, Tapi Tukang Parkir

Saya sih sebenarnya malah kasihan sama David De Gea. Kiper bagus tapi malah harus punya bek kayak Phil Jones yang mukanya lucu itu. Mau cleansheet aja susah.

Bandingkan saja dengan Hugo Lloris yang rata-rata cleansheet musim ini 8 dari 17 laga atau sekitar 47%. Daripada beli bek baru, mending resmikan saja Romelu Lukaku sebagai pendamping hidup Chris Smalling.

Jangan kira Tottenham Hotspur ngga punya mental juara. Musim ini pasti angkat setidaknya satu piala. Tapi memang susah kalau ngomong sama fans United, bahasnya sejarah mulu. Nggak sadar fakta kalau sekarang jatahnya Mauricio Pochettino lagi bangun Spurs layaknya Opa Fergie dulu bangun Emyu yang kini sudah kayak kapal rombeng.

Inget lho ya, di pertemuan terakhir, Spurs menang 3-0 di Old Trafford. Daripada jadi ahli sejarah, mending sini fans Emyu pindah Spurs aja!

Nuran Wibisono: Tak akan ada yang mengingat tim nyaris juara, Spurs!

Ngomong soal Tottenham Hotspur itu kayak judul film: Almost Famous. Bedanya, Hotspur layak dijuluki tim “Almost Champion”. Nyaris juara. Soal juara Liga Inggris, Hotspur nasibnya jauuuh lebih ngenes ketimbang tim nyaris juara lain: Liverpool. Bayangkan, Hotspur cuma pernah dua kali juara Liga Inggris, itu pun terakhir di musim 1960-1961.

Tak ada yang lebih ngenes ketimbang menjadi tim yang nyaris juara. Memang, banyak orang bilang proses itu yang utama, hasil nomor dua. Tapi perumpamaan itu kayaknya gak cocok kalau dipakai di kompetisi sepak bola. Bayangkan, 38 pertandingan ngotot dan berkeringat, eh cuma berakhir di posisi dua. Seorang bijak dulu pernah bilang: dalam perlombaan, tak ada yang ingat siapa juara duanya.

Tiga musim terakhir, Hotspur memang selalu jadi tim nyaris. Di musim 2015/2016, mereka nyaris ada di peringkat dua. Musim berikutnya, mereka nyaris jadi peringkat satu. Dan di musim 2017-2018, mereka kembali jadi tim nyaris juara dua lagi.

Baca juga:  Arsenal x Manchester United: Perlombaan Menjadi Pecundang Sejagat Raya

Yang lebih bikin sakit, penampilan mereka menjanjikan, seolah bakal jadi juara. Permainan mereka enak ditonton, banyak menyerang. Kalau di daftar line up ada Son Heung-min, Christian Eriksen, juga Harry Kane, rasanya seperti jaminan mutu mereka akan mencetak banyak gol. Permainan mereka cepat, eksplosif, bikin keder tim mana pun.

Lha bandingkan dengan Manchester United era Jose Mourinho. Boro-boro pesta gol, nyetak satu gol aja susah setengah mati, Cuk.

Sayangnya, United era Mourinho amat berbeda dengan era Ole Solskjaer. Usai Mou didepak, permainan MU jadi menarik. Mereka membuat penggemar lawas yang mutung, jadi kembali semangat nonton United.

Permainan United di bawah Solskajer dan arahan Mike Phelan seperti membawa kembali spirit United di era keemasan Fergie. Main menyerang, ngotot, dan militan. Mau menit 40 kek, mau menit 92 kek, main tetap kudu ngotot.

Dan jelang menghadapi United nanti, Pochettino pasti berkeringat dingin dan susah tidur. Bayangan militansi Pogba, kegesitan Martial, kelincahan Rashford, daya juang Young, dan tebalnya tembok De Gea, pasti bikin siapa pun susah tidur nyenyak. Ini bukan United-nya Mourinho, ini United-nya Solskjaer, bung!

Omong-omong soal Solskjaer, jadi ingat ke-nyaris-an yang pernah dialami United ketika menghadapi Bayern Munchen di 1999 silam. Bedanya, United nyaris kalah. Beda dengan Hotspur yang nyaris juara melulu.

Jadi, buat Hotspur dan para penggemarnya, kalian tetap harus sabar dan tuma’ninah. Harus paham bahwa nasib Hotspur adalah jadi tim yang nyaris juara, semenghibur apapun permainannya. Dan kalau kalian kalah, atau kalah telak nanti, monggo siapkan tagar #BringBackMou.

  • 148
    Shares


Loading...



No more articles