• 197
    Shares

MOJOK.CO – Nah, kali ini akan kita lihat tiga kemungkinan kenapa sosok Wakil Ketua DPR RI sekelas Fahri Hamzah sampai ditolak di Nusa Tenggara Timur?

Belakangan ini, saya sedang membiasakan diri untuk menggunakan tiga kemungkinan dalam menilai suatu hal yang sedang viral. Wah, wah, ini pasti gara-gara Pak Benny K. Harman yang kapan hari itu ngetwit soal Ratna Sarumpaet. Cuitan Pak Benny itu viral. Gara-garanya sederhana. Ketika Ratna Sarumpaet dikabarkan dianiaya, anggota DPR RI dari Partai Demokrat ini langsung bereaksi.

Menurutnya, ada tiga kemungkinan Presiden tidak menanggapi kasus Bu Ratna itu—katanya. Satu dari tiga kemungkinan itu salah besar dan bikin banyak orang menahan tawa tiada banding.

Wakil NTT di Senayan itu menyebut bahwa dirinya menduga yang menganiaya Ratna adalah preman-premannya Pak Jokowi. Ckckck. Bagaimana dua kemungkinan lainnya? Ah, nggak penting, nggak lebih ngawur atau lucu kok, jadi kayaknya nggak perlu dibahas.

Sejak cuitan yang viral di NTT itulah, saya jadi terbawa-bawa dengan pola “ada tiga kemungkinan itu”. Toh kalau tiga-tiganya salah, tinggal minta maaf. Iya to, Pak Benny? Selesai perkara. Orang lupa. Besok jadi wakil rakyat lagi. Ngetwit lagi. Hore.

Jadi begitu. Ketika dapat kabar bahwa sejumlah orang atas nama kelompok-kelompok tertentu menolak kedatangan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, di NTT. Mendengar kabar tersebut saya lantas berusaha menebak-tebak alasannya. Maka, saya pakai saja pola ada tiga kemungkinan ala Pak Benny itu.

Saya kan berpikir, toh nanti saya bisa minta maaf kalau ternyata keliru atau salah. Atau kalau kepepet, tinggal salahkan media yang membuat kabar itu viral dari sudut yang sempit. Yang membuat saya lupa melihat fakta sebenarnya di balik alasan penolakan itu. Hidup kadang seaman dan seajaib itu lho.

Jadi ceritanya, acara Gerakan Arah Baru Indonesia atau Garbi di NTT yang akan dimeriahkan Fahri Hamzah akhirnya harus betul-betul batal. Nah, ini dia tiga kemungkinan alasan Fahri Hamzah ditolak di NTT untuk menghadiri acara tersebut beberapa hari silam.

Pertama, mereka yang menolak, sesungguhnya sedang ingin menegur Indonesia.

Loh? Bijimana sih maksudnya? Jadi begini. Fahri Hamzah itu dari NTB. Selama ini, banyak orang-orang yang telah lulus di ujian Geografi masih sulit membedakan daerah-daerah di NTB dan NTT.

Baca juga:  Buntut Panjang Kasus Hoax Ratna, Fadli Zon Akan Laporkan Farhat Abbas

Paling sering adalah tentang Sumbawa dan Sumba. Yang benar, Sumbawa itu di NTB dan Sumba di NTT. Tetapi masih banyak yang salah mengucapkan selamat ketika Sumba dinobatkan sebagai pulau terindah di dunia oleh salah satu majalah di Jerman.

Bayangkan sakit hati kami ketika di dinding Facebook, Insta-story, dan Story WA beberapa orang menulis, “Bangga deh jadi orang Indonesia. Satu pulau di NTB jadi pulau terindah di dunia. Selamat yang Sumba.”

Tuhan e. Tolong kami ka.

Pernah juga ada yang keliru ketika berjuang agar Komodo masuk New7Wonders of Nature.

“Halo, Indonesia. Vote Komodo ya? Bantu agar hewan purba dari NTB ini jadi pemenang.”

Aduuuh, tega sekali mereka menulis begitu.

Hoiiiiii… NTT! Bukan NTB! Nilai rapor tinggi tetapi pengetahuan tentang daerah-daerah di Indonesia secekak ini, kalian butuh guru pembimbing yang baru itu. Asli!

Nah, Fahri Hamzah kan dari NTB. Terus dia mau ke NTT. Ya, sangat wajar ditolak dia. Yang menolaknya berpikir, jangan-jangan sebenarnya tujuan kunjungan Fahri Hamzah saat itu bukan ke NTT tetapi ke NTB.

Pencantuman nama NTT adalah karena masalah kekeliruan yang sudah sering terjadi itu. Jadi Fahri sebenarnya tidak ditolak, tetapi ingin dibenarkan tujuannya. Bukan ditolak, tapi sedang ditunjukkan tujuan yang sebenarnya. Kalau kesannya seperti mengusir, ya itu kan cuma perasaan Pak Fahri saja.

Kedua, yang menolak itu merasa bahwa kehadiran Fahri Hamzah sesungguhnya lebih dibutuhkan di NTB.

Nah, ini alasan yang mulia. Saudara-saudara kita di NTB baru saja dilanda bencana besar. Mereka membutuhkan kehadiran orang dalam setelah orang luar bernama Jokowi kembali ke Jakarta dan lanjut ke Palu.

Ketimbang Fahri menghibur kami di NTT dengan komentar-komentar ajaibnya di media massa atau di acara talk show televisi, bukankah dia lebih baik mengunjungi saudara-saudara kami di NTB?

Begitu pikir saudara-saudara saya yang menolak itu. Asalkan Fahri menjaga sikapnya di sana, pasti semua akan baik-baik saja. Ya karena lelucon di tengah masyarakat yang sedang berjuang keluar dari keterpurukan bisa bikin berabe.

So, in the name of respect, Fahri ditolak di NTT. Alasan ini sepintas masuk akal tetapi juga terlampau menjustifikasi. Apakah para penolak itu tahu bahwa Fahri tidak pernah mengunjungi NTB pascabencana? Atau, apakah para penolak itu yakin bahwa Fahri Hamzah dibutuhkan di NTB? Hayooo…

Ketiga, yang menolak itu merasa bahwa Fahri Hamzah dan pernyataan-pernyataannya selama ini telah mengganggu kenyamanan bertoleransi di Indonesia. Dan ternyata alasan yang sesungguhnya. Paling tidak, yang dimuat di media-media.

Baca juga:  Memburu Hantu Komunisme dengan Semangat Indonesiawi

“Sebagai anggota DPR RI, Fahri bukannya menyampaikan pesan yang mempersatukan bangsa, bukannya menunjukkan teladan dalam hal saling menghargai antara lembaga dan sesama anak bangsa, tapi seringkali mengeluarkan pernyataan provokatif.”

Begitu pernyataan salah seorang wakil kelompok yang menolak Fahri Hamzah sebagaimana ditulis sejumlah media yang dikutip oleh sejumlah media lain dan diteruskan oleh media-media lainnya sampai akhirnya kamu baca dari media ini.

Sama seperti alasan kedua tadi, yang ini juga sepintas masuk akal. Sepintas saja. Selebihnya terasa talalu lebe. Terlampau lebay. Kaka dong su aneh-aneh sa.

Sebagai politisi, Fahri Hamzah tentu berhak (dan memiliki ruang luas di media pengejar klik) untuk membuat pernyataan-pernyataan yang aneh atau ajaib-ajaib itu. Toh di NTT tidak banyak pengaruh seorang Fahri Hamzah dari komentar-komentarnya tersebut.

Memangnya, ada yang pernah dengar cerita kita orang NTT sampai baku hantam antaragama hanya karena pernyataan Fahri Hamzah? Atau ada info intelijen tentang potensi kerusuhan pascakunjungannya? Tak ada bukan?

NTT itu, Kawan, selain sebagai akronim dari Nusa Tenggara Timur, juga telah didengung-dengungkan sebagai Nusa Toleransi Tinggi. Rasanya aneh saja ketika sebagian besar anak muda lintas agama berparade di beberapa kota Manggarai – Flores -NTT mengampanyekan toleransi, kita malah menolak seseorang hanya karena pendapatnya sering berbeda dengan kita. Padahal kita sedang gencar promosi kunjungan ke NTT.

Fahri sedang berkunjung. Melakukan safari politik. Banyak simpatisannya akan berkumpul mendengar pidatonya. Di mana ada massa di situ ada jualan. Laku pula. Pragmatis? Iya. Pragmatis. Lagi musim begitu, bukan?

Maka cerita tentang (sebagian kelompok) kami di NTT yang mengusir Pak Fahri Hamzah itu sebenarnya juga bikin saya bingung sekaligus heran.

Yang rendah pemahaman toleransinya itu Fahri atau saya? Hmmm… Dari tiga kemungkinan di atas, kecenderungan terkuat yang saya pikirkan adalah yang pertama.

Sampai kapan orang-orang akan keliru bahwa Sumba itu bukan Sumbawa? Atau ada yang keliru juga tentang Sumba dan Sunda? Mamamia e. Kamu ini orang Indonesia atau agen rahasia Kim Jong Un heh?

  • 197
    Shares


Loading...



No more articles