MOJOK.COTanggal 22 Desember ini kami ingin mengingat dan mengucapkan selamat Hari Ibu kepada para perempuan yang karena pilihan, jalan hidup, dan peran dijalaninya, menjadi ibu yang bukan konsep tunggal.

Pertama-tama, selamat Hari Ibu untuk semua Ibu di Indonesia, dunia, dan luar angkasa kalau ada.

Semua perempuan adalah Ibu. Sebab, Hari Ibu 22 Desember sebenarnya merujuk pada Hari Perempuan. Menikah, belum menikah, tidak menikah, semua perempuan berhak merayakan dan mendapat ucapan di hari ini.

Karena biasanya Hari Ibu diucapkan suami dan anak kepada sang istri dan ibu, atas nama keadilan dan pelurusan sejarah, izinkan saya mengucapkan selamat pula kepada sembilan macam perempuan yang mungkin selama ini kerap merayakan Hari Ibu dalam sepi dan sunyi.

Pertama, selamat Hari Ibu untuk para ibu tiri.

Ibu tiri lahir dari pernikahan yang gagal. Tak ada bukti bahwa ibu tiri tak bisa sebaik ibu kandung. Tapi, sudah lama sekali bayangan memiliki ibu tiri menjadi momok bagi anak-anak.

Kepada para ibu tiri yang sudah menunaikan tugas keibuannya dengan baik dan tidak memilah kasih sayangnya untuk anak kandung, anak tiri, anak tetangga, maupun anak mana saja, selamat, Bu.

Kedua, selamat Hari Ibu untuk para ibu yang belum atau tidak memiliki anak.

Tidak punya anak bagi sebagian perempuan adalah pilihan. Bagi sebagian perempuan lain, adalah takdir.

Saya tak perlu lagi menjelaskan bagaimana masyarakat kita belum bisa selow menghadapi ibu yang belum ataupun tidak punya anak. Wong ibu yang sudah punya anak pun masih sering menerima tekanan sosial. Memang sulit hidup di komunitas yang suka terbalik-balik menjadikan masalah privat sebagai masalah publik, dan masalah publik sebagai masalah privat.

Tapi, Bu, Mbak, Kak, kitalah yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Tidak punya anak tak mengurangi sedikit pun keperempuanan kita.

Ketiga, selamat Hari Ibu untuk para ibu yang tak lagi mengasuh sendiri anaknya.

Ada perempuan-perempuan di luar sana yang harus berpisah dengan anaknya, entah karena perceraian, keadaan yang memaksa adopsi harus dilakukan, dan sengkarut hidup lainnya. Mungkin memang inilah pilihan terbaik, tapi mungkin rasa rindu masih sesekali datang dan menimbulkan kesedihan.

Baca juga:  Perempuan Bisa Lebih Jago daripada Detektif Conan Kalau Dia Mau

Keeempat, selamat Hari Ibu untuk para perempuan yang anaknya sudah tiada.

Ketika menuliskan ini, ingatan saya melayang kepada Ibu Maria Catarina Sumarsih dan ibu saya sendiri. Bagian ini menjadi sangat personal yang bisa jadi jangankan buat ibu-ibu dengan pengalaman ini, saya saja sangat emosional.

Ibu Sumarsih kehilangan putranya, Wawan, yang ditembak mati ketika Tragedi Semanggi I terjadi. Ibu saya kehilangan putra bungsunya yang baru berusia 1,5 tahun karena sakit.

Saya tak ingin mencoba sok tahu pada duka orang lain. Tapi saya bisa melihatnya: Kematian adalah duka paling menggigit. Dua ibu tadi, sejak kematian anak mereka, tak pernah sama lagi.

Semoga keadilan segera datang, Bu Sumarsih. Jangan sedih terus, Mak.

Kelima, selamat Hari Ibu untuk para ibu tunggal.

Seorang teman saya meninggal dunia di usia 25 karena sakit, meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar anak pertama mereka. Istrinya teman saya juga dan kami berteman di media sosial. Dari media sosiallah saya tahu, ketika ulang tahun almarhum, istrinya kadang mencurahkan kerinduannya.

Saya tak bisa membayangkan betapa berat perjuangan membesarkan anak seorang diri. Apalagi teman ini juga tak menikah kembali setelah kepergian suaminya. Saya akui, mereka adalah pejuang dan untuk mereka, sesungguhnya semua hari adalah Hari Ibu.

Keenam, selamat Hari Ibu untuk para perempuan transgender dan perempuan yang tidak bisa mencintai laki-laki.

Kalianlah yang tahu, melawan apa yang diyakini publik adalah perjuangan seumur hidup. Kalian telah bertahan setiap hari, menerima kabar buruk persekusi dari sana-sini. Dari kalian orang-orang belajar bahwa untuk memakai hak paling dasar pun, yakni punya cinta dan jati diri, ongkos yang diperlukan bisa sangat, sangat besar.

Ketujuh, Selamat Hari Ibu untuk para perempuan yang memilih untuk tidak menikah.

Baca juga:  Cukupkan Sindrom Ratu Lebah, Saatnya Perempuan Saling Menguatkan

Keputusan seberat ini tentu tak datang dari ruang kosong. Mungkin bagi kalian, pernikahan adalah konsep yang terlalu getir. Mungkin bagi kalian, tidak menikah membuat hidup lebih tertahankan.

Sekali lagi, kitalah yang menentukan kebagiaan diri kita sendiri, bukan cibiran tetangga, bukan negara, bukan sesiapa. Kepada kalian pula, selamat Hari Ibu, selamat Hari Perempuan.

Kedelapan, selamat Hari Ibu untuk semua perempuan yang belum menikah atau telah bercerai tanpa anak.

Apalagi ketika usia sudah sampai di angka yang menurut orang ideal untuk menikah, status ini memang tak sehoror menjadi perempuan transgender, misalnya, tetapi kadang ya menyulitkan juga. Mau tidak mau kita teringat kenangan itu, deretan hari raya dengan pertanyaan demi pertanyaan, “Kapan menikah?”

Kita sudah melihat sendiri, menikah adalah keputusan besar. Harus diambil dengan kepala dingin dan tak bisa sekadar bermodal cinta. Menikah harus dibekali kekuatan ekonomi dari diri kita sendiri agar rumah tangga menjadi relasi yang setara. Terima kasih sudah bersabar dan memantaskan diri sebaik-baiknya sebelum mengikat janji.

Dan kepada para perempuan yang telah bercerai: Bisa jadi, bisa jadi, itulah keputusan terbaik yang pernah kalian buat.

Kesembilan dan terakhir: Selamat Hari Ibu kepada para ibu dengan rumah tangga yang pasang surut; anak-anak yang kadang manis, kadang nakalnya nauzubillah; mertua yang syukur kalau pengertian, mohon bersabar kalau masih kolot; mau kalian bekerja atau jadi ibu rumah tangga penuh waktu; mau kalian melahirkan normal atau caesar; badannya masih kayak pas jaman gadis atau bobot sudah kebablasan 15 kilo; berjuang dengan trauma masa kecil dan sedang belajar tak mengulang rantai kekerasan; mengasuh anak sambil sekolah atau jualan.

Apa pun itu, ketika kalian sudah berusaha melakukan yang terbaik, kalian semua hebat. Selamat Hari Ibu ya.

BACA JUGA 5 Standar Ganda yang Bikin Perempuan Sambat, Laki-laki Mana Ngerti! atau esai PRIMA SULISTYA lainnya.