fbpx

MOJOK.CODoa tahun baru jelas bagus-bagus, resolusinya dahsyat, semangat perubahannya nauzubillah. Tapi, percayalah, baru juga sehari tahun baru dimulai, kesalahan-kesalahan sudah mulai dibuat.

Pertama, kita pasti masih kagok nulis tahun. Karena terbiasa nulis 2019, jadi lupa untuk nulis 2020. Mungkin karena saking banyaknya angka yang harus kita hafal di kehidupan sehari-hari, perkara sepele macam menulis tahun pun butuh pembiasaan sebulan sampai dua bulan.

Bahkan tidak cuma itu, saya sering menjumpai orang kepeleset menulis tahun lahir menjadi tahun saat ini. Misalnya lahir 11 Januari 1995, kok ya nulisnya 11 Januari 2019. Mau dibilang pikun, kok masih muda. Mau dibilang muda, kok ya pikun.

Soal kebiasaan ini membuat saya jadi ingat momen sewaktu masih kuliah. Di kampus saya, dua angka pertama nomor induk mahasiswa (NIM) menggunakan kode tahun. Sialnya, angkatan saya adalah angkatan tahun 2008 sehingga NIM kami dimulai dengan angka “08…”.

Makin sialan karena kode fakultas kami yang jadi angka ketiga adalah angka “2”. Jadilah NIM saya 082xxxxxxxx.

Yang terjadi kemudian, ketika masa daftar ulang, kemudian ospek, dan disusul awal-awal perkuliahan, banyak sekali mahasiswa pengguna kartu Telkomsel yang harusnya menulis NIM, tapi kepeleset jadi nulis nomor telepon.

Jadi, mulailah tahun baru dengan latihan mengingat bahwa satu dekade telah berlalu, ini sudah 2020, dan kamu sudah semakin tua untuk bertingkah cengengesan.

Baca juga:  Lima Resolusi Tahun Baru yang Paling Sering Gagal

Kedua, mengulur-ngulur waktu untuk memulai pelaksanaan resolusi dengan senjata “Besok aja lah”. Sebab, penguluran pertama akan berbuah penguluran kedua dan Juni nanti kamu ngetwit, “Nggak kerasa 2020 tinggal 6 bulan.” Ya apa-apa nggak bakal kerasa kalau tiap hari passion-nya rebahan mulu.

Kita harus sadar, dalam rencana atau resolusi, yang kita tulis adalah tujuan yang hendak dicapai dan isinya kerap kali terasa manis saat dibaca. Makanya, menuliskan rencana atau resolusi biasanya sangat menyenangkan.

Tapi, kan sudah hukum alam, untuk mendapatkan hal-hal indah, kerja-kerja yang harus dikerahkan adalah kebalikannya sama sekali. Mau punya badan atletis, harus berhenti makan nasi padang. Mau kaya, harus kerja 12 jam sehari. Mau jadi kayak Nia Ramadhani, dicaci maki teman-teman segrup WhatsApp. Mau nikah sama dia, harus berani mendapat risiko ditolak saat nembak.

Jangan-jangan, Kawan, hal pertama yang harus ditempatkan paling atas dalam daftar resolusimu adalah “Jangan menunda-nunda pekerjaan”.

Ketiga, belum-belum sudah jadi orang goblok yang ketika naik kendaraan melewati jalanan berair, malah ngebut. Ini bukan kesalahan-tahun-baru, perilaku sejenis lebih pantas disebut kegoblokan-tahun-baru.

Di musim hujan dan banjir seperti ini, segala umpatan dan makian pantas dilayangkan kepada pemerintah, tukang buang sampah sembarangan, dan pengendara tipe tadi. Dia pikir cuma dia orang paling terburu-buru di dunia ini? Kok bisa-bisanya melintasi jalanan basah tanpa peduli bahwa sepeda motor atau mobilnya akan mencipratkan air ke kanan kiri.

Baca juga:  Bijak Memilih Kalender, Bekal Menjalani 2017

Bagi semua pengendara motor, sepeda, dan pejalan kaki yang pernah basah kuyup oleh air comberan karena kegoblokan model ini, Mojok bersama kalian. Dan jika Anda adalah salah satu orang yang suka motoran pating waton kayak gitu, sudah, setop aja baca Mojok. Kami terlalu malu punya pembaca kayak kalian.

BACA JUGA Lima Jenis Orang Goblok yang Bisa Anda Temui saat Antre di SPBU atau artikel sambat lainnya di POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles