MOJOK.COSelain di dan pun, penulisan ke juga suka bikin bingung perkara disambung atau dipisahnya. Sobat PUEBI pasti udah tahu jawabannya.

Satu lagi pelajaran bahwa dunia ini nggak hitam-putih. Penulisan ke adalah contoh bahwa sesuatu bisa dipisah dan disambung sekaligus.

Kalau yang sedang kamu tulis adalah kata “kesempatan” atau “jangan kentut sembarangan, Ega”, jelas dong penulisan ke harus disambung. Iya, aku tahu kamu udah siap-siap ngetik komen “Kembalikan kuota guaaa!”, tapi sek tho, ini namanya sedang membangun logika.

Kalau kalian udah tahu logika bahwa di, pun, dan ke itu merupakan bagian dari sebuah kata, alias bukan kata tersendiri, ya jelas kudu digabung.

Maksudku gini. Di pada diambil kan sebenernya imbuhan yang ngasih tanda bahwa si ambil itu kata pasif. Kalau di dibuang, ambil menjadi kata aktif. Contoh lain-lainnya kayak gini.

Disikat (pasif), menyikat (aktif)
Disuruh (pasif), menyuruh (aktif)
Dirampok (pasif), membohongi (aktif)

Jadi jelas ya, kenapa ada orang yang rese bahwa beda penulisan dikontrakkan dan di kontrakan itu bisa bikin artinya beda banget.

Dikontrakkan, satu kata (kata kerja pasif, sesuatu itu dijadikan sebagai objek kontrak.)
Di kontrakan, dua kata (oh, jadi dia tuh sedang ada di tempat tinggal sewaannya.)

Sama kayak penulisan pun. Kata ini akan dipisah alias berdiri sendiri kalau kata ini bisa ditukarkan dengan saja.

Baca juga:  Koma Serial alias Oxford Comma: Kaidah Tanda Baca yang Mengajari Arti Perpisahan

Siapa pun —> siapa saja —> oke fiks, pun-nya dipisah.
Apa pun —> apa saja —> idem.
Di mana pun —> di mana saja —> yoih.

Logika yang sama berlaku untuk penulisan ke. Ada tiga fungsi kata ke yang harus dibedakan satu sama lain:

(1) Ke– sebagai awalan yang disertai akhiran -an sehingga ditulis tersambung. Konfiks ini (konfiks: awalan dan akhiran yang ditambahkan sekaligus).

(2) Ke sebagai kata depan/preposisi dan karena itu ditulis terpisah. Contohnya, ke sana.

(3) Ke yang diikuti angka.

Dalam fungsi yang ketiga, ke yang diikuti angka, ada dua cara menuliskannya.

(1) Jika diikuti penulisan angka, diberi setrip. Contoh: Presiden ke-7. Anak ke-3. Perubahan ke-2.

(2) Jika angka itu ditulis dalam huruf, penulisannya digabung. Contoh: Presiden ketujuh. Anak ketiga. Perubahan kedua. Kesepuluh orang itu.

Tapi lain cerita ketika kasusnya adalah “Kamu pergi ke dua rumah itu” atau “Kamu pergi ke 2 rumah itu”. Penulisannya dipisah karena ada hubungannya dengan logika DM (diterangkan-menerangkan). Soal ini, NKCTDMMD aja lah ya.

Jadi sampai sini jelas, kita punya dua pilihan untuk menuliskan “Perang Dunia ke-2” atau “Perang Dunia Kedua”. Kenapa huruf “K” dalam “ke-2” ditulis kecil, itu juga urusan NKCTHK. Yang perlu jadi catatan, ketika jumlah ditulis dalam angka Romawi, ke jadi nggak penting lagi sehingga adanya “Perang Dunia II”. Melafalkannya ialah dengan “pe-rang du-ni-a ke-du-a”, bukan “pe-rang du-ni-a i-i”.

Baca juga:  Cara Menulis Judul: Pakai Huruf Kapital Semua atau Nggak, sih?

Semoga cukup mudah untuk memahami logikanya. Jika pelan-pelan sudah bisa menguasai perkara ini, memahami kenapa kadang apalagi, tapi di lain waktu jadi apa lagi juga akan terasa gampang.

BACA JUGA Penulisan Di dan Pun: Harusnya Dipisah atau Digabung, Sih? dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Langsung disini, eeeh, di sini.