Bergenerasi-generasi kita menyaksikan pemandangan yang familier pada sore-sore di jalanan kompleks perumahan, lapangan kampung, dan gang-gang padat penduduk. Saking familiernya sampai terasa karikatural ketika melihat laki-laki atau perempuan dengan mangkuk dan sendok di tangannya mengejar-ngejar balita yang sambil bermain, sesekali dipaksa membuka mulutnya dengan kata-kata yang sama.

“Aaak dulu, sini.”

Dan si balita membuka mulutnya, sambil terus bermain. Sesuapan nasi dengan suwiran ayam atau kuah sup atau telur atau tahu atau tempe masuk ke mulut.

Balita susah diajak makan adalah masalah peradaban manusia yang mungkin sudah terjadi sejak Haji Ayam Wuruk masih berkuasa. Memberi makan anak menjadi ritual panjang bin merepotkan. Kadang, mereka bermasalah dengan menu. Cuma mau makan nasi lauk garam. Atau, kalau bukan kombinasi nasi-kecap-kerupuk, mereka tidak akan makan. Yang paling lumrah, sayur menjadi musuh utama mereka (rasanya ini bisa ditemukan di belahan dunia mana pun pada zaman apa pun).

Jika kemudian ada anak yang herbivor alias tidak rewel makan apa saja, kadang mereka tetap memperumit persoalan makan yang sesungguhnya sederhana itu. Misal dengan menetapkan syarat, makannya harus sambil main. Acara makan malah menjadi agenda jogging bagi orang tua.

Problem tersulit ketika balita sulit makan ialah karena ia balita. Orang tua tidak bisa mengakalinya dengan mengajak debat, misalnya, yang apabila si anak tidak bisa memberi alasan logis, maka pilihannya harus makan. Juga tidak ada ceritanya balita jadi tunduk dengan ditakut-takuti “Kalau nggak makan nasinya nanti nangis” atau “Orang di Afrika kelaparan kok kamu malah buang-buang nasi”. Bagi mereka, tidak ya tidak. Mereka toh selalu benar. Sebab, kalau mereka salah, mereka akan mengeluarkan jurus mereka yang klise, klasik, sekaligus ampuh itu. Menangis.

Baiklah, skor untuk anak 1, orang tua 0. Selama skor itu tidak berubah, pemandangannya tidak berubah. Orang tua menyuapi anak makan pagi dan atau sore sambil: 1. jalan-jalan, 2. lari-lari, 3. naik sepeda, 4. naik mobil kalau orang tuanya punya, 5. main sama balita lain, 6. digendong, dan seterusnya.

Di kota-kota tertentu di Pulau Jawa dan Sumatra, daftar itu ditambah dengan satu hal lagi: makan sambil lihat kereta api.

Di sepenggal jalan di Yogyakarta, sepetak tanah sempit selalu ramai sejak sore hari karena alasan yang terakhir ini.

***

Seminggu sekali Davin, 5 tahun, mengunjungi petak sempit itu. Letaknya persis di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya padat merayap serta bersebelahan dengan Stasiun Lempuyangan. Lebih ramai lagi jika palang kereta api yang persis ada di titik itu menutup, tanda ada kereta akan melintas.

Bersama Feri dan Leni, orang tuanya, Davin ke sana untuk disuapi makan sambil menonton kereta api lewat. Davin mungkin tidak tahu bahwa sejak ratusan tahun lalu kereta api lewat ya selalu begitu-begitu saja. Lurus menyusuri rel, kadang memberi klaksonnya yang khas, didahului lokomotif dan disusul gerbong penumpang, barang, maupun tangki minyak. Tidak pernah, misalnya, kereta lewat sembari memberi atraksi standing atau mencoba drifting sambil mengebulkan asap banyak-banyak. Kereta lewat selalu begitu-begitu saja, tapi Davin tidak pernah bosan.

BACA JUGA:  Ini Dia Rahasia Indomie Burjo Lebih Enak Daripada Bikinan Sendiri

Tidak cuma Davin yang menonton kereta sambil makan di sana. Petak sempit itu selalu ramai dengan bocah-bocah yang diantar orang tuanya. Di antara jeda menunggu kereta selanjutnya lewat, mereka juga bisa bermain hal lain. Sebab, di sana, mengiringi kedatangan anak-anak itu sebagaimana mereka selalu hadir di sekitar pesta pernikahan, sekolah, posyandu, kantor desa, dan lokasi mana saja yang menjanjikan kemunculan anak-anak dalam jumlah besar, berjejer: tukang odong-odong, penyedia permainan memancing dengan kolam kecil dan ikan-ikan plastiknya, tukang siomay, tukang telur gulung, tukang bakso, penjual cilok, penjual leker, hingga angkringan. Kurang tukang balon dan tukang jual obat-bonus-sulap saja.

Malam itu Davin sedang naik mainan musikal bernama odong-odong. Sekali naik lima ribu. Harusnya dijatah waktu lima belas menit, tapi yang menjaga membiarkan anak-anak naik sepuas mereka. Ibunya duduk tak jauh dari Davin, menjaga anak itu sembari mengobrol dengan bapaknya.

Odong-odong yang dinaiki Davin bukan jenis sepeda yang naik turun dan tukangnya harus mengayuh engkol supaya odong-odong bergerak dan lagu mengalun. Ia naik odong-odong berupa kereta kecil-kecil yang dipasang di atas lintasan rel elips. Ia tampak menikmati meskipun kereta-kereta itu cuma berputar-putar diiringi musik yang menyuarakan lagu anak-anak dari era ketika saya masih kecil.

Seseorang di sebelah yang tahu saya mengamati bocah-bocah di atas odong-odong itu nyeletuk, “Mereka tuh nggak bosan ya ngulang-ngulang hal yang sama.”

Benar juga, batin saya. Banyak sekali kegiatan anak-anak yang sifatnya pengulangan. Lari-lari, loncat-loncat, main ayunan, main perosotan, cilukba, dst. Milan Kundera, novelis Prancis terkenal itu, di Unbearable Lightness of Being bilang,  pengulangan membuat makna tak ada lagi. Mungkin karena ia tak punya anak.

Bocah-bocah itu senang-senang saja mengulang-ngulang.

Seorang bocah lain duduk di odong-odong yang sama dengan Davin. Rautnya lucu dan ia memakai topi berbentuk kepala singa. Kelepak topi yang menggantung di sisi kepalanya mengingatkan saya kepada Holden Caulfield, tokoh novel jenaka The Catcher in the Rye. Sembari kereta beputar, ia duduk sambil menaikkan kakinya di jendela keretanya. Like a boss.

Mungkin supaya tidak bosan-bosan amat, salah seorang anak lain di odong-odong itu mendadak menangis. Davin sendiri sesekali memanggil ibunya hanya untuk mencari perhatian.

BACA JUGA:  Mengasihani Orang yang Tidak Tahu bahwa Dia Tidak Tahu

Di sebelah odong-odong yang tukangnya sibuk menyambi berjualan bakso, sebuah angkringan dipenuhi pembeli. Yang datang para orang tua yang memesan es teh manis atau makan gorengan sambil memantau anak mereka bermain.

Saya duduk di angkringan itu sambil menyimak lagu dari pelantam odong-odong. Di sebelah saya duduk Andi, bapak seorang bocah bernama Rafael. Anak itu tidak naik odong-odong, ia sedang menunggu kereta lewat.

Ketika bapaknya tengah menghirup es teh, Rafael menarik tangannya. Minta diantar ke pagar tinggi yang membatasi petak sempit itu dengan rel. Sirene gardu penjaga pintu kereta api berbunyi. Kereta lewat dengan suara berisiknya yang mengingatkan saya pada rumah nenek yang berdekatan dengan pintu rel. Dulu, setiap sirene meraung, saya lari ke teras untuk melihat ular besi itu lewat.

Anak-anak dulu dan sekarang sama saja.

***

Feri dan Leni tidak merasa repot membawa Davin pelesir di petak sempit pinggir stasiun itu. Toh lokasinya dekat dari rumah mereka di bilangan Mangkubumi. Selain murah, si anak juga senang. Jika butuh opsi lain, mereka akan main ke Taman Pintar di Malioboro: wahana hiburan dan edukasi anak yang terkenal di Yogyakarta.

Andi, bapak Rafael, juga seminggu sekali bersama anaknya ke petak sempit itu. Rafael memang suka sekali dengan kereta. Kadang mereka naik kereta Prambanan Ekspres ke Solo, kemudian pulang lagi. Ke tempat itu ia selalu datang malam, ketika hari sudah tidak panas. Wahana permainan anak di mal adalah alternatif lain kalau mereka sedang butuh variasi.

Di kota yang sejak 2013 lalu dilanda demam pembangunan hotel dan mal ini, tak ada banyak ruang publik yang memadai. Selain Alun-Alun Utara dan Selatan yang berdebu, tidak tersedia taman umum yang gratis. Malioboro penuh wisatawan dan muda-mudi menongkrong sehingga tak cocok untuk anak-anak. Petak sempit itu bersama kerlip meriah odong-odong dan wangi bau telur gulung dan siomaynya tidak sengaja menciptakan tempat piknik yang seru.

Petak sempit ini memang menarik. Letaknya di bawah jalan layang Lempuyangan yang ikonik karena muralnya, dibuat pada 2007 dan 2008 oleh Jogja Mural Forum yang dimotori seniman rupa Samuel Indratma. Jika ingin mencari lokasi wisata transportasi paling lengkap di Yogya, datanglah kemari. Berdiri saja dua puluh menit di sana, semua jenis alat transportasi kecuali laut bisa dilihat: mulai dari motor, mobil, bus, becak, kereta api, sampai pesawat yang terbang rendah karena tak sampai sepuluh kilometer dari sana ada Bandara Adisutjipto. Benar-benar tempat yang artsy, musikal, menghibur, dan transportatif. Surga kecil bagi jiwa-jiwa yang pantang makan sebelum jalan-jalan.

Komentar
Add Friend
No more articles